
"Bun ... jangan pergi. Ben, Ami. Jangan tinggalkan Abah sendiri. Abah takut. Kalau Abah sendiri nanti mereka akan datang terus nakalin Abah lagi." Kata Abah, sambil merengek.
Bunda maju mendekati Abah, sementara aku dan Ami saling pandang. Tak lama, bunda juga ikut menangis, seperti Abah. "Kan sudah aku katakan, bang. Jangan seperti itu lagi, kamu harus berubah. Sekarang aku sudah enggak sanggup mengurus kamu. Perbuatan kamu semakin keterlaluan, lebih baik kita berpisah saja sebab bersama hanya keburukan yang ada." Ucap bunda, sambil menyeka air matanya.
"Enggak, enggak. Kamu nggak boleh pergi Bun. Aku mohon." Abah masih bersikap seperti anak kecil. "Tolong Bun, beri aku kesempatan sekali lagi." Abah memegang tangan bunda, berusaha membujuknya.
Seperti apapun kesepakatan yang telah kami buat, pada akhirnya bunda luluh juga saat Abah memohon-mohon padanya. Sebagai anak, aku dan Ami tak bisa berbuat apa-apa sebab ini keputusan bunda. Kamu hanya bisa membantu mencari solusi agar kedepannya tak ada lagi KDRT dan perbuatan tidak menyenangkan lainnya. Aku meminta Abah untuk membuat perjanjian tertulis, bahkan kami sepakat akan mengadukan ke kantor polisi jika Abah mengulang kembali perbuatannya.
Kini, kami kembali tinggal bersama di rumah ini sesuai dengan permintaan Abah. Aku berharap semuanya semakin membaik, apalagi Abah sduah bersedia diajak ke psikolog sebagai salah satu syarat untuk rujuk dengan bunda.
***
Enam bulan telah berlalu. Aku baru saja merayakan kelulusan setelah melewati dua belas semester perkuliahan dan tentunya nyaris di DO. Kebahagiaan itu bertambah-tambah karena selain lulus, lamaranku juga diterima sebagai legal di perusahaan batu bara yang ada di Sumatra Barat, dekat dengan kampung halaman Yohana.
Sebenarnya aku sengaja mengarahkan lamaran ke Sumatra, khususnya dekat kampung halaman Yohana sebab berharap bisa mencarinya. Meski tak bisa bersama lagi, setidaknya aku bisa menyampaikan permohonan maaf atas segala ketidaknyamanan yang ia terima oleh keluargaku.
***
"Ben, sudah semua?" tanya bunda, saat aku keluar dari kamar membawa koper dan tas ransel berisi pakaian dan barsng-barangku.
"Sudah, Bun." jawabku. Sambil meletakkan barang-barang di lantai dekat ruang tamu. Satu jaman lagi travel yang akan mengantarkan ke bandara. Sebelumnya aku akan makan siang dulu dengan keluargaku. Mungkin ini terakhir dan baru bisa berkumpul lagi paling cepat setelah tiga bulan bekerja baru mendapat cuti.
Usai makan, kami ngobrol sebentar.
Aku mengingatkan Abah agar tak putus minum obat dan selalu rutin cek ke psikolog setiap bulannya sesuai dengan yang sudah dijadwalkan. pada Bunda dan Ami, aku hanya bisa menitipkan Alif pada mereka agar dijaga sebaik mungkin.
Setelah kepergian bang Sigit, seharusnya Alif menjadi tanggung jawabku karena kondisi Abah juga sedang tidak baik-baik saja secara mental. Untuk saat ini aku hanya bisa menitipkan pada ibu dan adikku sebab ada hal lain yang juga tak kalah penting, yaitu menemui Yohana.
__ADS_1
Meski Alif tak lahir dari Yohana, namun mereka sudah sangat dekat. Yang Alif tahu, Yohana adalah ibunya. Setelah kepergian Yohana, Alif menjadi pemurung, sering memanggil -manggil ibu asuhnya itu, Bahkan kadang sering terbawa ke mimpi.
Sedang berbincang, tiba -tiba seseorang datang. Reni, ia datang membawa tas tenteng berisi panganan titipan ibunya.
"Kamu yakin akan pergi, Ben?" tanya Reni.
"Mmmm, demi masa depan." kataku, sambil melempar senyum.
