Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Orang Tua Reni Datang


__ADS_3

Sehari setelah kelahiran Bre, akhirnya orang tua Reni datang juga. Papa dan Mamanya terlihat tidak nyaman dengan kondisi klinik tempat putrinya bersalin, tapi tak bisa berkata-kata sebab inilah risiko yang harus dihadapi Reni sebab sebelumnya aku sudah mewanti-wanti namun tak ada satupun yang mau bergerak.


"Nak Ben, ini, apa tidak bisa kliniknya dikosongkan saja." kata Mamanya Reni.


"Dikosongkan bagaimana Tante?" aku tak paham arah pembicaraannya.


"Begini, ini kan kamarnya sangat sempit sekali. Terus, diluar juga berisik karena banyak pasien. Tante yakin Reni tidak nyaman, padahal ia masih harus istirahat dua harian lagi di sini. Nah, maksudnya Tante, demi kenyamanan Reni dan Bre, bagaimana kalau kita sewa saja klinik ini dua hari kedepan. Bayar dua kali lipat dari income harian mereka agar tak ada pasien lain selain Reni dan bayinya." ucap mamanya Reni.


"Hah?" aku melongo. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Tante Resi sebab ia sendiri adalah dokter. Harusnya ia tahu bagaimana nasib pasien jika sebuah klinik yang notabene satu-satunya di daerah tersebut di tutup. Kemana mereka akan berobat? Dimana rasa kemanusiaannya? Padahal ia sudah disumpah untuk mengabdikan dirinya.


Kalau yang dibahas kenyamanan untuk putri dan cucunya. Reni sudah mendapatkan satu ruangan meski kecil tapi lebih dari cukup. Ini di kampung terpencil, harusnya paham kondisi di sini.


Mendengarnya aku hanya diam saja. Menganggap angin lalu. Om dan Tante orang tua Reni sepertinya paham aku tak suka dengan permintaan itu, makanya mereka buru-buru meralat.


"Eh, Tante cuma berandai-andai saja. Tidak serius kok Ben." kata Tante Resi, mencoba meralat permintaannya tadi. "Oh ya, kalau penginapan di sini dimana?"


"Nggak ada Tante. Satu-satunya hanya mes, dan saya cuma dapat jatah satu kamar. Kalau om bisa ikut tidur di sana sama saya. Tapi kalau Tante, lebih baik di sini bersama Reni." kataku.


Suami istri itu saling pandang. Tante Resi hanya tersenyum kecut, ketika suaminya minta izin ke mes, istrinya langsung menghadang dengan alasan nanti tak ada yang gantian menjaga kalau bayinya rewel.


"Sekarang paham kan, kenapa aku minta jemput Reni." kataku, dalam hati.


Karena orang tua Reni sudah datang, aku memutuskan kembali ke mes untuk istirahat. Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan. Aku hanya sendiri sebab ayahnya Reni tidak diizinkan oleh Tante Resi. Sebenarnya aku lebih nyaman begitu sebab aku dan om Bili juga tidak terlalu dekat. Kami juga bukan menantu dan mertua beneran, hanya sebatas status di buku nikah saja.


***


Di depan kamar-kamar karyawan lain, aku berpapasan dengan Yohana. Ia tengah sibuk menyapu teras.


"Jangan lupa istirahat Han," kataku


"Ya Ben. Kamu juga. Pasti lelah menunggui mbak Reni dan bayi kalian." kata Yohana yang membuatku ingin tertawa sebab ia menyangka bahwa Bre anakku. Tapi aku tak bisa menjelaskan sebab sudah janji untuk tidak membahas ini dengan siapapun demi nama baik Reni dan keluarganya meski sebenarnya itu bukan salahnya tapi ia tetap menganggap itu aib. "Sekarang siapa yang menjaga mbak Reni?"


"Orang tuanya. Tadi baru datang."


"Oh. Kamu nggak nemanin mereka?"


"Nggak usah. Lagian di sana sudah sesak."

__ADS_1


"Oh."


Entah kenapa, rasanya malas sekali meninggalkan Yohana. Aku ingin bersama dengannya lebih lama lagi. Padahal tadi rasanya sudah sangat mengantuk. Lelah semalaman begadang menunggui bayi.


