
"Bapak ... bapak kenapa begitu? Bapak ngusir saya?" tanya Nilam dengan suara terbata-bata. Ia sepertinya kaget sebab sebelumnya tak ada pembicaraan ataupun komplen dariku bahwa ia harus pergi dari rumah kami. Tapi ternyata tiba-tiba aku menyuruhnya pindah, setelah menyiapkan tempat tinggal sementara sehingga ia tak bisa lagi mengelak. "Tunggu dulu, ini ... sebenarnya ada apa, pak? Bukankah bapak bilang saya boleh tinggal di sini?"
"Ya. Kemarin-kemarin boleh. Tapi saya sudah mendapatkan teman tinggal yang bagus untuk kamu jadi sekarang mumpung libur kamu bisa segera ke sana. Saya juga sudah menyiapkan supir kantor untuk membantu kamu pindahan." jawabku.
"Pak? Apa ... apa ini karena Bu Yohana? Saya jamin ini hanya salah paham, pak. Kami ...."
"Bukan karena istri saya atau siapapun. Tapi saya memang sudah merencanakan semuanya agar kamu bisa melanjutkan hidup kamu dengan baik." kataku, berusaha melindungi istri dan keluargaku agar tak jadi sasaran kemarahannya. Aku tak tahu bagaimana karakter perempuan ini, entah bahaya apa yang bisa ia timbulkan jika kami melakukan hal yang membuatnya kesal.
"Oh, sepertinya kalian sudah bersekongkol. Aku paham. Baiklah kalau memang ini keputusan kalian, aku hanya menyesali sikap bapak yang tiba-tiba berubah padahal sebelumnya kita baik-baik saja. Entah siapa yang membisiki bapak. Saya hanya berharap agar nanti bapak tak menyesal dengan keputusan yang menurut saya tidak adil untuk diri saya sendiri." kata Nilam dengan percaya dirinya.
"Jangan salah paham," aku mengingatkan. "Sudah ku katakan kalau anak dan istri saya tidak terlibat. Lagipula kenapa kamu menuduh seperti itu? Apa kalian mendebatkan sesuatu yang tidak benar?"
"Mau berkilah seperti apa tetap saja itu kenyataannya. Oh ya Bu Yohana, anda pernah membuat sebuah kesalahan yang saya kira bisa memaafkan anda, tapi ternyata anda kembali membuat kesalahan sehingga kesabaran saya habis, ya setidaknya saya sudah memberi anda kesempatan terakhir dan Anda menyia-nyiakannya!" Ia menatap tajam ke arah Yohana.
"Kesalahan apa?" Yohana mengerutkan keningnya. "Saya tak pernah bermaksud jahat kecuali hanya untuk membentengi Keluarga saya!"
"Ya. Lakukan saja sebisa anda hingga akhirnya anda akan hancur juga karena mereka seperti anda menghancurkan harapan seseorang. Pada akhirnya saya menyadari bahwa anda benar-benar bukan orang yang tulus dan baik. Anda busuk dan penuh topeng. Entah untuk apa itu semuanya." kata Nilam.
"Jangan bicara semakin ngelantur, sebaiknya sekarang segera bersiap-siap mumpung ada supir. Saya tidak mau ada kesalah pahaman di sini. Lakukan apa yang kamu mau, tapi tidak dengan anggota keluarga saya." kataku, mencoba terus membentengi istriku karena sejak tadi yang aku rasakan ia mencoba terus menyalahkan Yohana. "Kamu tak boleh tinggal di sini karena memang kamu bukan anggota keluarga."
__ADS_1
"Anggota keluarga?" ia menatapku, lalu beralih ke Yohana, kemudian tertawa sekeras mungkin membuat kami semakin bingung. Ada apa dengannya. "Ya, saya memang bukan anggota keluarga, saya bukan anak angkat anda seperti dia " ia menunjuk Caca, membuat kami makin geram.
"Pergilah!" kataku. Kesabaranku semakin habis.
Kenapa ada orang seperti ini. Sudah dibantu, dibaiki, tapi malah menyerang orang yang tak Bersalah.
Nilam tak peduli, ia segera masuk ke kamar Caca, lalu menggeret kopernya. Ia menolak untuk ikut dengan supir kantor, memilih pergi dengan taksi, entah kemana, karena kami pun tak sempat mengikutinya.
