
Aku dan Yohana baru akan pergi namun tiba-tiba pak Hadi dan Bu Hadi melarang. Mereka mengingatkan akan perjanjian yang sudah dibuat, Yohana tak boleh pergi setidaknya sampai memberikan keturunan untuk putra Mereka. Pemuda raksasa itu mengalami kelainan genetik, hanya tubuhnya yang tumbuh dua kali lipat dari manusia normal namun otaknya tidak, makanya ia bersikap seperti anak kecil. Yang membuatku tak habis pikir, kenapa orang tuanya harus memaksakan diri untuk mendapatkan cucu dari anak yang bahkan tentang dirinya sendiri saja ia seperti anak usia lima tahunan. Itu sama saja dengan mempermainkan kehidupan orang lain.
"Kamu nggak bisa pergi begitu saja setelah apa yang kami berikan pada abangmu. Ingat itu Yohana. Kalau kamu mau pergi juga kembalikan dulu semuanya atau ...." Bu Hadi mengancam.
"Atau apa? Ibu akan melaporkan pada polisi? Oh, kebetulan sekali, saya sudah memanggil polisi untuk jaga-jaga kalau ada pelanggaran hukum. Lagian, kalau ada apa-apa, yang harusnya dilaporkan adalah Bandaro, bukan Yohana. Ia bukan hanya menipu kalian tapi juga menjahati Yohana." Kataku. "Lagipula bagaimana bapak dan ibu mau menikahkan anak kalian dengan Yohana padahal kalian tahu anak kalian berkebutuhan khusus yang memang tak akan mengerti dengan yang namanya pernikahan, ia tak akan paham dengan yang namanya pernikahan. Ini namanya menjebak Yohana, kalian lah yang akan kena pasal. Perbuatan kalian sudah sangat keterlaluan" Aku bicara dengan percaya diri sebab yakin merekalah yang melanggar hukum, bukan Yohana. "Jadi, masih mau menghalangi kami?" Kataku.
Tak ada jawaban. Sepasang suami istri itu memucat, sementara Abang Tiri Yohana yang hendak kabur segera diamankan oleh bawahannya pak Joko. Kedua orang tua angkat Yohana hanya diam saja, sementara itu aku menyuruh Yohana segera berganti pakaian dan membawa pakaiannya agar kami bisa segera meninggalkan tempat ini.
Sambil menunggu Yohana, aku mengingatjan mereka agar bisa menerima kenyataan. Semua orang tua pasti ingin terbaik untuk anaknya. Apalagi keluarga pak Hadi terpandang, mereka menginginkan keturunan padahal putra mereka hanya satu dan keadaannya seperti itu. Ini adalah bagian takdir yang harus mereka terima, bukannya menjebak perempuan polos untuk memenuhi kehendak mereka. Lagipula ada banyak cara untuk membahagiakan anak mereka, tak hanya dengan pernikahan yang bahkan ia gak paham.
__ADS_1
"Aku sudah siap, Ben." Kata Yohana sambil menjinjing tasnya yang berukuran sedang.
"Baiklah, kami pamit dulu. Mohon dimaafkan segala salah kami." Kataku. Kedatanganku ke sini memang bertujuan untuk membawa Yohana pulang, bukan mencari masalah, makanya aku pun pergi dengan cara baik-baik.
"Ben, tunggu dulu." Kata Yohana. Ia menyampaikan tentang kegelisahan hatinya. Kalau kami kembali ke Depok, lalu bagaimana dengan Upik dan Puti. Dua anak perempuan itu akan kembali ditelantarkan eh ayah dan ibu mereka. Yohana mau menikah dengan laki-laki itu juga karena ancaman ayahnya yang akan menjual Upik kalau Yohana menolak. "Aku nggak mau terjadi sesuatu pada kedua anak itu Ben. Meski mereka bukan keponakan kandungku, tapi aku sudah sangat menyayangi mereka. Dahulu, saat pertama bertemu kedua anak itu, mereka dalam keadaan kurus dan kelaparan. Bayangkan, dua hari tak makan apa-apa, sehingga tubuhnya lemah dihinggapi lalat." Yohana menangis. "Ben, bisakah kita melakukan sesuatu untuk anak-anak itu?" Tanya Yohana.
