
Hari ini kami harus kembali. Yohana terlihat paling berat, tapi aku sudah meyakinkan bahwa pihak panti akan terbuka dan selalu mengabari kami apapun perkembangannya. Juga pak Rizal yang sudah berjanji akan membantu mencari Upik dan Puti. Ia akan mengerahkan seluruh tenaga demi bisa menemukan anak-anak.
Tetapi tetap saja, sepanjang perjalanan, Yohana hanya bisa termenung, kadang air matanya tumpah. Kami benar-benar tak bicara sepatah katapun. Aku hanya memeluk, kadang menggenggam erat tangannya saat ia kembali rapuh.
Sampai di Depok, Yohana langsung masuk ke kamar. Ia berbaring seharian. Bangkit hanya untuk salat. Bahkan makan pun ia abai. Untungnya Ami siaga menemani disaat aku harus membagi pikiran dengan pekerjaan. Kami berdua berusaha menguatkan Yohana yang sedang hancur.
"Bang, kita harus bawa kak Yohana ke rumah sakit. Badannya panas. Tadi aku cek suhunya sudah tiga puluh sembilan. Aku khawatir ia kenapa-napa." Kata Ami saat keluar dari kamar Yohana.
"Demam? Tadi masih baik-baik saja." Aku yang cemas segera menyusul ke kamar dan benar saja, di sana Yohana terpejam, badannya panas, nafasnya berat, ia memanggil Upik dan Puti dengan suara amat lemah, kalau telinga tidak didekatkan ke mulutnya maka tak akan terdengar.
"Ia benar-benar menderita karena kehilangan anak-anak itu," ujar Ami.
"Ya, tahu sendiri kan bagaimana Yohana kalau sudah sayang. Apalagi anak-anak itu nasibnya tak jauh beda dengannya. Mungkin Hana melihat mereka seperti dirinya. Ibu dan bapaknya tak peduli dengan mereka. Sementara Yohana kehilangan orang tuanya sejak ia masih bayi.
Bergegas, aku dan Ami membawa Yohana ke rumah sakit. Ia kini sudah tak sadarkan diri. Aku semakin khawatir dengan kondisinya tersebut. Tanganku tak pernah lepas menggenggam tangannya yang begitu panas. Sudah dua jam kami di rumah sakit, ia masih tak sadarkan diri, akhirnya aku memutuskan agar ia di rawat saja. Aku tak mau ia kenapa-napa.
__ADS_1
"Bang, kira-kira kemana anak-anak itu pergi? Masa tidak bisa dilacak? Kecuali mereka diculik atau ..." Ami menggantung ucapannya. "Terakhir kalian bicara, baik-baik saja, kan? Kalau dengan pihak panti tidak ada masalah, apa mereka sengaja pergi mencari Abang dan kak Yohana?" Ami menatapku.
Aku mengingat kembali pembicaraan tiga bulan lalu, terakhir anak-anak bicara denganku karena Yohana sedang tidak sehat. Ia kelelahan usai melewati pemeriksaan kesehatan. Sepekan Yohana tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Hanya berbaring. Saat itu, Upik dan Puti menyatakan keinginannya berbicara dengan Yohana. Aku yang sengaja membatasi agar Yohana bisa istirahat dulu. Tapi rasanya tak ada yang aneh. Anak-anak juga tidak terdengar marah, mereka menerima hanya berbincang denganku. Rasanya tak mungkin mereka menyusul ke sini. Dari Sumatera ke pulau Jawa itu cukup jauh. Naik pesawat tak akan bisa kalau tak ada orang dewasa yang menemani. Sementara naik kendaraan darat, mereka butuh uang yang tak sedikit. Selama ini anak-anak tak pernah memegang uang, semua kebutuhan mereka kami titipkan pada ibu kepala panti.
"Sepertinya tidak mungkin mereka kemari. Mereka kan masih anak-anak, Mi."
"Bisa saja, bang. Mereka tak mau hidup terkurung di dalam panti. Ya kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Abang dan kak Hana kan tahu bagaimana orang tua mereka, bisa saja kan mereka sengaja kabur karena bosan hidup diatur. Mereka mau bebas, atau ingin kehidupan seperti sebelumnya. Nggak perlu ada aturan, nggak perlu sekolah, nggak ada yang memantau."
