
Damm. Seperti petir di siang bolong. Begitu pulang dari liburan dan kembali masuk ke kantor, aku mendapati berita besar yang disebar Nilam dan berhasil membuat geger orang sekantor. Pantas saja tadi saat masuk kantor, apalagi berada di lift, karyawan lain menatapku dengan tatapan aneh. Bahkan anak magang juga karyawan baru banyak yang berubah sikapnya..Biasanya mereka sungkan, tapi kali ini terasa lebih nekat.
Nilam menyebar berita kalau ia hamil dan yang bertanggung jawab adalah aku. Ia menunjukkan bukti tentangnya yang menginap di hotel yang sama saat aku sedang bertengkar dengan Yohana.
[Aku adalah seorang gadis yang kekurangan kasih sayang seorang ayah. Ku pikir ia tulus menganggapku sebagai anak, tapi ternyata ia hanya memanfaatkan aku saja. Mungkin karena aku terlalu naif dan begitu haus kasih sayang seorang ayah, makanya aku yang bodoh ini mau saja diajak ke hotel dimana ia menginap. Ku kira ia benar-benar lelaki baik yang mencintai anak dan istrinya, tapi ternyata semuanya palsu. Ia melakukan hak bejat itu. Saat aku melawan ia beralibi melakukan semua karena menyayangi aku dan berharap bisa punya anak kandung, darah dagingnya sendiri. Lelaki itu mengajakku ke rumahnya, ia menjelaskan semuanya kepada istrinya, tapi perempuan itu begitu jahat, di belakang suaminya ia malah menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku, ia juga mengatur siasat agar suaminya membenciku hingga aku di usir. Aku memahami, mungkin ia begitu karena cemburu tapi aku tak bisa terima jika aku harus menggugurkan kandunganku. Terimakasih juga ibu Yohana sudah membuatku kehilangan pekerjaan padahal aku hanya anak yatim piatu yang tak punya pegangan hidup, tetapi aku akan tetap bertahan demi masa depan anak yang tak berdosa ini. Salam, Nilam. Semoga pak Beni, istri serta anak angkatnya bahagia selalu.]
Membaca email yang disebarkan oleh Nilam membuatku gemetar. Sungguh keju fitnah anak tersebut. Aku memang pernah menginap di hotel itu tapi tak pernah mengajaknya.
Mendadak kepalaku berdenyut, akankah orang percaya kepadaku, dengan ia yang sudah menjabarkan bukti tersebut?
Aku mengirim pesan pada sekretarisku, memintanya untuk menonaktifkan semua email kantor atas nama Nilam agar ia tak bisa mengakses ke kantor lagi.
Tok tok tok. Seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku. Ku pikir itu adalah sekretaris yang akan memberikan tugas yang belum aku selesaikan, tetapi ternyata seorang karyawan baru. Namamu Nurul. Aku tak terlalu mengenalnya, hanya tahu ia batu diangkat menjadi karyawan baru dua bulan lalu.
"Pak, maaf kalau saya mengganggu." kata Nurul.
"Ya, ada apa?" aku tak terlalu memperhatikan gadis itu, masih sibuk dengan email kantor, memastikan Nilam tak lagi bisa menyusup.
__ADS_1
"Maaf kalau saya lancang, tetapi saya ingin menawarkan diri saya untuk bapak."
"Hah, maksud kamu?"
"Sebenarnya ini pertama kalinya saya melakukannya dan saya harap bapak satu-satunya. Saya menawarkan diri saya untuk menggantikan posisi Nilam. Saya belum pernah melakukannya, tapi karena butuh uang untuk orang tua saya di kampung makanya saya harus melakukannya." ia berbicara dengan jelas tentang keinginannya menjadi perempuan simpanan yang membuatku langsung mual. Ia juga mengaku tak meminta uang banyak, cukup dua kali gajinya saat ini.
