
Riuh tepuk tangan memenuhi ruang rapat usai pelantikan kepala yang baru. Setelah itu, satu-persatu orang-orang yang hadir di ruangan tersebut menyalamiku, mengucap selamat atas keberhasilan yang aku raih. Tak terkecuali dengan pak Mahen, orang yang berjuang agar aku bisa sampai di titik ini. Lelaki paruh baya itu menepuk pelan Punggungku sembari menyatakan kebanggaannya atas pencapaian yang sudah kuraih.
"Ini semua juga berkat bapak yang tak pernah bosan membimbing saya!" Kataku, membalas hangat pelukannya.
"Oh ya Ben, jangan lupa mampir ke rumah kakeknya Bre, ia sudah menunggu kehadiranmu. Katanya sudah dimasakin sama neneknya Bre. Mereka ikut bangga atas apa yang sudah kamu capai!" tambah pak Mahen.
Tadi pagi, sebelum berangkat ke kantor, om Bili sudah mengirim pesan agar nanti malam aku datang bersama keluarga, selain kamu juga akan ada Reni, Riko dan Bre juga tentunya. Aku menyambut baik undangan tersebut sebab bagaimanapun om Bili ikut berjasa atas karirku ini.
Rencananya, aku akan pulang lebih cepat sebab pukul sepuluh ada peresmian cabang sanjai Yohana. Juga rumah makan Padang miliknya. Semua itu atas usaha dan kerja keras Yohana sehingga dalam dua belas tahun ini ia bisa membuka lima cabang toko oleh-oleh khas Sumatera di Jabodetabek dan dua resto khas masakan Sumatra Barat.
Setelah urusan pelantikan selesai, aku bergegas menuju resto dan toko oleh-oleh yang berdampingan. Di sana Yohana dan Caca sudah menunggu. Dua perempuan yang amat ku sayangi itu menyambut kedatanganku dengan hangat.
"Akhirnya ayah datang juga, kalau sampai ayah terlambat bisa-bisa bunda menyuruhku menjemput ayah!" ucap Caca. "Peresmian ini tak akan berjalan tanpa kehadiran ayah, padahal tamu-tamu sudah berkumpul dan semua sudah tak sabar dengan hidangan yang menggugah selera." Tambah Caca yang mengadu kalau ia sengaja tidak sarapan tadi pagi agar bisa menyantap banyak makanan di sini, tapi buru-buru menyantap, masuk saja ia tak bisa karena pita sudah terlanjur dipasang, Yohana tak mengizinkannya masuk sampai pitanya di gunting.
"Kasihan sekali putri kesayangan ayah, baiklah, sekarang ayo kita gunting pitanya!" Kataku yang tak tega mendengar kalau Caca kelaparan. Baru saja kami ingin menggunting pita, tiba-tiba seorang pemuda berperawakan seperti bang Sigit datang, Alif, anak bang Sigit yang sudah tumbuh menjadi pemuda, ia rupanya sengaja datang untuk melihat peresmian yang menjadi pencapaian ibu asuhnya.
__ADS_1
"Selamat ya Bu, aku benar-benar bangga dengan ibu yang sudah berusaha dengan gigih hingga pencapaian ini." Kata Alif yang disambut dengan bahagia oleh Yohana sebab akhirnya putra kesayangannya pun ikut hadir meski jadwalnya sangat sibuk untuk persiapan masuk angkatan. Alif memang berniat menjadi seorang TNI, ia sedang bersiap mengikuti ujian seleksi agar cita-citanya tercapai.
Usai acara peresmian; aku, Yohana, Caca dan Alif makan di meja makan yang sama. Sementara tamu-tamu yang lainnya duduk di meja lainnya. Berkumpul seperti ini adalah hal yang paling disukai oleh Yohana, meski sebenarnya masih kurang empat anak lagi yaitu Bre, Amir adiknya Alif, juga Diva dan Remi, anaknya Ami yang kini tinggal di luar kota.
