
Ternyata masalah anak masih terus berlanjut. Yohana seperti kehilangan semangat hidup. Ia sering melamun, bahkan sampai kebawa mimpi. Padahal, kami seharusnya santai. Cepat atau lambat diberikan amanah tak akan ada yang merecoki. Kedua orang tua kami sama-sama sudah tidak ada. Satu-satunya saudara yang aku miliki hanyalah Ami yang benar-benar tak pernah menyinggung masalah ini. Mungkin ia tak terpikirkan atau tak mau ikut campur urusan rumah tangga saudaranya. Yang jelas, hanya hati kami berdua saja yang memikirkan.
Puncaknya, malam ini akhirnya ia berbicara lagi denganku, setelah pembicaraan kami beberapa hari lalu. Yohana menyampaikan harapannya ingin memiliki keturunan. Ia merasa kesepian, ia ingin memiliki anak untuk diurus, menjadi penghibur dan juga penyemangat hidupnya.
"Sayang, apa aku kurang?" Tanyaku. "Apa aku tak bisa jadi penghibur, apa aku benar-benar tak berarti hingga kamu kesepian? Padahal aku selalu berusaha punya waktu untuk kamu di tengah kesibukanku. Dua puluh empat jam, selalu ada kamu. Meski aku di kantor, saat senggang aku tak pernah lupa menghubungi kamu, lewat telepon atau pesan. Apakah masih kurang, sayang?" Tanyaku.
Yohana langsung tertunduk. "Bukan begitu, sayang. Aku ...." Ia seperti kebingungan. Aku paham itu. Sebenarnya bukan dia saja yang ingin memiliki anak, aku juga, tapi kalau kami sudah sama-sama berusaha hanya saja belum juga dikasih, lalu apakah harus memaksakan diri? Membuat susah diri sendiri dengan terus-menerus meratapi. Yang ada malah menyiksa diri. Aku tak suka jika Yohana seperti itu. "Tidak bisakah kita berusaha lebih?"
"Harus bagaimana? Usaha lebih seperti apa yang kamu inginkan? Han, kita sudah melakukan semua yang kita mampu. Tapi masa kita harus ngatur Tuhan. Kalau belum ya sabar dulu. Mau usaha seperti apa kalau memang belum ya nggak akan dapat."
"Kita bisa ke dokter. Program atau apa saja agar segera punya anak. Aku pernah baca secara tidak sengaja,, sekarang teknologi sudah sangat canggih, ada banyak cara untuk memiliki keturunan. Mungkin kita bisa mencobanya." Yohana mengambil Hp miliknya di atas bufet. Ia menyerahkan beberapa artikel yang sudah di download. Menandakan bahwa ini bukan hanya kebetulan saja. Ia benar-benar mencarinya.
"Sayang, cara seperti ini tidaklah murah. Kita butuh biaya yang besar dan jujur, saat ini aku belum mampu. Maukah kamu bersabar sebentar saja. Kita tunggu beberapa tahun ini, barangkali tanpa harus mengikuti semua ini kita bisa memiliki keturunan." Aku berusaha membujuknya. Menenangkan hatinya kalau kehidupan pernikahan kami tetap akan baik-baik saja meski belum memiliki keturunan. Bahkan aku sampai berjanji siap jadi tameng kalau suatu saat ada yang berani mengusik ketenangan hatinya karena perkara anak.
__ADS_1
"Kamu benar-benar tidak mengerti!" Ia tampak kesal, lalu berbaring membelakangi aku. Tak lama terdengar suara Isak tangis. Yohana menangis. Dan itu benar-benar membuatku hancur!
Meski sebenarnya aku ingin bicara, namun tertahan karena ketidak mampuan. Makanya ku biarkan saja ia menangis sampai tidur.
Han, aku bukannya tak paham. Aku pun merasakan apa yang kamu rasa. Aku rindu ingin memiliki keturunan juga. Bahkan aku sangat penasaran, seperti apakah wajah anak kita nantinya. Tapi sekarang belum waktunya. Kita hanya harus pasrah.
