Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Hambatan-hambatan


__ADS_3

Pagi ini, semuanya berubah menjadi dingin. Yohana masih memilih tutup mulut. Pagi-pagi usai salat subuh ia menyiapkan sarapan untuk semua orang, menjelang Alif bangun, ia buru-buru ke pasar untuk berbelanja meski sebenarnya stok bahan makanan masih banyak. Setelah pulang, ia sengaja menghindari Alif dengan masuk secara mengendap-endap menuju dapur. Melihat tingkah Yohana seperti itu membuatku sedih, tapi tak tahu harus melakukan apa sebab aku takut membuatnya semakin terluka.


"Semoga saja kami segera punya anak." Aku berbisik pada diri sendiri. Orang bilang, ketika seorang wanita memiliki keturunan maka ia akan disibukan dengan urusan bayinya. Semoga dengan demikian ia bisa melepas Alif sepenuhnya pada mbak Lila.


Selesai dengan urusan rumah, Yohana menyusulku ke kantor kami. Baru saja ia hendak memulai pekerjaannya, suara tangisan Alif spontan membuatnya bangkit dan mengetahui kondisi Alif, tapi di depan pintu ia kembali. Sepertinya ia masih teringat dengan apa yang ku katakan kemarin, makanya ia menahan diri membiarkan mbak Lila yang mengurusnya.


"Kamu nggak mau lihat Alif?" tanyaku, sambil memandangnya.


"Enggak usah, ada mbak Lila. Mbak Lila InshaAllah tahu yang terbaik untuk Alif." Jawab Yohana sambil terus membolak-balik buku keuangan.


."tapi Alif masih nangis. Sepertinya ia mencari kamu."


"Enggak, biarkan saja!"


"Han,"


"Sudah. Biarin saja!"


"Han,"


Tiba-tiba Yohana menghambur dalam pelukanku, lalu menangis sejadi-jadinya. Aku memberinya waktu untuk meluapkan emosi. Aku mengusap-usap pelan kepalanya.

__ADS_1


"Aku ... Aku nggak bermaksud merebut Alif dari mbak Lila. Aku nggak masalah jika hanya dianggap sebagai pengasuh saja. Tapi, aku nggak bisa jauh darinya. Kami sudah berpisah lama dan aku sangat merindukan Alif. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk melepaskan rindu. Tapi kalau ibunya keberatan, aku tak mengapa " kata Yohana sambil menghapus air matanya.


"Kalau rindu pada Alif, enggak apa-apa. Keluarlah." Kataku. Tak tega juga melarangnya. Hubunga mereka sudah sangat dekat. Dari pagi sepertinya Alif mencari-cari Yohana, makanya ia rewel. Menangis tak henti-henti sejak bangun tidur. Tadi sempat berhenti sejenak, tapi kemudian menangis lagi, sampai sekarang. "Pergilah. Sepertinya mbak Lila juga kewalahan. Kamu bisa menenangkan Alif sekaligus mengajari mbak Lila bagaimana cara menghandle saat Alif nangis."


"Benar boleh? Lalu bagaimana kalau mbak Lila nggak suka?"


"Mbak Lila pasti akan mengerti." Kataku. Tak perlu bicara lagi, Yohana langsung keluar. Dari pintu yang sedikit terbuka, aku bisa melihat bagaimana dengan telatennya Yohana membujuk Alif. Seperti dugaanku, ia menangis karena mencari ibu asuhnya itu. Setelah bertemu Yohana ia langsung diam dan tak melepaskan pelukannya dari Yohanw.


"Maaf ya, tadi ibu kerja dulu. Tapi ibu enggak akan kemana-mana. Ibu sayang sama Alif." Kata Yohana.


***


"Maafkan aku, Han." Mbak Lila langsung menghambur dalam pelukan Yohana. "Aku ibu yang payah. Pernah meninggalkan anak sendiri, makanya Allah hukum aku seperti ini, menjadi berjarak dengan anak sendiri. Padahal ini semua salahku, tapi malah menyalahkan orang lain. Sekali lagi maafkan aku, Han, dan terimakasih sudah membantu menjaga Alif. Kamu pantas mendapatkan tempat istimewa di hati Alif. Kamu benar-benar ibu yang baik untuknya." Mbak Lila memuji Yohana yang sangat mudah membuatnya diam.