"Kapan kamu balik?"
"Paling cepat tiga bulanan ini."
"Berarti kamu enggak ngelihat aku lahiran?"
"Maafkan aku ya Ren, aku berdoa semoga semuanya lancar, begitu ada kesempatan aku akan langsung pulang."
Ucapan Reni yang cukup ketus itu membuatku berpikir. Saat sekarang ini ia memang sensitif sebab pengaruh hormon kehamilan. Aku memahaminya, jadi hanya menanggapi dengan santai.
Waktunya sudah siap, travel yang akan mengantar ke bandara telah datang. aku berpamitan pada Abah, bunda, Ami, Alif dan Reni. Mereka melepaskan aku dengan berat hati. Tapi ini demi perjuangan hidup dan juga janji untuk menemukan Yohana.
***
Pesawat menuju Sumatra Barat telah terbang. Empat puluh menit lagi aku akan berada di pulau yang sama dengannya. Entah bagaimana kondisinya saat ini, apakah ia bahagia dengan suaminya? Sejujurnya aku khawatir menemui Yohana. Takut pertemuan kami akan menjadi masalah sebab ia sudah punya suami.
Ya Tuhan, maafkan aku masih mencintai dan memikirkan istri orang.
***
__ADS_1
Pramugari memberitahu bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat. Perasaanku semakin campur aduk. Yohana, apakah kita bisa bertemu? Jika kami masih ada jodoh, aku berharap bisa bertemu dengannya, namun jika nanti hanya akan jadi masalah untuknya, aku rela tak pernah bertemu dengannya lagi.
Sampai di bandara Internasional Minang Kabau, aku dijemput oleh sepupu jauhku. Saudara Abah. Ia yang diminta tolongi oleh bunda untuk mengantarkan aku ke mess kantor sebab aku belum mengetahui jalan.
Baru keluar dari bandara, aku merasa meluaht Yohana. Ia tengah berjalan berlawanan arah denganku, menggeret kopernya.
"Aghhhh, aku benar-benar tak bisa mengelakkan pikiran darinya. Bahkan sekarang pun aku seolah melihatnya!" aku menggerutu, namun juga tersenyum sebab meski itu halusinasi namun wajah Yohana terasa jelas olehku.
Kami naik mobil kijang tua menuju mess tempatku bekerja. Sepanjang perjalanan aku terus mempertanyakan tentang kampung Yohana pada sepupu jauhku tersebut. Engki namanya. Ia lebih muda beberapa tahun dariku, sehari-hari kerjanya menyupir.
"Akhir pekan nanti, kalau Abang mau jalan-jalan jangan sungkan menghubungi aku, bang." kata Engki. "Abang tak perlu khawatir, akan ku berikan diskon besar-besaran karena kita saudara. Cukup bayar uang bensin saja." katanya.
"Siap, terima kasih banyak. Aku pasti akan menghubungi kamu." kataku.
Sampai di depan mess, penjaga langsung mengantarkan aku menuju mess karyawan. Karena aku bagian legal staff, makanya mendapatkan kamar sendiri yang berada paling depan asrama. Sebuah kamar dengan kamar mandi dalam dan dapurnya. Cukup nyaman untuk tempat tinggal sendiri.
"Di sini bebas, bang. Kalau bawa keluarga juga boleh. Tapi ya begini tempatnya. Sangat sederhana." kata pak Zainal, penjaga mess.
"Ya, siap. Enggak apa-apa, pak. Ini sudah lebih dari cukup. Lagipula istri saya tidak ikut, di Jakarta." kataku.
Dalam biodata memang aku sudah mencantumkan sudah berkeluarga sesuai dengan KTPku saat ini.
"Oh ya bang, besok akan datang OB yang beberes kamar Abang. Hari ini dia ada keperluan mengantarkan saudaranya ke Bandara, besok pagi dia akan datang." kata lain Zainal.
"Ya, tidak apa-apa, pak. Saya bereskan sendiri juga tidak apa-apa. sepekan kedepan saya belum masuk kerja, masih mengurus surat-surat, jadi masih longgar waktunya." kataku.
Meski begitu, pak Zainal tetap menjanjikan OB yang akan membersihkan kamarku karena itu adalah bagian dari tugas OB tersebut.
__ADS_1