Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Seorang Anak Yang Terpilih


__ADS_3

Yohana tampak senang ketika kami memasuki halaman sebuah panti asuhan yang hanya melewati setengah jam perjalanan dengan mobil dari rumah. Ia begitu tak sabar bertemu dengan calon anak kami. Ya, akhirnya, setelah mempertimbangkan hampir dua pekan, akhirnya aku setuju juga untuk mengadopsi seorang anak. Awalnya Ami yang memberi ide dan diaminkan oleh Yohana. Kami akan mengangkat anak laki-laki dengan berbagai pertimbangan. Nantinya, setelah ia baligh, ia bukan mahram Yohana. Kalau anak perempuan, maka anak itu yang akan menjaga batasan denganku, tapi kalau anak laki-laki maka Yohana yang akan menjaga batasan dan itu dirasa paling aman. Makanya kami memutuskan mengangkat anak laki-laki saja. Ditambah kalau ia menikah nanti, kami tak perlu menjadi walinya. Itu jauh lebih aman dibandingkan mengadopsi anak perempuan.


Namun, rencana itu buyar ketika kami memasuki halaman panti. Yohana terpana pada seorang gadis kecil berusia sekita lima tahunan. Gadis kecil yang duduk di atas kursi roda. Kata pengasuhnya, anak itu mengalami gizi buruk makanya kakinya layu sehingga tak bisa berjalan.


"Kita angkat anak ini saja, sayang." Pinta Yohana, sambil berbisik.


"Hah? Sayang, ini anak perempuan. Kita sudah membicarakannya. Sebaiknya kita lihat calon anak kita saja." Kataku, mencoba mengajak Yohana masuk. Tetapi istriku itu menolak, ia memberikan alasan bahwa hatinya sudah langsung jatuh cinta melihat gadis kecil itu. Ia ingin menjadi ibunya.


"Pertemuan ini pasti bukan kebetulan belaka. Kamu lihat sayang, ada banyak anak di sini, tapi hanya ia yang duduk menghadap gerbang seolah menantu kedatangan kita. Anak ini aku yakin jauh lebih membutuhkan kita dibandingkan bayi yang ada di dalam sana. Bayi itu sehat, akan ada orang tua lain yang aku yakini akan merawat dan menyayanginya nantinya. Sementara anak ini, ia punya kekurangan, aku tak yakin akan banyak orang tua asuh yang bersedia mengangkatnya, atau mungkin ia akan tinggal selamanya di sini jika kita tak mengadopsi. Jadi, kita angkat anak ini saja ya." Pinta Yohana, tentu saja dengan sedikit rengekan.

__ADS_1


"Han," aku menarik tangan Yohana pelan menuju pinggir panti agar kami bisa bicara sebelum membuat keputusan. "Itu anak perempuan, Han. Aku tak peduli ia sehat atau ada keistimewaan. Bagiku, anak-anak itu sama saja. Hanya saja, kita sudah membuat kesepakatan bahwa yang akan diadopsi adalah anak laki-laki. Kamu masih ingat kan tentang banyaknya aturan antara laki-laki dan perempuan. Sangat beresiko besar jika kita mengasuh anak itu." Kataku, mencoba mengingatkan Yohana akan perjanjian kami di awal


"Ya aku ingat sayang. Tapi aku yang akan menjelaskan dan mengajarkan anak itu nantinya. Tak akan ada masalah yang timbul nantinya. Aku janji itu. Sejak awal kita akan terbuka agar kita benar-benar bisa jadi orang tua sesungguhnya untuk anak ini." Kata Yohana. Ia terus meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Yohana sudah membuat keputusan, ia ingin mengadopsi anak berusia lima tahunan yang bernama Caca tersebut. Keputusan yang ia buat dan tak mau diganggu gugat. Aku tak bisa membantah lagi apalagi saat melihat senyum Yohana akhirnya muncul juga ketika akhirnya aku menganggukkan kepala.


"Alhamdulillah, terimakasih sayang. Aku benar-benar bahagia sekali. Aku berhutang banyak kepadamu. Aku janji akan jadi istri yang lebih baik lagi. Kita akan menjaga Caca bersama-sama." Kata Yohana.


Semua persyaratan yang memang sudah kami siapkan sejak sebelum datang ke sini sudah diserahkan oleh pihak panti. Rencananya akan ada peninjauan untuk kelayakan kami mengadopsi barulah kemudian nanti Caca diantar ke rumah atau kami jemput ke sini. Kamu juga sudah tahu semua informasi tentang Caca. Ia yang sudah jadi yatim piatu karena orang tuanya meninggal dunia. Terlahir sehat namun di usia delapan bulan ayahnya meninggal dunia, praktis ibunya yang harus jadi tulang punggung keluarga. Karena harus kerja banting tulang, sementara masih dalam suasana berduka membuat ibunya Caca pun akhirnya jatuh sakit dan tak lama menyusul ayahnya. Sejak itu Caca di asuh oleh neneknya, satu-satunya keluarga yang masih tersisa. Neneknya yang tak bekerja, hanya mengandalkan pendapatan dari hasil pekarangan tak bisa memberi kehidupan yang layak untuk Caca. Makan sehari-hari hanyw nasi dan garam. Itulah kenapa Caca mengalami masalah perkembangan.

__ADS_1


"Sayang, semoga saja kita bisa lulus menjadi calon orang tua angkat Caca, ya." Kata Yohana dengan penuh harap. Aku mengaminkan karena setelah hati Yohana condong pada anak itu, entah kenapa aku pun merasakan hal yang sama. Ia seperti anakku saja, anak yang kami rindukan.


***


Meski belum ada keputusan untuk masalah adopsi, aku dan Yohana sudah mempersiapkan banyak hal agar kelak saat Caca datang perlengkapannya sudah tersedia. Yohana sudah membelikan pakaian, sepatu dan segala keperluan untuk anak usia lima tahunan. Sementara aku sendiri mengubah kamar Abah menjadi kamar anak. Warna catnya diganti menjadi pink, aksesoris anak perempuan kini menjadi pernah-pernik yang menghiasi dinding kamar dan juga bagian atasnya.


Sepekan setelah itu, akhirnya permohonan kami dikabulkan. Pagi itu, mereka mengantarkan Caca ke rumah kami. sekaligus sebagai serah terima. Yohana terlihat paling bersemangat. Sejak semalam ia tak bisa tidur, kalau tidak ku paksa mungkin ia akan terbangun dua puluh empat jam.


"Selamat datang sayang, mulai sekarang ini adalah rumah Caca. Aku akan menjadi ibumu dan itu ayahmu. Sedangkan itu adalah Tante Ami. Kita adalah keluarga, akan saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Kita akan hidup bahagia mulai dari sekarang." Kata Yohana sambil merangkul Caca yang masih duduk di atas kursi roda. Gadis kecil itu membalas Yohana.

__ADS_1


Yohana ditemani Ami sibuk memperlihatkan rumah ini pada Caca. Gadis berusia lima tahun itu juga tampak excited. Ia terlihat langsung nyaman saat berada di dekat Yohana. Bahkan ia langsung memanggil Yohana bunda. Sebuah panggilan yang hampir membuat air mata kami menangis. Baiknya Tuhan pada kami, memberi anak yang menenangkan dan santun seperti Caca. Meski ia masih muda namun sudah bisa menempatkan diri dengan sangat baik. Ia menghormati aku dan Yohana, juga Ami yang kini resmi menjadi tantenya.


__ADS_2