Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Lelaki Yang Disebut Monster


__ADS_3

Benar saja dugaanku, Abang tirinya masuk ke rumah orang tua angkat Yohana setelah terlebih dahulu disambut oleh lelaki paruh baya yang aku yakini bernama pak Hadi. Pelan-pelan aku menuju jendela terdekat untuk tahu apa yang mereka bicarakan.


"Bapak dan ibu tenang saja, pernikahan ini akan segera terselenggara. Saya akan menjadi wali Yohana besok pagi. Mereka berdua akan menjadi sepasang suami istri. Yohana itu adalah perempuan penurut yang tak akan mungkin meninggalkan suaminya. Di pernikahan sebelumnya ia pun tak bahagia, namun tak pernah pergi sebelum suaminya meninggal dunia." Kata si Bandaro dengan percaya diri.


Aku sudah tak sabar, ingin segera meloncat dan memukuli lelaki jahat itu, tetapi tiba-tiba seseorang menarik tanganku. Ia adalah pak Joko, supir mobil carteran yang disiapkan oleh Reni dan Riko.


"Sabar mas Ben, jangan langsung main sergap karena sikap mas hanya akan menjadi bumerang untuk mas." Lelaki berusia sekitar tiga puluh limaan itu mengajakku menjauh agar tak menimbulkan kecurigaan pemilik rumah sebab kalau mereka tahu keberadaan kami hanya akan membuat rasa ingin tahuku tak terjawab. Lelaki bernama pak Joko itu ternyata bukanlah seorang supir biasa, tapi ia adalah bodyguard bayaran yang sengaja disiapkan Reni dan Riko untuk menjagaku. Reni memang sudah tahu kalau Yohana masih dibawah bayang-bayang Abang tirinya. Makanya ia yang menyesali perbuatannya ingin menebus dengan membawa Yohana dari tempat itu, tapi sayangnya Yohana menolak.


"Sekarang saja, saya tak bisa membiarkan Yihana dimanfaatkan. Ia mau menikah pasti karena diancam oleh laki-laki itu. Ia memang saudara yang jahat, masih saja memanfaatkan Yohana, padahal dulu sudah pernah janji tak akan melakukan semuanya lagi. Ia pembohong ulung!" Aku mengumpat sambil mengacungkan tinju.


"Tunggu saja sampai besok mas, saat hari pernikahan Mbak Yohana, kita batalkan!"


Sebenarnya aku tak sanggup menunggu hari esok, Tapi membawa kabur Yohana hanya akan menjadi masalah untukku, apalagi Yohana menolak ikut. Bisa-bisa aku tak akan pernah keluar dari pulau ini sebab calon mertua Yohana adalah orang terpandang di kampung ini. Kata pak Joko, ia sudah menghubungi polisi kalau sewaktu-waktu dibutuhkan. Ia juga sudah meminta bantuan beberapa orang bodyguard lagi yang kemungkinan baru masuk pulau sore nanti.


"Sabarlah Ben, sabar! Semuanya akan baik-baik saja!" Kataku, sambil berusaha menenangkan diri sendiri.

__ADS_1


***


Malam ini rasanya sangat menyiksa sekali. Dari penginapan aku bisa melihat rumah orang tua angkat Yohana yang terang karena persiapan untuk acara pernikahan esok hari. Tenda berwarna putih pink sudah terpasang, lampu berkedip-kedip. Diiringi suara musik yang memekakkan telinga.


Ahhh Han, apa yang ada dipikiranmu? Kenapa engkau memilih menikah dengan orang lain? Apa kamu benar-benar rela atau dipaksa? Han, aku tak akan membiarkan kamu menjadi milik orang lain. Apapun yang terjadi, esok aku akan membawamu dari tempat ini!


