Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Hanya Kamu Seorang


__ADS_3

Yohana benar-benar ingin pergi tapi menahannya. Aku tak ingin kehilangannya lagi meski semua akan mengutukku, aku tak perduli. Berulangkali aku mengucapkan istighfar. Mungkin ini terdengar aneh, satu sisi bertaubat atas kesalahan yang aku lakukan, sisi lainnya tetap saja menjalankan apa yang hati ini katakan. Yaitu mengejar istri orang!


"Ben, lepaskan!" Yohana memekik. "Kamu ... kamu kenapa sih? Ben, jangan buat kesabaranku habis. Kamu kan yang membuat aku akhirnya sampai ke sini, menjalani hidup yang nggak kalah pahitnya. Kamu kemarin yang menolak perjodohan itu, lalu kenapa sekarang memintaku kembali ke sana?"


"Maafkan aku, Han,"


"Maaf tak akan mengembalikan keadaan Ben. Kamu lihat, semuanya sudah sangat berbeda. Status yang tak mungkin lagi berubah."


"Kala itu aku hanya tak ingin membuat kamu menderita. Berada di rumah tanpa ada yang melindungi hanya akan membuat kamu menderita."


"Seperti apapun penderitaan kala itu, aku tak peduli Ben. Sangat tidak peduli. sebab ada kamu di sisiku. Meski aku tak bisa menjangkau kamu, tapi melihat kehadiranmu sudah menjadi obat untuk rasa sakitku. Berbeda dengan di sini ... Aku benar-benar menderita." ia menangis. "Tapi aku sudah membiasakan diriku. Aku sudah menerima takdirku dengan lapang dada. Lalu kenapa kamu hadir lagi padahal semua sudah sangat rumit. Sudah ada pernikahan, sudah ada anak-anak. Kenapa Ben? Tak bisakah kamu membiarkan aku sendiri?"


"Han, bagaimana mungkin aku bisa melakukan semua itu? Ide gila apa itu, kita tak saling kenal? Kamu bercanda Han. Aku tak bisa. Lebih baik kamu mengutukku dari pada harus pura-pura tak saling kenal. Aku sanggup menghadapi apapun namun tak sanggup bila harus kehilangan kamu lagi. Saat kamu menikah dengan bang Sigit, hidupku hancur. Aku kehilangn semua semangat hidupku. Kamu pergi aku juga kembali hancur, makanya aku di sini untuk mengembalikan semangat hidupku yaitu kamu Han."


"Tega kamu bicara seperti itu setelah apa yang kamu dan mbak Reni jalani."


"Kenapa juga dengan Reni?"


"Kalian sudah menikah dan sudah memiliki bayi. Kamu mau mengkhianatinya atau mau mendua? Tidak Ben, aku tak akan mau. Asal kamu tahu, cukup di duakan oleh bang Sigit, aku masih mampu, tapi kalau itu kamu yang melakukan aku tak bisa!"


"Hei, tunggu dulu. Kamu cemburu? Pada Reni?" aku menatap wajah Yohana yang memerah menahan marah, lalu aku tertawa terbahak-bahak, sekaligus lega sebab ternyata masih ada aku di hatinya.


"Kenapa tertawa? Apanya yang lucu? Ini benar-benar tak lucu, Ben. Berhenti tertawa atau aku akan pergi sekarang!"

__ADS_1


.


"Han, Reni bukan siapa-siapa. Ia hanya sebatas teman. Hanya kamu seorang yang ada di hatiku. Itulah kenapa aku sampai menyusul ke sini, itu semua demi kamu. Aku tak ingin lagi kehilangan kamu!"


"Enteng sekali kamu bicaranya, Ben." Yohana meradang. "Aku paling benci seorang pengkhianat!"


"Sepertinya kamu salah paham . Baiklah akan ku jelaskan meski sebenarnya ini rahasia. Aku dan Reni menikah hanya secara negara, aku melakukan itu demi menolong ia dan bayinya. Reni terkena musibah yang membuatnya hamil diluar nikah. Untuk menjaga kehormatan bayi itu nantinya, ia memintaku untuk menikahinya. Pernikahan ini akan segera berakhir setelah surat-surat Bre selesai." aku menceritakan semua pada Yohana. Peristiwa yang menimpa Reni. Kenapa akhirnya kami menikah dan perjanjian yang kami buat. Selebihnya kami tak ada hubungan apapun.


