
"Sekarang katakan, untuk apa kamu ke sini? Kamu tahu, sikap kamu yang seenaknya ini benar-benar membuat khawatir orang tua kamu. Mama kamu menangis terus. Papa kamu begitu khawatir. Belum lagi orang tuaku yang juga sama bingungnya. Sekarang harus bagaimana? Hari ini tak mungkin kamu langsung pulang sebab kondisi kamu yang sedang berbadan dua. Aku benar-benar bingung dengan cara berpikir kamu, Ren. Ada apa? Kalau ada hal penting, kamu bisa kan telpon aku." kataku masih dengan raut wajah yang jengkel.
"A ... aku. Maafkan aku Ben." ia menundukkan kepalanya. Terlihat menyesal, namun tetap saja tak bisa menghapus kejengkelanku.
"Jangan minta maaf padaku, tapi minta maaflah pada orang tua kamu yang kebingungan nyariin kamu." aku masih mengomel. "Lalu malam ini bagaimana?" tanyaku, masih bingung mau menumpangkan Reni dimana. Sebenarnya aku bisa saja cuek, tak mempedulikan ia. Toh ia yang datang sendiri dan harusnya ia sudah tahu resikonya. Tapi karena ada anak tak berdosa yang bisa kena getah dari perbuatannya itu makanya aku tetap harus memikirkan. "Jangan lupa cari tiket untuk pulang besok. Sekarang aku akan Carikan kontrakan atau apakah untuk kamu bermalam!" Kataku. Saat aku mau keluar kamar, tiba-tiba Reni meringis. Semakin lama suaranya semakin tinggi, saat kulihat ia sudah terduduk sambil memegangi perutnya
yang sudah membuncit. "Ren, kamu kenapa? Anak kamu nggak apa-apa, kan?" tanyaku, sambiloto mendekat. "Tuh kan, kamu itu, sudah tahu lagi hamil tapi kenapa ceroboh begini? Harusnya kamu pikir ulang kalau mau membuat sebuah keputusan. Jangan ikuti ego saja " aku masih bisa mengoceh sementara ia terus meringis. "Ayo kita ke klinik saja!" Kataku, sambil memapahnya.
Sampai di halaman mes, aku terpaksa meminjam motor milik mes untuk mengantar Reni menuju klinik yang hanya satu-satunya di kampung ini. Pak Zainal yang memberitahukan kami dimana lokasinya.
Sampai disana Reni diperiksa oleh dokter umum yang kebetulan praktek, sementara dokter kandungannya baru akan masuk dua hari lagi. Sekian dokter umum, ada juga dua bidang yang ikut berjaga.
"Bagaimana kondisinya dok?" aku bertanya setelah dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Kandungannya sangat lemah, jadi tolong jangan banyak bergerak sebab bisa membahayakan kandungannya." Kata dokter
__ADS_1
Keterangan dokter itu benar-benar membuatku tambah kesal pada Reni. Kenapa ia seceroboh ini, perbuatannya hampir saja membuatnya kehilangan bayi itu. Untung saja segera dibawa ke dokter. Reni diberikan obat penguat kandungan.
Saat aku menghubungi orang tuanya, ibu Reni memintaku untuk membawanya ke dokter kandungan. Tapi aku belum bisa melakukannya sebab ke kota cukup jauh, aku khawatir malah membuatnya semakin dalam bahaya. Akhirnya malam ini diputuskan Reni akan tidur di kamarku, sementara aku menumpang di pos, tidur bersama pak Zainal.
"Istrinya datang kok enggak tidur sama-sama sih mas? Sudah disamperin jauh-jauh lho. Kasihan, malah dianggurin." Pak Zainal mencandai aku. Tapi ku abaikan. "Padahal istrinya cantik lho, pintar dan kaya juga. Jangan dicuekin mas, nanti istrinya lari baru nyesel."
