Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Menjemput Upik Dan Puti


__ADS_3

Mobil carteran melaju menuju arah perusahaan tempatku dulu bekerja. Kami akan ke kosan Abang tirinya Yohana untuk menjemput Upik dan Puti.. Seperti yang dikhawatirkan oleh Yohana, dua anak ini memang terlantar, mereka mengaku sudah tiga hari tak diberi makan, hanya minum air dari keran dan sisa-sisa biskuit yang hanya tinggal remahan bekas orang tua mereka. Padahal sebelumnya Bandaro dan istrinya sudah berjanji pada Yohana akan menjaga dua anak itu, makanya ia mau tinggal di pulau ikan. Yohana bercerita tentang kenapa ia mau menikah dengan anak pak Hadi, sebab dijanjikan biaya hidup serta biaya sekolah Upik dan Puti. Tapi ternyata uang yang diberikan Yohana itu malah dipakai untuk main judi dan mabuk--mabukan..bahkan istrinya Bandaro pun sedang teler, padahal mereka mengaku istrinya sedang hamil.


"Benar-benar jahat kamu, bang. Tak punya hati. Pada darah dagingnya sendiri saja bisa seperti itu, apalagi dengan orang lain yang tak ada hubungan darah. Harusnya kamu mati dan masuk neraka, kamu tak akan pernah bisa bertaubat. Kamu itu sudah setannya setan!" Kata Yohana. Aku belum pernah melihat ia semarah ini sebelumnya, Yohana itu perempuan yang amat sabar, berarti Bandaro sudah sangat keterlaluan, makanya Yohana sampai sememgamuk ini. "Sekarang kau mau apa lagi? Beribu janji sudah kau ucapkan, bahkan kau bersumpah akan mati mengenaskan jika menelantarkan putrimu, tapi ini, apa ini, bang! Ku harap kau benar-benar mati mengenaskan. Sungguh kasihan nasib Upik dan Puti lahir dari orang tua jahat seperti kalian berdua!" Kesabaran Yohana habis, ia memukuli Bandaro sampai lelah, lalu tanpa bicara apa-apa ia menyiram istrinya Bandaro hingga perempuan yang tengah teler itu sadar.


Aku hanya membiarkan Yohana meluapkan emosinya karena menurutku itu perlu. Sambil menyuruh Upik dan Puti makan makanan yang kami bawa.


"Eh Han ... Bang. Kapan datang? Maaf tadi aku ketiduran karena aku hamil, jadi lemas, bawaannya ingin tidur terus," kata kakak ipar Yohana.


"Pembohong, kamu mabok, kan? Kamu minum alkohol, kan? Dasar tak bisa dipegang omongannya. Entah terbuat dari apa hatimu, kamu itu seorang ibu tapi tega membahayakan bayi dalam kandunganmu. Anak itu bisa kenapa-napa gara-gara sikap kamu yang egois. Juga Upik dan Puti, kenapa kamu enggak menjaga dan merawat mereka berdua. Bahkan makan pun tidak kamu beri. Harusnya kamu malu." Lelah marah-marah, Yohana menangis. Ia meraung, sejadi-jadinya hingga tetangga kiri kanan dari kosan keluarga itu keluar untuk menonton kehebohan yang terjadi hari ini.


"Ibuuuu ... jangan marah pada emak, Bu." tiba-tiba sikecil Puti menarik tangan Yohana, ia memeluknya, sementara Upik menangis sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Maafin ibu ya Dek, sudah membiarkan kalian kembali tak terurus seperti ini, padahal ibu sudah janji akan menjaga kalian dengan baik tapi ternyata ibu lalai." Kata Yohana. "Sekarang Upik dan Puti siap-siap ya, kita pindah ke pulau Jawa. Kalian akan tinggal bersama ibu. Kalian mau, kan?" Tanya Yohana.