Yohana tampak lega mendengar ceritaku. Tapi ia juga bersimpati pada Reni. "Kamu harusnya menjaga mbak Reni dengan baik, Ben. Bukan meninggalkannya di sana. Kasihan mbak Reni dan juga bayinya."


"Aku menikahinya juga sebagai bentuk tanggung jawab atas kelalaianku yang meninggalkan Reni sendiri." kataku


"Ya, mbak Reni harus benar-benar dijaga. Ia sudah melewati hal yang tidak menyenangkan. Semoga nantinya ia mendapatkan jodoh yang mencintai dan dicintainya."


"Oh ya?"


Kini aku menceritakan tentang Riko yang sangat mencintai Reni. Namun kondisi keluarganya membuat Riko tak bisa bertanggung jawab atas kehamilan Reni. Kini setelah ia selesai menjadi dokter, ia siap menerima segala konsekwensinya jika menikahi perempuan pujaan hatinya.


"Lalu bagaimana dengan kamu? Kehidupan kamu ini, apakah kamu akan tetap bertahan?" tanyaku.


"Ini adalah jalan takdirku, Ben."


"Han, apa kamu tak mau bercerai dengannya? Lihatlah, hingga saat ini saja ia masih menempel dengan mantan istrinya."

__ADS_1


"Mantan? Itu masih istrinya. Sembarang kalau ngomong!" Yohana menatap sadis.


"Lho, jadi kamu diduakan? Laki-laki seperti itu, yang minim akhlak dan tanggung jawabnya tapi kamu menerima sebagai istri keduanya?"


Yohana menatap bingung, lalu tiba -tiba ia tertawa terbahak-bahak. Giliran aku yang kebingungan.


"Kenapa tertawa? Hei, ini benar -benar tidak lucu. Laki-laki itu bahkan aku yakin ia tak salat, imannya tipis tapi kamu malah memilih yang seperti itu. Menyedihkan sekali kamu, Han!" aku yang sebenarnya kecewa melupakannya dengan mengejek Yohana.


"Apa? Ben, kamu benar-benar tidak berubah ya, sudah sering aku ingatkan untuk tidak sombong. Kamu selalu merasa lebih baik dari orang lain padahal kamu juga mungkin banyak salahnya. Meski ia terkenal urakan dan terlihat kasar tapi ia tak pasang dua!" balas Yohana.


"Maksudnya?"


"Harusnya aku yang bertanya, jadi kamu berpikir aku dan dia menikah? Begitu?"


"Ya. Begitu, kan?"


"Heh, mana boleh saudara kandung menikah. Kami ini saudara sedarah. Haram Ben, haram! Aku juga masih punya otak!"


"Ja ... Jadi laki-laki itu?"


"Ya, ia abangku. Satu-satunya saudara kandungku yang masih hidup. Meski ia buruk dimatamu dan semua orang tapi ia tetap abangku dan aku sangat menyayanginya karena akhirnya aku tahu kalau aku punya saudara sedarah."


"Ya Tuhan, tapi kenapa jadi begi? Bukannya kamu dijemput untuk dinikahkan?"

__ADS_1


"Ya." Yohana menatap jauh ke depan. "Paman dan bibiku orang yang taat, Ben. kamu lihat sendiri, kan? Juga lelaki yang meminangku. Saat di bandara, mereka melihat aku berpamitan padamu. Saudara lelaki itu melihat sendiri kedekatan kita. Saat di kampung paman, aku disidang. Mereka mempertanyakan isi hatiku dan akhirnya aku mengakui semuanya. Aku jujur kalau aku mencintai kamu Ben. Mereka murka dan memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan itu. Awalnya paman dan bibi ingin mengembalikan aku pada keluargamu, tapi aku menolak sebab sadar kalau kehadiranku tak lagi diinginkan. Paman dan bibi tak mau menerimaku, akhirnya mereka mengembalikan aku pada abangku, satu-satunya orang yang meski buruk namun masih mau menampungku." cerita Yohana. "Aku ini gak punya tujuan hidup, Ben. Makanya terpaksa menerima apapun yang diperintahkan abangku sebab ia satu-satunya keluarga yang aku miliki."


__ADS_2