Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda


__ADS_3

Setelah dua puluh empat jam terjaga, akhirnya mata ini bisa terpejam juga. Tapi tiba-tiba terbangun mendengar suara teriakan Abah. Teriakan yang cukup memekakkan telinga diikuti suara Ami dan tangisan Alif. Sesuatu yang tidak baik pasti tengah terjadi, aku segera bangkit dengan mata masih lima Watt, saat berjalan, seluruh badan rasanya sakit, seperti tulang belulang remuk. Memang begitu yang akan juga rasakan jika ditinggalkan oleh orang tua yang amat kita cintai.


Sampai di ruang tamu, aku melihat Abah marah-marah pada Ami, ia memaksa adikku untuk memanggil Bunda, menyiapkan sarapan dan kopinya. Memang, tiap pagi itu adalah rutinitas yang tak pernah ditinggalkan oleh bunda, bahkan saat ia sakit kemarin pun bunda selalu melakukannya. Melayani Abah semaksimal mungkin mesku perlakuan Abah masih sering buruk pada bunda


Ami sudah menjelaskan pada Abah bahwa bunda sudah tiada. Kemarin kami baru memakamkannya, tapi mendengar itu, Abah bukannya menerima malah memaki Ami hingga terjadilah reriak-teriakan yang membuat Alif ketakutan.


"Mi, sudah, biar Abang yang bicara. kamu bawa Alif masuk ke dalam." kataku. Lalu mengajak Abah yang masih diselimuti emosi untuk duduk. Aku pernah diajari, kalau kamu sedang marah dan posisimu berdiri, maka duduklah, kalau belum hilang juga emosimu maka berwudhu atau berbaringlah. "Bah, maaf ya, bunda belum bisa menyiapkan sarapan Abah. ini, Abah sarapan dulu dengan Ben. Nasi sama kopinya sudah ada." kataku, sambil menyodorkan nampan berisi makanan dan segelas kopi yang dibuatkan Ami. Asapnya mengepul, aroma khas kopi Lampung tercium ke hidung.


"Kemana ibumu? Sudah berani ia kelayapan tanpa izinku. ini pasti karena ia suka ikut kajian ustadz lain selain aku, akhirnya ia jadi liar dan sudah diatur. Aku benar-benar tak habis pikir dengannya. Sudah ku didik baik-baik tapi tetap saja membangkang, makanya anak-anaknya juga jadi tak teratur. Sigit jadi liar juga, Ami jadi pelawan dan kamu Ben, kapan kamu akan lulus? aku benar-benar malu denganmu, Ben!" Kini Abah malah balik memakiku.


Tapi ku biarkan saja Abah melontarkan semua kekesalan dan kemarahannya padaku dari pada Abah memaki bunda yang sudah tiada, aku mengangguk -angguk, mengaminkan tuduhan Abah. Bahkan sesekali ku ucapkan permohonan maaf sebab sudah mengecewakannya. Aku memang payah. Rasanya menyesal sekali. Meski Abah bukan ayah yang sempurna dan bahkan sering membuatku terluka, tapi ia tetap ayahku yang harus aku perlakukan dengan baik. Tak terasa air mata menetes. Aku menunduk, terisak dengan penyesalan.


Aku selalu merasa menjadi orang yang terzalimi oleh ulah kedua orang tuaku, tapi tanpa sadar akupun melakukan hal yang sama pada mereka. Aku tak patuh, sering mengumpat, mengabaikan apa kata mereka dan jarang sekali kedua tangan ini menengadah, memohonkan pada Allah, doa-doa untuk Abah dan Bunda. Padahal Tuhan lah yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Bisa apa kita tanpanya.


"Eh eh eh, kenapa kamu nangis?" tiba-tiba Abah menarik pundakku, tangisku pun makin menjadi-jadi. "Ben, kamu nangis? Beni! Eh, kamu itu anak laki-laki. Iya kamu itu sering membuat Abah kesal, tapi kamu juga anak abah yang Abah sayangi. Kamu itu juga pernah membuat Abah senang. Kamu nggak salah banyak kok. Cuma sedikit dan sekarang Abah sudah memaafkan kamu. Jadi jangan nangis ya!" kata Abah, ia memaksaku mengangkat kepala.