"Mi, kamu terlalu menghayal. Anak-anak itu tak seperti yang kamu bayangkan. Mereka anak-anak yang baik. Sudah, jangan bicara seperti itu lagi, kalau Hana dengar ia akan sangat sedih sekali seban Yohana sangat menyayangi mereka." Kataku, menutup pembicaraan dengan Ami karena tak mau suatu saat Ami kembali membahasnya di hadapan Yohana.
Sepekan Yohana di rumah sakit. Hari ini akhirnya ia kembali. Kondisinya benar-bemar menyedihkan, selain wajahnya semakin sendu, ia pun terlihat semakin kurus. Aku benar-benar tak tahan melihatnya seperti itu.
"Tolong sayang, jangan hancurkan hidupmu sendiri. Mereka memang sudah jadi tanggung jawab kita, tapi tetap semuanya atas kuasa Allah. Kita sudah melakukan berbagai cara untuk menemukannya, tapi hasilnya masih nihil. Jadi tolong terima kenyataan itu, berbesar hatilah. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk mereka, kalau kita kehilangannya berarti itu sudah di luar kuasa kita. Begitulah bukti lemahnya manusia, Han, bahkan untuk menjagapun mereka tak bisa. Hanya Tuhan penjaga terbaik. Sekarang serahkan semuanya pada Tuhan, Han. Tolong bangkitlah. Aku masih sangat membutuhkan kamu!" Pintaku yang sudah tak tega melihat Yohana yang begitu menyedihkan.
"Maafkan aku suamiku, tapi aku sangat bersalah sudah membuat anak-anak itu hilang. Aku merasa sangat berdosa. Aku tak sanggup menerima semuanya." ucap Yohana dengan berlinang air mata.
__ADS_1
"Jadi kamu mau meniadakan Tuhan, Han? Kamu mau mengingkari bahwa semua adalah ketetapan-Nya? Han, jangan sia-siakan hidupmu seperti ini. Percayalah pada Allah. Jika kita masih berjodoh, cepat atau lambat kita akan bertemu dengan mereka. Kamu percaya, kan sayang? Serahkan juga oada-Nya. Dia sebaik-baiknya penjaga." Pintaku.
Aku tahu, berat untuk Yohana melakukan semuanya. Tapi memang hanya itu yang kini bisa kami lakukan. Pencarian di Sumatra masih dilakukan, namun hingga sekarang belum juga ada hasilnya.
"Aku berharap mereka bisa jadi anak-anak kita, tawa dan celotehan mereka akan menjadi penyemarak di rumah ini. Namun sayangnya harapanku sepertinya tak dikabulkan. Aku kehilangan mereka, bahkan sebelum aku sempat menyampaikan ingin menjadi ibu mereka." Yohana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Keinginan punya anak, rupanya juga jadi alasan kenapa ia ingin bertemu Upik dan Puti.
Aku langsung menarik Yohana dalam pelukan, berbisik padanya bahwa anak itu hak mutlaknya Allah. Seperti apapun kami membuat rencana terbaik, bila Allah belum berkenan maka kami tak akan memilikinya.
"Aku merasa sangat sedih, sayang. Harusnya rumah tangga kita hangat dengan adanya tawa dan tangsi anak-anak kita. Tapi Tuhan tak memberikan aku keturunan. Bahkan, ketika aku ingin mengangkat Upik dan Puti pun, Tuhan tak mengizinkan." Kata Yohana. "Begitu banyak kekuranganku, apakah kamu akan meninggalkan aku?"
"Nggak sayang, bahkan jika aku matipun, hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai dan menjadi pendamping hidupku." Kataku padanya.
"Tapi aku ingin punya anak, sayang." Kata Yohana. Ia memelas.
Anak, memang kadang menjadi alasan kebahagiaan suatu rumah tangga. Aku sendiri sebenarnya memang mengharapkan punya keturunan, anak-anak yang mirip Yohana. Namun jika Tuhan menakdirkan tak punya anak, aku menerimanya dengan lapang dada. Tak ada keinginan untuk mendua apalagi meninggalkan Yohana. Aku sudah berjuang sejauh ini, kebahagiaan bisa bersama Yohana tak akan bisa dikurangi meski tanpa adanya seorang anak.
__ADS_1