
Ibu panti akhirnya menceritakan juga apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia bersumpah tidak menutup-nutupi apapun juga. Tiga bulan lalu, Upik dan Puti tiba-tiba menghilang dari panti asuhan. Tak ada yang tahu kemana mereka pergi. Pihak panti sudah mencari ke tempat-tempat yang dirasa akan dikunjungi anak-anak tersebut, termasuk menemui kedua orang tua mereka. Tapi hasilnya nihil. Mereka memang tak menghubungi kami, meski tiap bukan kami menelepon pun tetap ditutup-tutupi. Alasannya, mereka khawatir, menghilangnya Upik dan Puti akan memberikan citra buruk untuk panti asuhan ini, atau lebih parahnya bisa ditutup. Padahal ini satu-satunya panti di kampung ini, panti yang dianggap terbaik juga tanpa pernah ada masalah sebelumnya.
"Bagaimana mungkin kalian hanya memikirkan citra panti, sementara dua anak menghilang tanpa diketahui keberadaannya!" Kataku yang sudah terlanjur geram.
"Pak, mohon maaf bila cara kami salah. Tapi ini bukan hanya tentang kami saja para pengurus. Bahkan jika harus dipenjara pun saya siap untuk mempertanggungjawabkan kelalaian saya. Tapi ini juga tentang anak-anak yang lain. Ada hampir seratus anak yatim piatu dan dhuafa di sini. Mereka tak punya keluarga dan rumah. Di sinilah rumah mereka yang kami usahakan dibuat senyaman mungkin. Kalau panti ini ditutup, lalu akan kami kemanakan anak-anak itu? Siapa yang bisa menjamin hidup mereka akan lebih baik atau setidaknya setara dengan kenyamanan di sini? Siapa pak?" Ibu panti nyaris menitikkan air mata. "Saya bukannya lepas tangan." Tiba-tiba ibu panti bangkit dari duduknya. Ia menuju meja kerjanya. Mengeluarkan tas yang isinya selebaran berisi informasi hilangnya Upik dan Puti. "Tiap hari saya selalu menyempatkan diri berkeliling mencari anak-anak. Setiap orang yang saya temui, saya tanya apakah mereka melihat Upik dan Puti. Dua anak ini tak saya beda-beda kan dengan anak yang lain. Bagi saya mereka seperti anak kandung saya sendiri. Saya sampai harus keluar masuk rumah sakit karena terpukul kehilangan mereka. Ini pertama kalinya ada anak-anak yang kabur. Entah dimana kesalahan saya. Entah dosa apa yang membuat saya harus merasakan cobaan seberat ini." Air mata itu akhirnya tumpah juga. Ibu kepala tersedu-sedu. Tangisan yang kami yakini itu tulus dari hatinya. Tapi tetap saja, Upik dan Puti hilang. Mereka di bawah pengawasan ibu kepala!
"Saya akan tetap melapor ke polisi." Kataku.
"Sayang," Yohana menahanku. Ia sepertinya juga tak tega jika panti mendapatkan efek dari hilangnya Upik dan Puti. Tapi ia juga tak bisa merelakan kehilangan dua keponakan tirinya tersebut. "Apa tak ada cara lain?" tanyanya.
Ini seperti buah simalakama. Kami tak bisa meragukan kebaikan dan ketulusan ibu panti serta ibu-ibu pengasuh di sini. Semua anak yang kami tanyakan diam-diam agar tak ada intervensi mengakui bagaimana baiknya dan sayangnya ibu kepala dan pengasuh lainnya pada mereka. Seperti yang dikatakan ibu kepala, mereka seperti keluarga. Saking sayangnya. Kalau kami laporkan, tak hanya pengurus yang kena dampaknya, tapi anak-anak juga. Bagaimana mungkin kami bisa menghancurkan rumah pengganti mereka? Kami tak sekejam itu! Tapi kenyataan hilangnya Upik dan Puti membuat kami juga bertanya-tanya, hal apa yang menjadi penyebabnya? Biasanya orang pergi karena tak nyaman, bermasalah atau sesuatu yang buruk dan tidak disukai menimpa mereka. Apakah dua anak itu merasakan salah satunya? Atau jangan-jangan ...
