
Malam ini suasana rumah heboh dan sedikit mencekam. Mbak Lila, dua kali melihat makhluk halus yang katanya wujudnya tinggi besar dan sangat menyeramkan. yang kedua kalinya ia bahkan mencekik mbak Lila. untung saja ada Alif yang berteriak-teriak sambil menangis sehingga kami menyadari dan segera menolong mbak Lila. Kejadian menyeramkan itu belum selesai karena akhirnya kami melihat sendiri sosok tinggi besar itu masuk ke kamar Abah. Khawatir terjadi sesuatu pada Abah, aku langsung menyusul dan mendapatinya tengah bermain-main dengan benda-benda yang dikatakan Ami sebagai jimat. Waktu aku pertanyakan, Abah tak bisa menjawab karena keadaannya linglung seperti saat baru datang ke sini. Aku benar-benar dibuat kebingungan.
"Abang jangan percaya begitu saja!" Kata Ami, saat kami berada di ruang kantor. Pembicaraannya yang menggantung membuatku bingung.
"Apa Mi?" aku balik bertanya.
"Abah ... Abah itu mencurigakan. Abah pasti ada kaitannya dengan apa yang terjadi dengan mbak Lila. Aku sangat curiga, ada sesuatu yang direncanakan Abah. Bang, sudah bertahun-tahun kita tinggal di rumah ini dan nggak pernah sekalipun kita berurusan atau melihat hal-hal aneh, tapi kenapa sekarang ada makhluk seperti itu. Dia juga lari ke kamar abah, saat Abang memeriksa, Abah juga sedang sibuk dengan barang-barang jimatnya itu. Apa jangan-jangan itu suruhan Abah?"
"Hus, jangan sembarang ngomong Mi. Itu bapaknya kita lho. Kamu tahu kan sebelum ini Abah siapa? Abah itu ustad!"
"Abang percaya Abah ustadz seperti seharusnya? Kalau ustadz sungguhan yang lurus, nggak akan zalim pada keluarganya sendiri, pada orang yang ia benci. Paham nggak sih bang? Aku ngerti bang, tapi tetap harus waspada. Bisa saja kan ini semua ulahnya Abah. Aku benar-benar takut, feeling aku Abah sedang merencanakan hal buruk pada mbak Lila. Dan kalau kita tetap diam saja, bisa saja berikutnya kak Yohana, Abang, aku atau Alif!"
"Astagfirullah." Aku mengerutkan kening. Tak paham dengan semua ini. Tapi terpikirkan juga, bagaimana kalau itu semuanya benar. Aku sebagai kepala keluarga saat Abah sedekah sakit berkewajiban melindungi semua anggota keluarga di rumah ini. Lagipula kalau dipikir-pikir, Abah kan sangat benci mbak Lila, bagaimana mungkin Abah bisa secepat itu bersikap baik padanya. Pada Yohana saja Abah ingat, harusnya juga begitu pada mbak Lila.
__ADS_1
***
Aku dan Ami sepakat memata-matai Abah. Kami ingin membuktikan apakah dugaan Ami benar atau salah. Hasilnya, sungguh mengejutkan. Abah benar-benar bermain dengan hal ghaib. Kejiwaan Abah sebenarnya baik-baik saja, tetapi karena emosi Abah yang tidak stabil, ditambah keinginan yang terlalu tinggi hingga saat semuanya tak bisa terwujud maka Abah berubah menjadi seperti ini.
Aku dan Ami sepakat untuk melakukan ruqyah pada Abah. Kami meminta tolong Buya Ahmad, beliau direkomendasikan oleh guru mengaji Ami. Tapi Buya Ahmad menganjurkan agar kami melakukan ruqyah mandiri. Sebab kami bisa mengaji. Begitu jauh lebih baik dibandingkan di ruqyah oleh orang lain. Buya Ahmad hanya membantu memantau saja.
Waktu buya Ahmad datang, Abah marah besar. Sikapnya itu menunjukkan bahwa sebenarnya Abah kecurigaan Ami benar, ini semua hanya kepura-puraan saja. Tetapi Abah mengelak, ia mengatakan mengingat semuanya karena rajin minum obat.