"Baiklah. Ajari aku ya Han. Aku nggak akan mengambil Alif dari kamu lagi. Mulai sekarang kita akan sama-sama jadi ibunya." Kata mbak Lila. "Kamu mau kan Han? Biar aku menebus kesalahanku padanya."


"Tentu saja mbak, kita berdua jadi ibunya Alif " dua orang perempuan itu saling berpelukan.


Melihat mereka bisa menerima satu sama lain membuat aku lega. Ini demi kebaikan Alif juga. Menghilangkan salah satunya tak akan membuat anak itu menjadi lebih baik. Karena Alif butuh banyak kasih sayang untuk tumbuh kembangnya.


***

__ADS_1


Harusnya penjualan sanjai bulan ini naik lima kali lipat, namun karena suatu kejadian membuatnya turun bebas. Pihak oleh-oleh komplain dengan sanjai yang kami kirimkan. Mereka dikomplain oleh pelanggan yang mengatakan produk kami tidak baru. Sudah masuk angin dan seperti keripik lama. Tentu saja komplain itu membuat kami memutar otak sebab semua barang yang kami kirimkan adalah barang-barang baru. Tapi pelanggan itu memberikan sanjai yang sama persis dengan produk kami sebagai bukti bahwa yang ia beli bukanlah produk yang bagus. Akibatnya, kerjasama kami diputus. Maslaha ini benar-benar membuatku pusing. Kerja keras kami mengalami kegagalan.


Ami sampai menangis mendengar berita ini. Ia yang merasa sudah memberikan terbaik jadi patah semangat, tak ingin lagi melanjutkan produksi. Tapi aku menasihati sebab ini adalah bagian dari sebuah usaha. Memang akan ada hambatan-hambatan yang dilalui. Kalau kami berhasil melewati maka kejadian ini akan menempa kami untuk lebih kuat lagi.


"Lalu sekarang kita akan jual kemana lagi?" Tanya Ami.


"Nanti akan aku carikan pasar baru. Aku dan Yohana akan berkeliling untuk menawarkan sanjai kita. Barangkali masih ada yang berjodoh dengan toko oleh-oleh." ucapku yang diamini oleh Yohana dan mbak Lila.


Kami benar-benar harus berusaha lagi. Sekarang, usahanya harus dua kali lipat untuk memasarkan sebab sudah ada cacat yang menempel pada sanjai kami. Dari pagi sampai sore, aku dan Yohana berkeliling. Tak lupa juga melakukan pemasaran secara online. Karena tak ada juga penjualan, akhirnya produksi harus dihentikan sebab barang semakin menumpuk dan dikhawatirkan akan jatuh masa kadaluarsanya.


"Apa sebaiknya kita ganti usaha yang lain saja, bang?" Tawar Ami lagi. Ia yang terlihat paling patah semangat. Mungkin karena sebelumnya pemasukan kami berkali lipat, tahu-tahu harus berhenti karena tak ada lagi yang mau menerima produk ini.


"Baiklah, apa boleh buat. Karena barang semakin menumpuk dan modal tertimbun, jadi aku akan turun ke pasar. Aku akan jualan di sana." Kataku. Semua orang setuju, Yohana akan ikut denganku. Kami memulainya esok pagi. Menjadi penjual secara nomaden, dari satu pasar ke pasar lain, dari depan perkantoran satu ke perkantoran lain sembari memikirkan teknik marketing lainnya.


***


"Kita ubah bungkusnya. Jadi seperti cemilan biasa agar bisa masuk ke supermarket supermarket." Kataku, sambil menunjukkan desain sederhana pada Ami dan Yohana.


"Menarik sih, tapi bagaimana dengan biaya produksinya?" tanya Yohana.


"Enggak apa-apa dimaksimalkan dulu. Membuat seperti ini untungnya memang akan sedikit, tapi enggak apa-apa asal produk tetap jalan. Selain itu kita juga harus membuat inovasi." Kataku.

__ADS_1


"Apa itu?" Tanya Ami.


"Ciptakan rasa dan bentuk yang berbeda dengan yang lain!" Kataku. Kami kembali sibuk dengan urusan keripik. Mencoba-coba hal baru untuk menaklukkan pasar.


__ADS_2