Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Pulanglah, Ben!


__ADS_3

Sudah dua puluh empat jam aku berada di kantor polisi, tak ada niat sedikitpun untuk meninggalkan tempat ini sampai aku tahu keberadaan Yohana. Lelaki yang semula aku anggap sebagai abangnya telah lama pergi, sepertinya ia takut untuk bertemu denganku lagi sebab pukulan yang tadinya aku layangkan sebagai hadiah sebab ia sudah memanfaatkan Yohana.


[Ben, pulanglah. Untuk apa lagi kamu di sana? Bukankah sudah jelas bahwa Yohana sudah tak ada.] Kata bunda dari ujung telepon. Ia memang sudah ku beritahu tentang kabar penemuan jenazah yang diduga mirip Yohana.


[Ben nggak akan pergi sebelum semuanya jelas.] Kataku.


[Akan sulit membuktikannya Ben.] Jelas bunda, mengingat tak ada saudara sedarahnya. Tapi tetap saja pendapat bunda ku abaikan. Bagiku, Yohana masih hidup, ia pasti ada di suatu tempat, entah dimana, yang jelas suatu hari nanti aku akan menemukannya. [Kalau kamu yakin jenazah itu bukan Yohana, lalu kenapa kamu masih menunggunya di kantor polisi, Ben? jangan bohongi kata hatimu lagi, Ben. Dengarlah baik-baik. Kamu sebenarnya yakin itu Yohana, hanay saja kamu belum siap dengan kenyataannya.]


Telepon ku tutup. Aku menggeleng kuat. Aku akan mengabaikan kata-kata bunda sebab aku sangat yakin itu tak benar. Namun semakin kuat aku menolak, entah kenapa hatiku malah berkata lain. Aghhh, aku sudah tak sanggup dengan ini semua!


"Nak, kamu baik-baik saja?" seorang lelaki seumur Abah mendekat. Ia adalah salah satu polisi yang bertugas di sini, sejak awal ia sangat perhatian padaku, bahkan tadi saat makan siangpun ia tak lupa memberikan nasi bungkus untukku. "Pasti berat menerima kenyataan ini, tapi percayalah, Tuhan tahu yang terbaik untuk hambanya." Kata pak polisi yang bernama Rizal tersebut. "Nak Ben, itu namamu, kan? Kalau kamu mau, istirahat di rumah saya saja. Kebetulan rumah dinas saya kosong. Anak dan istri saya tinggal di kota, biasanya akhir pekan main ke sini atau sebaliknya. Kasihan kamu kalau di sini terus, kamu juga butuh istirahat." Ia menawarkan rumahnya yang masih berada di area kantor polisi.


Semula aku tak ingin kau kut, tapi apa yang dikatakan pak Rizal benar, aku teramat lelah. Meski aku mengingkari tapi badanku seolah berteriak ingin berbaring sebentar saja.

__ADS_1


Kami akhirnya pergi juga ke rumahnya. Rumah dinas yang cukup sederhana dengan perabotan ala kadarnya. Pak Rizal menawarkan makanan, tapi aku menolak, hanya minta segelas air putih hangat sebelum akhirnya aku tertidur saking lelahnya. Mungkin sebenarnya hatiku jauh lebih lelah dari fisik, makanya terasa dua kali lipat sebab hati tak bahagia.


***


"Yohana ... Yohana jangan pergi!" Aku mengejar Yohana. Ia berlari tak kalah kencang. Gadis itu seperti tak ingin bertemu denganku. Namun pada akhirnya aku bisa mengejarnya juga. Aku menarik bahunya agar ia berbalik, namun saat wajahnya terlihat, aku tak bisa menyembunyikan keterkejutan, wajahnya pucat pasi dengan lebam berisi air dimana-mana, tak seperti Yohana sebenarnya.


"Kenapa Ben? Kamu takut melihatku? Wajahku jadi seperti ini karena aku tenggelam, Ben. Tak hanya wajah, tapi juga tangan, kaki dan seluruh tubuhku, Ben. Semuanya penuh dengan air." Yohana memperlihatkan tangan dan kakinya. Seperti yang ia katakan, semuanya penuh dengan air yang sangat bau seperti air comberan. Aku sampai mual menciumnya, makanya tanpa sadar mundur beberapa langkah. "Ben, kamu mau kemana? Kamu tak ingin melihatku dalam kondisi seperti ini? Kamu jijik, kan Ben? Tapi beginilah aku sekarang Ben. Apa kamu menyesal sudah menemukan aku yang sekarang telah berubah penuh dengan air, Ben?"