Usai makan bersama, kami kembali ke rumah untuk mempersiapkan diri menghadiri undangan makan malam om Bili dan keluarganya. Yohana paling sibuk, selain menyiapkan pakaian kami bertiga, ia juga menyiapkan oleh-oleh.
"Barang bawaannya banyak sekali sayang, sudah seperti mau ke tempat besan saja." Aku berseloroh, spontan Caca langsung melirik. "Jangan-jangan malam ini putri kita akan dilamar." Aku melanjutkan guyonan.
"Ayah!" Caca melotot, ia tampak tak suka dibecandai masalah ini karena aku tahu hatinya condong pada Alif, begitu juga sebaliknya. Meski tak menjalin hubungan, tapi Alif sudah bertekad akan melamar Caca saat ia lulus jadi TNI nantinya.
Sebelum terjadi perdebatan yang berakhir pada pertengkaran antara aku dan Caca, Yohana langsung menengahi. Ia menyuruh kami menjaga jarak dan saling diam. "Lagian kalian berdua apa tidak sadar juga. Anaknya sudah semakin besar, tak lama lagi akan menikah dan dibawa suaminya, jadi berdamai lah karena waktu kebersamaan kalian tak akan lama, tak akan lebih dari lima tahun." Kata Yohana.
"Ayah kenapa diam? Pasti tak sanggup ya kalau harus melihat aku menikah? Ayah pasti sedih kan jika suatu hari aku dipersunting dan dibawa suamiku?" Caca balik mencandai aku yang memang untuk urusan seperti ini akan menjadi sangat mellow. "Hmmm, kira-kira kalau ayah punya putri lebih dari satu, apakah akan semelow ini?" tambahnya.
Pandangan mataku beradu dengan Yohana. Kami seolah saling bicara dalam diam. Ya, sebenarnya kami masih punya dua putri lainnya. Upik dan Puti. Namun entah dimana ia sekarang. Tiba-tiba saja Yohana bangkit, ia berlalu menuju kamar. Caca bingung.
__ADS_1
"Nak, mungkin kami belum pernah membahas sebelumnya, tapi ayah minta jangan lagi bicara seperti itu karena sebenarnya masih ada dua putri lain yang sama seperti kamu, nak." Kataku. "Dua putri yang lebih dahulu, namun mereka menghilang dan hingga kini kami tak tahu keberadaannya. Bunda akan sangat sedih setiap mengingat mereka berdua karena mereka sama denganmu. Menjadi cahaya hidupnya."
"Ya Allah, maaf Yah," Caca terlihat menyesali perbuatannya. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Tak apa, beri sedikit waktu untuk ibumu, ya." Aku bangkit menuju kamar untuk menyusul Yohana. Sampai di sana, seperti dugaanku, ia tengah menangis. Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat, ada banyak kesedihan yang terus dijaga Yohana. Harapan untuk bertemu yang menurutnya semakin sedikit hingga membuatnya sangat tersiksa. "Maafkan Caca untuk apa yang dikatakannya tadi." Kataku, sambil meraihnya dalam pelukan.
"Tak mengapa, ia tak tahu apa-apa. Aku saja yang sampai sekarang tak bisa menguasai perasaanku. Aku benar-benar rindu kedua anak itu!" Tangisnya semakin menjadi.
"Jangan putus berdoa sayang, aku yakin kita akan menemukan mereka!" Kataku. Meski rasanya kemungkinan itu semakin hari semakin berkurang, tapi melihat Yohana yang masih sangat yakin sehingga membuatku pun ikut meyakininya.
"Bolehkah aku ke Sumatra lagi?" tanya Yohana.
"Ini sudah yang keempat kalinya dalam tiga bukan ini sayang."
"Tapi ...."
__ADS_1
"Baiklah. Tapi aku tak bisa menemani karena pekerjaanku sedang banyak-banyaknya."
"Tak mengapa, aku bisa pergi dengan Caca." Meski ini akan menjadi yang pertama kali untuk Caca, namun aku tak keberatan. Ia sudah remaja, sudah paham bagaimana cara menjaga ibunya dan mengembalikan suasana hatinya kalau tiba-tiba Yohana sedih.