Aku meminta waktu sebentar untuk bicara dengan ayah Upik dan Puti sebelum lelaki itu dibawa ke kantor polisi.
"Ampun bang, maafkan aku bang. Aku akan bertaubat dan kembali mengasuh anak-anak dengan baik. Aku akan bekerja, tidak lagi memperalat mereka." Janji Bandaro.
__ADS_1
Aku menggeleng, tak mau menerima janji itu. Saat ini posisinya terjepit, ia akan dimasukkan ke dalam. Penjara atas kejahatan yang dilakukannya. Memperdagangkan Yohana. Ia tahu, dua putrinya bisa jadi tameng, makanya ia kembali menjadikan mereka alasan agar dibebaskan. Lelaki ini sudah pernah berhadapan denganku dua kali dengan situasi seperti ini dan ia juga menyatakan hal yang sama. Akan bertaubat dan bertanggung jawab pada anak-anaknya, tapi kenyataannya, taubatnya hanya seperti taubat sambalado seperti yang dikatakan orang-orang, hanya saat itu saja, setelah itu lupa.
"Bang, tolonglah bang, kasihan Upik dan Puti, mereka berdua butuh ayahnya." Kata Bandaro yang hampir menangis mengingat ia akan dipenjara.
Entah ini dramanya atau ia sungguh-sungguh, tapi aku tetap tak peduli. Aku masih berpikir agar bisa mendapatkan hak asuh Upik dan Puti agar masa depan anak itu lebih baik lagi. Meski kehidupan yang ku jalani belum jelas, namun aku bertekad akan bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang terbaik bagi orang-orang yang jadi tanggunganku.
"Bang, tolong bang. Kasihan juga istri saya kalau saya dipenjara. Ia sedang hamil, bang. Bisa-bisa ia mengugurkan bayi di kandungannya atau menjual bayi kami seperti yang dahulu ia lakukan bang kalau aku gak mengawasinya." Kata Bandaro.
Sial. Istrinya akan punya anak lagi. Kenapa mereka berdua begitu egois. Menghidupi dua anak saja mereka kesulitan sekarang mau ditambah satu lagi. Aku benar-benar pusing dibuatnya. Masalah ini sangat rumit. Sementara waktuku tak banyak. Bagaimana ini?
__ADS_1
"Kalian berdua benar-benar keterlaluan. Punya anak dalam kondisi seperti ini. Sudah jelas-jelas ekonomi kalian masih sulit, kamu gak mau berusaha sama sekali, kerjaan kalian hanya ke klub malam dan mabuk- mabukan, lalu bagaimana kamu mau bertanggung jawab pada mereka.semua?" Aku sedikit berteriak saking geramnya. "Kalau kamu mau lepas, kita harus membuat perjanjian tertulis. Kamu nggak akan bisa main-main dengan perjanjian ini. Kamu harus menyerahkan hak asuh Upik dan Puti pada Yohana, kami akan membawanya ke Pulau Jawa..dan untuk bayi kalian nantinya, kamu harus bisa memastikan istrimu akan jadi ibu yang baik untuk anak-anak itu dan kamu juga mulai sekarang harus bekerja dengan baik. Kalau sampai kamu mengingkari perjanjian kita maka aku akan memasukkan kamu ke penjara. Ada banyak pasal yang bisa menjerat supaya kamu busuk di penjara." Kataku, menakut-nakuti lelaki ini.
"Nggak bang, aku akan mengikuti semua syarat yang Abang tetapkan. Aku tak akan ingkar." Janjinya. Kembali ku ingatkan bahwa akan ada orang-orang suruhanku untuk memata-matai, begitu ia melakukan kesalahan maka aku akan memasukkannya ke penjara. "Baik bang, saya siap untuk melaksanakan semuanya." Katanya dengan agak berlebihan karena tahu sebentar lagi akan dibebaskan.