"Pak, sekarang itu kondisinya sedang sakit. Bapak lihat kan tadi saya bawa ke dokter. Kalau saya dikamar yang sama, bisa-bisa dia enggak tidur. Kasihan anaknya juga." Kataku, yang sudah bosan mendengar ocehan pak Zainal. Hari ini aku sangat lelah, ditambah kedatangan Reni yang serba tiba-tiba membuatku kesal. Makanya ku putuskan untuk istirahat saja agar besok tenaga dan pikiran lebih tenang untuk memikirkan bagaimana dengan Reni mengingat besok ia belum bisa pulang karena kondisinya sangat lemah untuk naik pesawat lagi.
***
[Maaf ya Ben, tapi kami belum bisa ke sana karena padatnya jadwal operasi. Mungkin baru bisa cuti awal bulan nanti.] kata om Bili, membuatku langsung lemas.
[Apa tidak bisa dipergcepat, om? Atau mungkin bisa mengirim siapa saja untuk menemani Reni diperjalanan. Kondisinya tidak memungkinkan untuk pulang sendiri.] kataku.
[Ya, nanti kami cari ya Ben. Sekarang tolong titip Reni dulu] pinta ayahnya
__ADS_1
Nasib! Reni oh Reni. Kenapa kamu harus ke sini kalau akhirnya jadi begini.
"Ben, kalau aku menjadi beban untuk kamu, aku pulang saja." kata Reni, saat kami sedang sarapan.
"Kenapa enggak mikir sejak awal, Ren?" kataku. Tanpa mau melihat ke arahnya karena aku kesal. Sekarang aku benar-benar buntu bagaimana harus menghadapi semuanya. Daerah ini masih kampung, jadi tak ada hotel ataupun rumah sakit besar yang memadai.
"Ben, aku juga enggak ngerti kenapa ke sini. Yang aku tahu, bayinya menginginkan bertemu dengan kamu. Ia terus memaksaku untuk menemui kamu. Mungkin saja ia merindukan kamu. Iya benar, anak ini bukan anak kamu. Entah siapa ayahnya. Tapi yang jelas ia ada karena kecelakaan yang kamu sebabkan. Kamu meninggalkan aku sendiri sehingga mereka menjahati aku." kata Reni dengan mata berkaca-kaca. "Mungkin karena itu anak ini mengira kamu benar-benar ayahnya. Ia merasa sangat nyaman bila berada dekat kamu. Sementara kalau berjauhan ia menjadi gelisah. Kamu enggak tahu, sejak kamu pergi, setiap detik aku merasa enggak nyaman. Anak ini terus saja memberikan perasaan yang aku tak paham, yang jelas aku tidak nyaman." kata Reni lagi sambil berurai air mata.
Melihatnya menangis membuatku luluh juga. Lagipula Reni benar, anak ini ada karena kesalahanku yang meninggalkan Reni sendiri.
"Ren, maafkan aku." kataku. "Hei Boo, maafkan bapak ya." kataku pada bayi dikandungan Reni. Aku memang memanggilnya Boo untuk bonding dengan bayi ini. "Kamu benar-benar anak bapak ya, enggak mau jauh dari Bapak. Sebenarnya bapak enggak mau meninggalkan kamu tapi bapak harus kerja cari uang supaya bapak enggak timpang sama mama kamu. Sekarang kamu harus sehat-sehat sampai nanti lahir ya Boo, jangan bikin Mama kamu sakit ya." kataku pada Boo.
Aku memberikan makanan tambahan untuk Reni agar tubuhnya makin kuat. Masih dua bulan lagi untuknya lahir, makanya harus dijaga benar.
"Ben, terimakasih ya. Setelah kamu bicara tadi entah kenapa perut ini rasanya langsung nyaman." kata Reni, sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Ya, Ren. Kalau Boo usil lagi, kasih tahu aku ya supaya aku bisa menasihatinya. Kalau nggak mau dengar nanti enggak dikasih coklat!" kataku sambil tertawa bersamaa dengan Reni.