"Nggak Han, nggak!" Aku berteriak keras. Berusaha menggelengkan kepala agar tak melihatnya. Kamu seperti apapun sebenarnya aku sangat mencintaimu Han, tapi aku tak mengerti kenapa perutku mendadak jadi mual?


Mimpi. Ternyata semuanya hanya mimpi. Saat aku membuka mata, tak ada lagi Yohana yang seluruh badannya penuh dengan air. Sekarang aku berada di rumah pak Rizal dan di hadapanku tak ada Yohana. Aku mengucap istighfar beberapa kali sambil menyapu keringat yang mengalir deras di dahiku. Tadi itu mimpi yang sangat menakutkan.


"Nak Ben ayo salat Subuh." Ajak pak Rizal, ia berlalu meninggalkan aku.

__ADS_1


***


Sudah sepekan dari pagi sampai sore aku menunggu di kantor polisi, malamnya ikut pulang ke rumah pak Rizal. Selama itu, aku hanya duduk diam menanti apakah ada laporan orang yang kehilangan anggota keluarganya, sembari berusaha mencari tahu tentang identitas jenazah tersebut. Pak Rizal juga ikut membantu mencari tahu dimana Yohana jika memang jenazah itu bukanlah ia.


Saat sedang menunggu, tiba-tiba seseorang datang. Ami, ia sampai di sini atas perintah bunda. Ami diminta bunda untuk membawaku pulang ke Depok.


"Bang, pulanglah. Aku tahu Abang sedih kehilangan kan Yohana. Tapi kan kepolisian juga sudah berjanji akan mengabari kalau sudah ada kabar tentang kak Yohana atau jenazah itu. Jadi sekarang ayo pulanglah. Kasihan bunda, bang. Siang malam bunda menangis, menyesali perbuatannya pada Abang dan kak Yohana padahal bunda harus ada untuk Abah yang masih menjalani masa pengobatan." Kata Ami.


Andai aku bisa, akupun tak ingin membuat bunda merasa bersalah sebab pernah menjadi seseorang yang membuat Yohana menderita. Tapi aku tak bisa untuk meninggalkannya sekarang. Aku takut saat Yohana ditemukan aku tak ada di sini lalu ia pergi lagi. Yohana itu tak tahu pulau Sumatera, ia juga bukan orang yang terbiasa bepergian. Puluhan tahun hidupnya hanya dihabiskan untuk mengabdi pada keluargaku saja.


"Bang, keluarga kita sudah berantakan. Bunda saat ini sedang tidak baik-baik saja. Bunda sedang sakit, bang. Bunda didiagnosa mengidap kanker payudara, hari-hari bunda hanya diisi dengan tangisan dan penyesalan. Sebelum bunda kembali ke hadapan Allah, apakah Abang tidak bisa memberikan kenangan indah untuk bunda? Kita menjadi keluarga yang utuh layaknya keluarga yang sebenarnya? Bunda begitu karena keadaan bang. Kasihanilah Bunda. Akupun awalnya kesal dengan bunda, bahkan sangat marah, tapi sekarang kondisi bunda sangat lemah. Lagipula bunda itu ibu kita. Seburuk apapun ia kita harus terus berbuat baik padanya." Kata Ami.


Aku menangis, tak tahu harus melakukan apa. Aku tak ingin meninggalkan Yohana sendiri di sini, tapi juga tak bisa jika tak ada di sisi bunda di saat-saat terlemahnya. Tangis ku semakin menjadi-jadi, Ami berusaha menenangkan.

__ADS_1


"Han, maafkan aku, aku harus pergi untuk menyelesaikan baktiku pada Bunda. kamu kan yang selalu menasihati aku agar baik pada Abah dan Bunda meski kadang aku tak suka dengan sikap mereka. Tapi percayalah, aku tak akan melupakan kamu. Aku akan terus mencari kamu. Aku akan kembali, Han." Sore itu juga, setelah mengambil semua barang-barang di mes, aku dan Ami pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, aku terus menangis tanpa peduli dengan tatapan penuh tanya dari orang-orang.


__ADS_2