
Pukul empat dini hari, aku dan Yohana bersiap meninggalkan panti. Yohana mencium pipi kiri, kanan dan kening Upik juga Puti secara bergantian pelan-pelan saat mereka masih tertidur.
Awalnya kami berencana akan berangkat pukul delapan pagi usai sarapan namun Yohana memintaku mengubah semua rencana sebab ia tak yakin sanggup berpamitan saat kedua anak itu masih terbangun. Ia sudah sangat menyayangi kedua anak malang itu, apalagi dengan riwayat hidup mereka yang hampir sama dengannya.
"Tak ada yang menyayangi ansk-anak ini, sama seperti aku dahulu." begitu kata Yohana.
Usai pamit dan menitipkan anak-anak pada pengurus panti, aku dan Yohana naik ke mobil. Kami siap berangkat, mobil sudah dinyalakan, namun tiba-tiba terdengar suara Upik dan Puti memanggil-manggil Yohana. Tak lama mereka keluar sambil berlari, ibu panti memberi isyarat agar kami segera berlalu. Aku memberi isyarat kepada sopir untuk segera melajukan mobil.
Kedua anak itu terlihat menangis, mereka memanggil Yohana lebih keras lagi sambil berusaha kan diri dari cengkraman Ibu kepala panti. Telah mereka lepas, kedua anak itu berusaha mengejar mobil kami, namun tak bisa karena kecepatan mereka kalah. Sama seperti anak-anak itu, Yohana pun menangis. ia bahkan minta untuk tidak jadi ikut saja sebab tak tega pada kedua anak tersebut, namun aku tak bisa.memniatkan Yohana di sana karena di sini bukanlah tempatnya. Kehidupan di sini tak cocok dengan Yohana.
"Han, bersabarlah. InshaAllah di sini yang terbaik untuk anak-anak. Kita juga tak akan lepas tangan begitu saja. Kita akan tetap memantau mereka dari Depok, kalau ada kesempatan kita datang ke sini." Kataku pada Yohana yang masih saja menangis.
***
Perjalanan kali ini benar-benar penuh dengan air mata. Sepanjang jalan, mulai dari di mobil, sampai bandara lalu naik ke pesawat, Yohana tak kunjung berhenti menangis. Ia bahkan tak peduli sudah menjadi pusat perhatian orang-orang. Yang ada di pikirannya hanya Upik dan Puti. Aku mencoba memahami, makanya ku berikan ia ruang untuk meluapkan emosinya.
__ADS_1
[Kalian sudah dimana? Nanti kalau sudah sampai di bandara Soekarno Hatta, akan ada yang datang menjemput.] Pesan dari Riko. Aku membalas bahwa kami ada di ruang tunggu, sebentar lagi akan naik ke pesawat. Setelah itu Hp ku matikan, fokus pada Yohana yang masih menangis, sesekali ku tawaru air mineral, barangkali ia haus, tapi ia menolaknya.
Kami sudah berada di pesawat, sepanjang jalan, aku mencoba mengajak Yohana bicara. Rasanya sudah cukup untuknya menangis, tapi Yohana hanya diam, menanggapi ala kadarnya saja.
"Kau tahu Han, kamu adalah perempuan yang amat aku cintai. Aku tak akan membiarkan kamu menangis lagi. Kamu adalah sumber kebahagiaan untukku, selanjutnya aku akan berjuang untuk kebahagiaan kamu." Kataku, sambil tersenyum, tapi ia tak peduli.
Sampai di bandara, seperti yang dikatakan Riko, ada seorang supir yang menjemput kami. Kini tangis Yohana telah reda bersama dengan matanya yang membengkak. Mungkin karena terlalu lelah akhirnya ia tertidur juga. Aku hanya bisa menyaksikan pemandangan dari kaca mobil.