***
"Semuanya sepertinya baik-baik saja. Tapi sebaiknya dites lab saja kedua-duanya untuk melihat apakah ada masalah atau tidak. Jadi kita bisa tahu apa kendalanya dan mencari solusinya." Kata dokter Asih, dokter yang kami pilih.
Untuk menenangkan Yohana, ditambah agar besok-besok tak perlu ke rumah sakit lagi, akhirnya aku menyetujui juga sebab pekerjaanku sebenarnya sangatlah padat, jadi susah untuk meminta izin. Kalau sekarang sudah libur sebaiknya ditotalkan semuanya selesai hari ini juga.
Usai menjalani semua rangkaian pemeriksaan, aku dan Yohana diminta pulang. Kami kembali datang sepekan lagi setelah aku mendapat izin kerja. Yohana tampak tak sabar mendengar penjelasan dokter.
__ADS_1
"Setelah rangkaian pemeriksaan, saya menyimpulkan permasalahannya ada pada ibu Yohana, kata dokter Asih, sambil memperlihatkan hasil lab kami. Ia menjabarkan secara detail tentang kondisi Yohana. Dimana Yohana mengalami ketidaksuburan permanen. Ini bagai petir di siang bolong, apalagi saat tahu apa penyebabnya.
"Katakan semuanya, Han. Jangan ada yang ditutup-tutupi." Pintaku. Saat kami sudah berada di jalan. Aku sengaja menepi untuk bicara empat mata dengannya. Kalau harus sampai di rumah, aku khawatir Ami mendengarnya. Ini masalah keluargaku, tak boleh ada yang ikut campur.
"Bunda memberiku obat-obatan itu. Aku tak tahu kalau itu obat yang bisa membuatku tak akan memiliki keturunan selamanya. Ben, setelah menikah dengan bang Sigit, bunda melarang ku untuk berhubungan dengannya sebab bunda tak mau punya cucu lain dahulu. Aku harus menjaga diri, bunda bilang itu hanya pil KB biasa yang tak ada pengaruh apapun. Tapi ternyata itu bukan pil KB, melainkan obat kanker bunda. Aku juga tak tahu seberapa bahayanya obat itu. Aku hanya mengikuti keinginan bunda saja sebab aku percaya pada bunda, Ben." Kata Yohana sambil menangis.
Astagfirullah, bunda. Kenapa tega melakukan semua itu. Sekarang bukan hanya Yohana yang menanggung penderitaan itu, tapi aku juga. Kami tak akan pernah bisa memiliki keturunan. Obat-obatan itu merusak sel dalam rahim Yohana hingga ia tak akan pernah bisa memiliki keturunan.
"Aaaaaaaaa!" Aku berteriak sekencang mungkin, tak peduli jika kendaraan yang lalu lalang melihat kami. Yang aku tahu diriku benar-bemar terluka. Aku kehilangan semangat hidup. Aku dan Yohana tak akan pernah punya anak, padahal kami sangat mendambakan hanya karena ulah bunda. Padahal saat itu Yohana sudah membantu menutupi aib bang Sigit, dengan mengorbankan mimpinya kala itu bersamaku, tapi sekarang beginilah kenyataan yang harus kami terima. Inilah balasan yang bunda berikan. Balasan yang sangat menyakitkan.
"Ben, jangan menangis. Jangan begitu. Aku tak bisa melihat kamu seperti ini." Pinta Yohana sambil menggenggam tanganku erat-erat.
"Aku tak tahu harus bicara apa. Aku ...." Aku tak sanggup bicara apapun. Badan rasanya sangat lemas sekali. Hati begitu hancur. "Han, kamu bisa pulang sendiri, kan?" Kataku. Yohana tampak terkejut. "Aku ada sedikit urusan. Kamu bisa pulang sendiri, kan? Akan aku carikan taksi ya." Kataku. Lalu beranjak pergi menuju pinggir jalan untuk mencegat taksi kosong yang lewat. Beberapa menit aku menanti akhirnya taksi dapat juga. Aku meminta supirnya mengantarkan Yohana. Ada banyak hal yang ingin dibicarakan Yohana, tapi aku tak memberinya kesempatan bicara. Aku hanya menutup pintu, lalu melambaikan tangan. Membiarkan supir taksi membawanya pulang.
__ADS_1