"Benar Abah sudah memaafkan aku?" tanyaku, dengan suara serak.

__ADS_1


"Iya, Abah sudah memaafkan kamu. Malah menurut Abah kamu jauh lebih baik dari anak abah yang lain. Kamu itu kesayangan Abah. Tapi jangan bilang Sigit dan Ami ya." kata Abah sambil berbisik. "Kalau mereka dengar nanti mereka cemburu. Kemarin Abah berbohong pada Sigit dan Ami, Abah katakan kalau mereka kesayangan Abah, padahal kamu yang paling Abah sayangi."


"Ya bah. Ben nggak akan bilang siapa-siapa."


"Sekarang ayo hapus air matamu. Masa anak laki-laki Abah nangis. Nanti kalau sudah besar, kamu yang akan jadi ustad menggantikan Abah, saat kajian nanti Abah akan umumkan ke jamaah Abah, kamu ikut naik mimbar sama abah ya."


"Iya, bah."


"Nah begitu dong. Harus semangat dan nurut sama abah. Supaya kamu jadi ustadz besar. Sekarang Ayo makan, Abah sudah lapar. Nanti Abah ajak kamu ngisi kajian di masjid Agung. Di sana ada banyak Snek. Nanti amplopnya juga untuk kamu..Tapi jangan bilang-bilang abangmu. Kita berangkat diam-diam. Abangmu Sigit, juga suka kalau dikasih amplop, katanya buat jajan di sekolah, padahal abah mau dia beli kitab untuk dibaca. Dia itu ilmunya masih dangkal sekali. Abah miris sekali dengannya "


Abah menepuk pelan pundakku sambil menyuap makanan ke mulutnya. Aku merasa mataku Kembali hangat, tapi ku tahan agar tak ada bening air mata yang jatuh. Tak ingin merusak momen bahagia ini.


Usai menemani Abah makan, tak lupa ku berikan obat pada Abah. Awalnya Abah menolak sebab merasa tak sakit, tapi aku berkilah itu adalah vitamin agar Abah kuat untuk safari Dakwah makanya ia langsung meminumnya. Abah memang masih harus rutin meminum obat agar emosi stabil dan tak lagi berhalusinasi. Meski saat ini kondisi Abah sudah cukup memprihatinkan sebab sering lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya.. seperti sekarang, Abah yang masih mengira bunda dan bang Sigit masih ada dan masih menganggap ia adalah ustad yang masih mengisi kajian.


"Sekarang Abah istirahat ya, nanti setelah bangun kita ke masjid Agung." kataku, sambil membimbing Abah menuju kamar.


"Cie yang senang di peluk abah." tiba-tiba Ami muncul dari balik pintu dapur saat aku keluar dari kamar Abah.

__ADS_1


"Apa sih?" aku pura-pura cuek.


"Ciee Abang, sekarang jadi anak kesayangan Abah! Cie yang nangis di puk puk Abah." tawa Ami lepas. Aku langsung menggetok pelan kepalanya, ia sempat pura-pura kesakitan, tapi ku abaikan. "Awas ya, nanti aku adukan ke Abah. anak kesayangannya nakal."


"Sana adukan." kataku.


Kami berdua saling melempar ejekan. Ia terus mengolok-olok, sementara aku membalas dengan ejekan lain. Tawa kami lepas hingga akhirnya kami pun tersadar bahwa masa-masa seperti ini dahulu sempat terjadi, namun tak lama sebab Abah yang sangat otoriter.


"kangen bunda, bang Sigit dan kak Yohana." kata Ami.


"Ya." kataku.


"Apa kita akan ketemu dengan kak Yohana lagi?" tanya Ami.


"Entah, terserah Tuhan."


"Bang, carilah kak Yohana."

__ADS_1


"Ya." kataku. Aku pasti akan mencari Yohana.


__ADS_2