"Dengar baik-baik nona, kalau kamu mau jual diri, bukan pada saya tempatnya karena saya tak tertarik dengan kamu meski kamu mengaku memiliki paras dan bodi yang luar biasa sempurnanya..Bagi saya cukup istri saya saja. Tak ada wanita lain. Lagipula semua isu yang dikirimkan Nilam itu tidak benar. Jangan sembarang memfitnah saya atau kamu akan saya penjarakan!" kataku, membuat gadis itu langsung pucat. "Sebaiknya kamu mengambil cuti, jangan kembali apalagi memperlihatkan wajah kamu karena sejujurnya saya malu melihat tingkah anda yang menjijikkan itu!" aku kesal, memakinya sepuas mungkin setelah itu ku suruh ia keluar dari ruanganku.
Agghhhh, benar-benar, anak itu membuatku berada dalam banyak masalah. Pintar sekali ia mengatur semuanya seolah-olah semuanya benar. Aku jadi ingat pak Mahen, makanya ku putuskan untuk menghubunginya sekalian meminta nasihat agar hatiku lebih tenang.
"Perempuan seperti itu memang licik, makanya harus hati-hati Ben, aku sudah mengingatkan kamu sebelumnya. Tapi karena sudah terjadi, aku akan menyiapkan serangan balasan untuknya." kata pak Mahen. Ia menceritakan bagaimana cara menghadapinya padaku.
***
[Lakukan saya apa yang ingin bapak lakukan, saya akan hadapi apapun rintangannya!] balas Nilam.
Aku benar-benar geram membaca balasan dari Nilam, ia benar-benar memposisikan dirinya seolah-olah benar menjadi korbanku. Entah apa tujuan akhirnya, aku pun belum paham, namun kasus ini benar-benar akan aku tanggapi dengan serius. Selain menyerahkan prosesnya pada pak Mahen, aku pun meminta bantuan Genta. Kami berdiskusi panjang untuk menemukan pasalnya.
__ADS_1
Tetapi rupanya nyali Nilam begitu besar, entah bagaimana ia kembali bisa masuk ke grup kantor, entah bagaimana ceritanya ia menyebar cerita dengan bukti foto yang diambilnya saat kami berangkat ke kantor bersama. Ia menuliskan caption yang membuatku mantap untuk memberinya pelajaran.
[Kamu punya satu kesempatan lagi atau akan berada di penjara t!] kataku.
[Silakan saja.] tak lupa ia menambahkan emoticon mengejek sehingga membuatku tak bisa lagi berkata-kata. [Ini juga balasan karena bapak sudah mengusir saya!]
***
Sebelum kabar berita itu sampai lewat orang lain pada Yohana dan Caca, aku melakukannya lebih awal, mengabari pada mereka apa yang sudah terjadi agar tak ada yang kecewa nantinya.
"Jangan pernah meragukan kasih sayang aku ya. Aku tak akan mungkin melakukan semua itu sebab aku sangat mencintai kamu dan Caca. Kalian adalah harapan di hidupku. Secepatnya aku akan menyelesaikan semua agar kita bisa berteman.
"Sungguh keterlaluan sekali anak itu, sudah ditolong malah seperti itu, kalau bertemu denganku, akan ku ajak ia bicara. Harusnya ia tak seperti itu, apa yang dilakukannya pada kita sungguh jahat. Aku sangat kecewa. Bagaimana mungkin ia mengaku-ngaku seperti itu?" kata Yohana.
"Ayah harus berhati-hati, kamu sangat percaya pada ayah." kata Caca.
"Terimakasih banyak, nak. Lagipula ayah sudah cukup tua, ayah hanya ingin anak dan istri ayah mendapatkan yang terbaik. Ayah tak tertarik dengan yang lain. Kalian sudah cukup sebab waktunya sekarang untuk beristirahat!" kataku.
__ADS_1
Aku sangat beruntung sebab berita yang cukup menghebohkan itu telah menyebar namun keluargaku tetap mensupport, mereka paham kalau semuanya hanyalah permainan seseorang yang ingin menghancurkan aku, yaitu Nilam!