"Kamu ngerti apa yang ia katakan tadi?" tanyaku pada Yohana
"Tidak sayang. Aku juga bertanya-tanya. Kami baru bertemu sekali, kenapa bisa aku melakukan satu kesalahan sebelumnya padanya?" Yohana masih kebingungan.
"Yakin. Tapi kenapa akhirnya kamu mengusirnya?"
"Aku mau menuruti kata-kata istriku karena aku yakin apapun yang ia putuskan InshaAllah itulah yang terbaik untuk kita!"
"Sayang," Yohana merona.
Entah apalagi masalah setelah ini, yang jelas saat ini aku lega sebab akhirnya rumah kami kembali aman.
__ADS_1
***
Terlalu banyak pekerjaan akhir-akhir ini, waktuku nyaris tersita untuk urusan kantor. Bahkan beberapa hari aku pulang sampai larut. Tak ada waktu bicara dengan Yohana apalagi Caca.
Sekarang, saat pekerjaan itu telah terselesaikan dan ada waktu luang, aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera mengambil cuti dan mengajak istri dan anak untuk liburan. Mereka menyambutnya dengan gembira. Awalnya kami berkunjung ke rumah Ami. Sudah lama aku tak bertemu adik semata wayang dan juga kedua ponakan yang dahulunya sempat diasuh sementara oleh Yohana.
Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Kami semakin menua dan anak-anak tumbuh dewasa.
"Sayang, apa kamu bahagia?" tanya Yohana.
"Tentu saja aku bahagia dengan istri dan anak yang begitu aku sayangi." kataku.
"Ya. Akupun bahagia, memiliki kamu dan Caca. Dahulu aku pernah sangat hancur, perasaan itu hanya aku yang merasakan, tak ku beritahu kepada siapapun termasuk kamu, sebab aku tahu, kamu pun akan sedih bila mengetahuinya. Aku ingin punya anak kandung. Tapi Tuhan berkata lain. Aku bukannya takut kamu akan meninggalkan aku atau berpaling pada yang lain, sebab aku teramat yakin dengan hatimu, sayang. Hanya saja, aku cemburu pada perempuan-perempuan yang ada di sekeliling kita. Bahkan Ami pun mendapatkan keturunan, bahkan kembar. Akupun dahulu ingin begitu. Namun seiring berjalannya waktu, melihat kamu yang tetap menyayangi aku apapun keadaannya, membuatku sadar kalau memang hidup ini tak akan mungkin selalu sempurna, sesuai dengan apa yang kita inginkan. Akan ada masa kita tak mendapat apa yang kita inginkan. Cukuplah aku mensyukuri apa yang Tuhan berikan padaku yaitu kamu yang bahkan ketika aku sudah tak berani mendambakan akhirnya Tuhan berikan juga, tiba-tiba kamu menjadi suamiku. Itu sudah lebih dari cukup sayang. Terimakasih banyak." Yohana menangis, bukan tangis kesedihan, namun sebaliknya. Ia begitu gembira dengan apa yang telah Tuhan gariskan dalam hidup kami.
Andai ia tahu, akupun pernah merasakan hal yang sama meski aku mengemasnya dalam diam. Hanya ada air mata ketika aku berada dalam sujudku. Seperti yang Yohana katakan tadi, tak semua keinginan kita bisa didapatkan. Ada banyak hikmah di baliknya. Namun, saat ini aku tak memilih jalan yang sama seperti Yohana. Aku memilih untuk menyimpannya hingga akhir hidupku nanti sebab aku tak mau perasaan Yohana kembali berubah. Sedih karena ternyata aku pun sempat sangat menginginkan keturunan.
"Jadi, kita akan menua bersama, kan?" tanyaku.
"Tidak berdua saja. Ada Caca, Ami dan anak-anaknya juga Alif yang semoga nanti benar-bemar bisa menjadi menantu kita." kata Yohana.
__ADS_1
"Yap. sepertinya kamu jauh lebih mendamba ketimbang mbak Lila dan Yanuar. Hati-hati lho, harusnya pihak perempuan harus sedikit jual mahal." aku mencandainya, ia hanya terkekeh.