"Pak Hadi dan Bu Hadi benar-benar beruntung ya. Akhirnya ada juga perempuan yang mau jadi istri anaknya. Padahal kan semua perempuan di kampung ini ketakutan dengan lelaki Monster itu. Sebenarnya kasihan dengan mbak Yohana itu, kenapa ia mau? Pasti ia dijanjikan uang yang banyak. Tapi apa gunanya uang banyak kalau harus menjadi santapan monster. Aku yang jelek saja menikah, lha kok ada gadis cantik yang bersedia!" Kata seorang pelayan resto yang ada di penginapan pada temannya.


Aku melebarkan telinga agar bisa mendengar apa yang mereka gosip kan. Entah apa yang dimaksud dengan monster? Apa ia laki-laki yang jahat sehingga disebut begitu? Seperti yang dilakukan orang-orang untuk menjelaskan tentang kondisi orang jahat.


"Jadi kamu akan menikah dengan monster, Han? Apa kamu sudah benar-benar tahu tentangnya? Ayolah Han, jangan bodoh. Lelaki Seperti itu gak seharusnya kamu pilih. Ingat Han, kamu berhak untuk bahagia. Jika ia sejahat monster apa kamu yakin ia akan membuatmu bahagia?" kataku sambil bersenandika.


***


Aku, pak Joko dan orang-orangnya yang baru datang kemarin sore telah menyebar di antara undangan. Aku sengaja mengenakan masker agar tak ada yang mengenali. Bahkan si Bandaro pun tak tahu kalau aku ada di sini. Ia tak menyadari saat kami berdiri berdampingan. Aku ingin sekali menghajarnya, tapi tak jadi karena tujuan utamaku bukan itu.

__ADS_1


Layaknya pesta yang diadakan di kampung, berbagai makanan khas Sumatera Barat telah terhidang di dua meja panjang. Tamu undangan sudah berkumpul untuk menyaksikan pengucapan ijab dan qobul.


"kau tak akan bisa menikahkan Yohana karena kamu hanya saudara tiri!" kataku dalam hati. Makanya aku agak tenang sebab berarti yang sah menikahkan Yohana adalah wali hakim. Tapi Bandaro tak mengungkapkan itu, ia tak mau mengaku kalau bukan saudara kandung Yohana.


Penghulu telah hadir di depan meja tempat ijab. Bandaro dan orang tua pemuda itu pun telah duduk di sana. tak lama Yohana pun hadir, ia tampak cantik mengenakan kebaya panjang dengan riasan minimalis. Wajahnya tampak sendu, menunjukkan ia benar-benar tak ingin menikah.


Tak berapa lama, empat orang keluar bersama seseorang bertubuh besar, satu setengah kali lipat lelaki normal biasa. Badannya memerah, ia tertawa -tawa dengan air liur yang terus keluar. Aku menelan ludah, sekarang paham kenapa calon suami Yohana disebut monster.


Tak tahan dengan semua itu, aku langsung bangkit, maju ke depan. "Yohana!" kataku.


Semua yang ada di sana melihat ke arahku, termasuk Yohana yang terlihat pucat. Pada semua yang hadir ku jelaskan tentang siapa diriku setelah sebelumnya menangkap kerah baju Bandaro.


"Lelaki ini hanya Abang tirimu, Han. Ia sudah membohongi kamu. Jadi tolong jangan lakukan apapun lagi untuknya sebab kamu gak berhak diperlakukan seperti ini!" kataku.


Yohana menangis. Aku tahu ia pun sebenarnya sudah sangat ketakutan, tapi tak tahu harus melakukan apa sebab abangnya mengancam akan menjual kedua putrinya kalau Yohana menolak menikah.

__ADS_1


"Biar polisi yang mengurusnya. Ia tak akan pernah lagi bisa lolos, apalagi sampai melakukan hal buruk pada Upik dan Puti." kataku.


"Ben," kata Yohana padaku. Ia mengangguk tanda setuju untuk ikut denganku, apalagi setelah aku berjanji akan membawa Upik dan Puti sekaligus ke Depok sebab sangat bahaya meninggalkan dua anak itu pada orang tua kandungnya yang tak bertanggung jawab.


__ADS_2