__ADS_1
***
Mobil carteran kami kini berada di depan kosan kecil yang dulu di sewa Abang tiri Yohana dan istrinya. Sayangnya, mereka tak tinggal di sana lagi. Pemilik dan tetangga mereka menyatakan kalau Bandaro dan istrinya sudah pindah ke Pekanbaru, Riau, sekitar dua bulan lalu.
"Apa mereka membawa kedua anak mereka?" tanyaku, pada pemilik kontrakan.
"Upik dan Puti? Jangan mereka berdua, bayinya saja tidak dibawa. Mereka memberikan anaknya pada salah satu keluarga yang katanya masih ada hubungan keluarga. Tapi dari desas-desus yang beredar, katanya bayi itu dijual ke Keluarga tersebut. Tapi apapun itu, menurut kami memang lebih baik begitu karena dua pasangan gila itu tak siap punya anak. Lihatlah bagaimana mereka menelantarkan Upik dan Puti. Apalagi sekarang istrinya, si Yeni itu bekerja sebagai penyanyi di sebuah klub malam. Entah bagaimana kehidupan mereka kalau ikut orang tuanya tersebut." cerita dari pemilik kontrakan.
Sebelum pergi, aku menitipkan pesan sekaligus meninggalkan nomor telepon, apabila mereka melihat Upik dan Puti agar menghubungi kami.
"Sekarang bagaimana?" Tanya Yohana yang masih lemas saat kami berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Kita ke kantor polisi!" Kataku
"Sayang?" Yohana melihatnya tak percaya. Ia begitu khawatir kalau aku nekat melapor polisi. Seperti yang ia sudah sampaikan tadi, ia tak ingin merusak kehidupan anak-anak yang lain juga.
"Kita temui pak Rizal, ceritakan semua dan minta petunjuk. Waktu kita tak banyak, tak ada sedikitpun petunjuk tentang anak-anak. Apa kamu tak mengapa kalau kita kembali tanpa kabar dari mereka? Sekarang banyak sekali kejahatan terhadap anak-anak, aku khawatir mereka kenapa-napa." Kataku. Mengingat tentang polisi yang dahulu membantuku. Untungnya sampai sekarang aku masih menyimpan nomornya dan masih berhubungan baik dengannya.
Yohana pun setuju. Ia juga tak bisa mengabaikan keselamatan kedua keponakannya. Ia merasa bertanggung jawab atasnya. Sebab hak asuh Upik dan Puti sudah diambilnya. Berarti sekarang ialah yang bertanggung jawab penuh atas kedua anak itu. Apapun yang terjadi, ia ingin bisa menemukan keduanya dan berniat akan membawanya ikut serta kembali pulang nantinya.
***
Tak banyak yang bisa kami lakukan untuk menemukan Upik dan Puti. Setelah konsultasi dengan pak Rizal, kami berdua ikut pihak panti mencari Upik dan Puti. Kami kembali menyusuri jalan sekitar panti, bertanya pada siapapun yang sekiranya tahu keberadaan mereka. Namun karena kejadiannya sudah cukup lama, jadi tak ada petunjuk yang bisa kami dapatkan karena tak ada yang ingat.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kemana anak-anak itu?" Yohana terlihat frustasi. Dua hari luburani ini harusnya jadi waktu yang menyenangkan untuknya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Yohana malah harus merasa kecewa sebab anak-anak tak ditemukan. "Aku bisa gila karena ini!" ucapnya.
"Ingat Tuhan, sayang. Ada hikmah di balik ini semua. Yakinlah mereka baik-baik saja. Cepat atau lambat InshaAllah kita akan menemukan mereka." Kataku. Mencoba menenangkan Yohana meski sebenarnya aku pun tak yakin sebab petunjuknya benar-benar minum dan waktunya yang sudah terlalu lama.