Abah juga menolak Buya Ahmad karena merasa bahwa ia jauh lebih tahu ilmu agama ketimbang Buya Ahmad. Ia pun ustadz yang memiliki banyak jamaah. Ia merasa terhina dengan didatangkan ustadz lain.
"Ben ... Ami, Abah ingin membuat pengakuan. Tapi kalian harus percaya bahwa Abah melakukan ini semua demi kebaikan keluarga kita. Abah mohon, jangan lakukan ruqyah atau panggil-panggil ustadz sebab Abah baru melakukan kerja sama dengan orang pintar." kata Abah, membuat pengakuan. "Ini demi kebaikan keluarga kita. Kalian berdua tidak tahu, ada orang yang sedang berusaha mendukun-dukuni Abah. ia ingin menghancurkan keluarga kita. Makanya, Abah harus melawannya. setelah urusan Abah dengannya selesai maka Abah akan bertaubat dan semua akan kembali seperti semula. jadi tolong kalian berdua jangan kacaukan rencana Abah, biarkan Abah melakukan perlawanan ya." pinta Abah.
"Lihat. apa aku bilang. Sekarang Abang percaya, kan?" kata Ami padaku sebelum ia beralih pada Abah. "Aku nggak paham dengan cara pikir Abah. Tahu kan, perbuatan Abah itu sama dengan menyekutukan Allah, dosanya amatlah besar. Abah paham nggak sih? Apa Abah nggak takut sama Allah? Iya kalau Abah masih ada waktu, kalau nggak? Abah mau selamanya di neraka?"
__ADS_1
"Mi, ini demi kamu juga. Abah rela berkorban. Lagipula selama ini Abah sudah jadi orang baik, dosa sedikit ini tak akan mengurangi banyak pahala Abah. jadi, tolong biarkan Abah ya." Abah melakukan negosiasi dengan Ami, tapi adikku tetap tak mau. Ia tetap keras pendirian bahwa Abah harus segera bertaubat.
"Jawab pertanyaan aku, makhluk yang dilihat mbak Lila itu dari Abah, kan? Apa maksud Abah? Jawab jujur atau aku akan bongkar semuanya ke orang-orang dan minta Buya Ahmad untuk meruyqah Abah sekarang juga!" ancam Ami.
"Dia ... Abah akan menjadikannya tumbal untuk melancarkan rencana Abah mengalahkan lawan kita." kata Abah.
"Astagfirullah." kataku dan Ami bersamaan. Ami langsung naik darah, ia sudah tak bisa menahan diri lagi.
"Abah itu benar-benar keterlaluan ya. Abah nggak takut dosa. Pantas sama manusia saja Abah tega, sama Allah saja Abah kelewatan batas. Selalu merasa dirinya paling alim, paling baik, paling salih tapi sebenarnya kebalikannya. Aku benar-benar nggak sabar melihat semua ini. Abah sangat jahat sekali. Abah sudah zalim pada Alif dengan mengorbankan ibunya. Ingat bah, tiap perbuatan akan mendapatkan balasannya. Kalau Abah tidak mau bertaubat, sekarang juga aku akan keluar dari rumah ini, aku nggak akan pernah mau lagi menginjak kaki di rumah ini. Aku bukan lagi anak Abah!" ancam Ami.
"Mi ... Jangan begitu nduk. Abah melakukan ini demi kamu. Kalau Abah tak mengorbankan dia, kamu yang akan kena." kata Abah dengan suara bergetar.
"Apa maksud Abah?" tanya Ami.
__ADS_1
"Mi, namanya kita menginginkan sesuatu maka harus ada yang kita tukarkan sebagai pengganti. Orang pintar itu meminta perempuan di keluarga kita. Abah tak mungkin mengorbankan kamu. Biarkan dia saja, toh dia bukan keluarga kita. Lagipula perempuan itu sudah menghancurkan nama baik keluarga kita. Gara-gara dia abangmu ...." belum selesai Abah melanjutkan perkataannya, Ami langsung memotong.
"Cukup bah, sekarang abah pilih Ami atau dendam Abah?" tantang adikku dengan berani.