Hei, kemana ini? Aku baru menyadari kalau mobil melaju berlawanan arah dengan arah rumahku. Saat ku tanya pada supir ia hanya mengatakan akan mengantar ke tempat yang disuruh oleh bosnya yaitu Riko dan Reni. Saat aku mengirim orang tua Bre pesan mempertanyakan kemana mobil ini akan membawa kami tapi Riko tak mau menjawab, ia hanya menyuruhku untuk ikut saja. Aku juga diminta istirahat selam perjalanan agar nanti saat sampai fresh. Tapi bagaimana bisa Istura kalau aku sendiri tak tahu mau dibawa kemana.
Aku mengernyitkan dahi, tak paham dengan pembicaraan Riko. Namun karena tak tahu harus apa dan Yohana kebetulan tidur makanya aku yang juga sebenarnya lelah akhirnya tidur juga.
***
"Pak ... Bu, maaf kita sudah sampai." Kata supir tersebut. Membangunkan kami yang masih terlelap di kursi masing-masing.
__ADS_1
Aku menatap sekeliling, ini seperti di area puncak, kami kini parkir di depan vila yang sangat mewah. Tak berapa lama keluar Ami, Reni sambil menggendong Bre, Riko, mbak Lila yang menggandeng Alif, Genta, mas Yanuar dan Puji. Mereka menyambut kedatangan kami dengan suka cita.
Alif langsung berlari ke pangkuan Yohana. Sepertinya ia tak melupakan ibu asuhnya itu. Mereka melepas rindu dengan pelukan yang sangat lama. Aku bisa merasakan betapa mereka berdua saling merindukan namun keadaan yang memisahkan dua orang itu.
"Han, aku senang kita bisa ketemu lagi. Aku sangat berterima kasih karena kamu merawat Alif dengan sangat baik selama ini hingga ia tumbuh jadi anak yang baik. Terimakasih banyak ya Han." Kata mbak Lila pada Yohana. Ibu angkat dan ibu kandung Alif saling berpelukan.
"Jadi, untuk apa kalian membawa kami ke sini." Kataku.
Riko dan Genta membawaku ke salah satu kamar, sementara yang perempuan membawa Yohana ke kamar yang lain. Di sana, aku diminta berganti pakaian mengenakan stelan Koko dan jas putih. Melihat pakaian ini mengingatkan aku tentang pengantin laki-laki. Aku minta penjelasan dari mereka.
"Yap, betul sekali. Hari ini kami mempersiapkan pernikahan kamu dan Yohana. Memang sangat sederhana namun InshaAllah sesuai dengan apa yang kamu mau. Kami ingin membantu kamu agar bisa segera bersatu dengan Yohana, Ben. Sudah waktunya kalian berlabuh setelah penantian yang amat panjang." Kata Riko, salah satu teman yang paling tahu bagaimana perjuanganku.
"Lalu bagaimana dengan Yohana? Apa ia setuju?" tanyaku. Pernikahan ini sangat dadakan, kami berdua benar-benar tak ada persiapan, bahkan belum membicarakan apapun untuk masalah pernikahan meski kami memang berencana menikah secepatnya. Tapi kan tetap saja harus ada kemantapan hati. Riko mempertanyakan kesiapan aku, untuk urusan Yohana, kalau tak ada komplen dari kamar wanita berarti tak ada masalah. "Baiklah, aku juga siap menikah hari ini." Kataku, mantap, dan langsung disambut dengan ucapan hamdalah.
***
__ADS_1
Hari ini akan jadi hari bersejarah untukku dan Yohana. Hari yang kami nanti meski jadi kejutan untuk kami berdua. Aku dan Yohana, kami mengenakan pakaian berwarna senada. Putih silver dengan hiasan khas pengantin. Hati ini, aku mengucapkan ijab Kabul di hadapan penghulu dengan wali hakim karena orang tua Yohana telah tiada. Setelah itu, Yohana mencium punggung tanganku dan aku menyambut dengan hati berdebar-debar. Aku dan dia telah resmi menjadi sepasang suami istri.