"Han," aku memanggilnya.


"Ya?"


"Apa kamu bahagia?" pertanyaan itu lagi-lagi menggelitukku.


Ia tersenyum. "Kenapa Ben? Apa aku terlihat semenyedihkan itu?"


"Ya. Kamu pasti lelah melakoni ini semua."


"Sok tahu!"


Aku tertawa.


"Lagian kalau aku tak bahagia, kamu mau apa?"


"Mau aku culik. Aku bawa pergi."


"Kenapa? kamu nggak mau? Di sana juga sama melelahkannya ya Han?"


"Ben,"


"Ya?"


Ia diam. Menatapku lama.


"Aku akan culik ke tempat lain agar kamu merasakan bahagia. Kamu kan belum pernah bahagia, Han."


Kini ia tertawa. "Sok tahu lagi."


"Han,"


"Ya?"

__ADS_1


"Maafkan aku,"


"Kenapa?"


"Harusnya aku menerima tawaran untuk menikahi kamu."


Senyum di wajah Yohana hilang. Ia diam, seperti patung memandangku.


Ahh, kenapa harus bicara seperti itu? Tapi aku benar-benar tidak tahan melihatnya semenderita ini. Andai saja ia berinisiatif untuk bercerai, aku akan bahagia sekali. Ya Tuhan, maafkan jika aku mengharapkan jandanya. Maafkan jika aku berharap hal yang mungkin buruk untuknya dan begitu sombong mengira bisa membahagiakannya.


"Ben, aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu. Hari ini harus buru-buru pulang karena Upik dan Puti sedang di kosanku. Mereka sedang tidak enak badan, tak ada yang menunggui." kata Yohana. Ia segera berlalu, entah alasannya benar atau cuma untuk menghindari aku.


Han, maafkan aku yang lancang ini ....


***


Data-data terakhir sudah terkirim ke Genta. Sedikit terlambat karena sinyal di mes tidak terlalu bagus. Tapi cuma di sini tempat yang aman sebab kalau di kantor aku khawatir akan ada yang melihatnya karena sekarang CCTV dimana-mana.


[Sudah semuanya ya Gen. Aku off dulu. Kalau ada apa-apa WA saja.] kataku, mengirimkan pesan ke email-nya.


[Oke. Thanks Ben.] balas Genta.


Laptop ku matikan. Rencananya mau istirahat, tapi tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Semula aku mengira itu orang tuanya Reni, makanya ku abaikan saja, tapi ketika mendengar suara Yohana, makanya aku buru-buru bangkit.


Benar saja, Yohana berdiri di depan pintu kamar. Ia tampak kebingungan, matanya sembab bekas menangis.


"Ben, maaf kalau aku mengganggu. Tapi aku sudah nggak tahu harus minta tolong pada siapa lagi." ia bicara gemetaran.


"Ada apa, Han? Katakanlah. Jangan ragu-ragu, aku pasti akan menolong." kataku.


"Ben, Puti ... dia muntah-muntah, makanya aku bawa ke klinik, tapi dia tidak bisa pulang karena aku tak punya uang untuk membayar biaya berobat. Aku sudah menghubungi ayahnya tapi tak ada tanggapan..Begitu juga dengan ibunya. Sekarang aku harus segera membawanya pulang sebab Upik pun sama kondisinya, sedang sakit dan ditinggal sendirian." Yohana menjelaskan kondisi kedua anak sambungnya itu.


Aku yang bukan siapa-siapa Upik dan Puti benar-benar geregetan. Tak perlu banyak bicara, aku langsung lari ke klinik yang memang tak terlalu jauh diikuti Yohana.


Di klinik, Puti sedang menangis sebab ia takut ditinggal sendirian. Saat melihat Yohana ia langsung memeluknya.


"Kamu jaga Puti sebentar ya. Aku selesaikan administrasinya." kataku, lalu bergegas membayarnya.

__ADS_1


"Totalnya delapan puluh ribu." kata kasir.


"Apa? Delapan puluh ribu? Hanya segitu dan kalian menahan anak itu?" aku melotot, kesal, kenapa demi uang segitu sampai menahan pasien. Kenapa tidak diberikan kelonggaran saja?


__ADS_2