Dua kakak beradik itu saling pandang, lalu sama-sama menggelengkan kepalanya. Meski mereka diperlakukan tidak baik oleh ayah dan ibunya, namun mereka sangat menyayangi kedua orang tuanya. Mereka tak ingin pergi jauh dari keduanya. Pernyataan itu membuatku dan Yohana semakin sedih. Anak-anak itu benar-benar memiliki hati yang amat putih dan pemaaf, meski sudah diperlakukan dengan tidak baik namun mereka selalu memiliki stok maaf yang sangat banyak untuk kedua orang tuanya.


Tetapi, aku dan Yohana tak bisa melepaskan kedua anak itu pada orang tuanya begitu saja. Setelah berembuk termasuk dengan perangkat desa di sana akhirnya kami memutuskan memasukkan mereka ke panti asuhan, sementara kakak ipar Yohana akan berada di pusat rehabilitasi untuk mengobati kecanduan mirasnya agar tak membahayakan kandungannya.


Perjanjian hitam di atas putih pun telah ditulis, mereka tak akan bisa mengambil Upik dan Puti hingga kedua anak itu berumur delapan belas tahun. Selama itu mereka akan tetap ada di panti tapi tetap bisa dibesuk oleh orang tua mereka.


Aku dan Yohana mengantar Upik dan Puti ke panti yang menurut kami terbaik ada di daerah sini. Kami kembali membuat perjanjian yang cukup ketat dengan pihak panti demi kebaikan dua anak itu nantinya.


Yohana mentraktir semua anak dan pengurus panti makan malam di dekat pasar malam, aku juga mengajak mereka naik wahana dipasar malam, kami berusaha menyenangkan mereka semua. Sepanjang waktu aku memperhatikan Yohana, wajahnya menyiratkan kesedihan karena sebentar lagi akan berpisah dengan Upik dan Puti.

__ADS_1


"Ingat baik-baik, jangan pergi dari sini, kalau ada apa-apa hubungi ibu ya. Meski jarak kita jauh, tapi ibu akan selalu berusaha memantau kalian berdua dari jauh. Mulai sekarang kalian gak akan kelaparan, nggak akan ketakutan lagi kalau bapak dan emak mabuk, mereka akan menjalani rehabilitasi. InshaAllah nanti kondisi mereka akan lebih baik lagi " kata Yohana, sambil memeluk Upik dan Puti di kiri dan kanan.


"Ibu, kenapa ibu harus pergi? Ibu di sini saja. Kami sangat menyayangi ibu, kami janji akan jadi anak yang baik." Kata Puti.


"Maafin ibu, sayang. Tapi kehidupan ibu tidak di sini." Kata Yohana.


"Om ... Om Ben, jangan bawa ibu ya. Om saja yang tinggal di sini bersama kami dan ibu. Kamu sayang ibu dan hanya ibu yang sayang kami." Kata Puti, sambil memegang tanganku. Ia menangis tersedu-sedu.


Aku tak bisa berkata-kata. Sementara Yohana ia hanya bisa menangis sebab menahan haru. Perpisahan ini hanya menghitung jam, sebentar lagi kami akan terpisah oleh lautan. Ahhh anak -anak ini sukses mengacaukan emosiku. Aku pun ikut hanyut dalam suana haru.


"Ikutlah dengan kami. nanti kalian akan jadi anak om dan ibu." kataku.

__ADS_1


Tapi dua gadis kecil yang juga menyayangi kedua orang tuanya itu tak bisa ikut karena mereka pun tak bisa meninggalkan orang tuanya. Sisulung mengatakan, meski orang tuanya jahat tapi itulah surga mereka seperti yang diajarkan Yohana. Mereka akan tetap berbakti sebab emak dan ayah mereka sudah bersedia membesarkan mereka hingga sekarang ini. Meski tak ada kebaikan pun harus tetap sayang pada orang tuanya.


Pada akhirnya kami berempat hanya bisa menangis, menghitung waktu karena semakin lama waktu untuk berpisah itu semakin dekat.


__ADS_2