
Aku berlari kencang menuju kosan Yohana. Tak peduli lelahnya kaki ini, nafas yang ngos-ngosan karena tak pernah olahraga lari, sekalinya lari malah sejauh ini, juga keringat yang membanjiri kemeja kantor, sekarang yang ada di benakku bagaimana bisa bertemu dengan Yohana secepat mungkin! Entah bagaimana perasaannya saat ini? Mungkin sedih, kecewa atau bahkan marah, meski aku tak yakin Yohana bisa marah sebab selama aku mengenalnya, ia adalah gadis yang teramat lembut hatinya.
Sampai di depan kosan Yohana, aku hanya bisa mematung melihat pintu kamar kosannya terbuka lebar dan dari luar terlihat jelas tak ada lagi barang-barang yang tersisa di sana yang menandakan bahwa ia sudah tak tinggal di sini. Tapi tak ingin membuat kesimpulan sendiri, makanya aku memutuskan bertanya pada pemilik kosan yang tinggal di dekat kosannya.
"Oh kak Hana, sudah pindah semalam." Jawab ibu kos.
"Pindah kemana Bu? Kenapa pindah?" Tanyaku.
"Wah kalau itu saya juga enggak tahu. Saya nggak nanya dan kak Hana juga enggak bilang apa-apa. Yang jelas dia pergi buru-buru dibantu abang dan istri abangnya."
"Kalau abangnya, orang tuanya dua anak kecil yang sering ikut Yohana, dimana tinggalnya?" Tanyaku.
Meski setengah hati, ibu kosan akhirnya memberikan alamat lengkap keluarga Abangnya Yohana. Ke sana pun aku sedikit berlari.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di depan kosan satu ruangan yang sempit dan juga pengab. Benar-benar tak layak untuk jadi tempat tinggal keluarga dengan dua anak menurutku. Saat melihat kehadiranku, kakak ipar Yohana yang ternyata sudah mengenali aku saat kejadian waktu itu segera berlari ke dalam, tak lupa ia menyeret kedua putrinya. Padahal Upik dan Puti sempat berteriak-teriak minta padaku.
"Om, om Ben! Sini Om!" Puti berteriak memanggilku, ia mengabaikan seretan ibunya, berusaha sekuat mungkin menujuku meski akhirnya ia kalah juga.
__ADS_1
"Mbak, maaf mbak, saya mau tanya sebentar!" Pintaku, sambil menahan pintu yang berusaha ditutupnya dengan kakiku. Sakit sekali rasanya saat kaki ini terjepit, tapi ku abaikan demi mendapat informasi keberadaan Yohana.
"Aku tak tahu apa-apa, jangan tanya apapun padaku," ia terus berusaha menutup pintu, namun tetap saja tak bisa karena tenaganya kalah denganku. "Sudah sana pergi, jangan menggangguku. Kalau suamiku melihatmu di sini dia bisa mengamuk!" ancam perempuan tersebut.
"Mbak, saya cuma mau tahu tentang Yohana!" kataku.
"Aku nggak tahu!" ia balas menegaskan.
Akhirnya aku punya ide cemerlang agar ia mau membuka mulut. Aku mengeluarkan lembaran seratus ribu, melihatnya, ia yang semula berusaha menutup pintu langsung membukanya lebar-lebar. "Apa yang mau kamu tanyakan, hah?" Katanya dengan gaya yang sangat sok-sokan.
"Dimana Yohana?" Kataku.
"Mau duit atau tidak?" aku mengipas -ngipas lima lembar ratusan ribu sambil menahan rasa sakit di kaki. "Bagaimana? Ya sudah, kalau lama mikirnya duitnya saya simpan lagi saja, saya nanya ke orang lain saja!" kataku, sambil pura-pura menyimpan uang ke dalam saku baju. Aku tahu ia tak akan mungkin melepaskan diri dari godaan uang.
"Eh eh eh, sini sini uangnya. Aku tahu dimana Yohana!" katanya.
"Dimana?" tanyaku, sambil menahan uang di tanganku agar tak direbutnya.
__ADS_1
"Dia dibawa bapaknya Upik, katanya mau dipekerjakan ke Padang, ada yang butuh tenaga pembantu. Makanya Yohana dikirim ke sana." katanya
"Apa? Jadi pembantu?" aku menggelengkan kepala, kenapa mereka begitu keras terhadap Yohana. benar-benar menguras tenaganya bak sapi perah untuk menghasilkan uang bagi mereka. "Kenapa harus Yohana yang bekerja? Kenapa bukan kalian saja? Kemana suamimu membawa Yohana? Ayo jawab! Lagipula ia tak mungkin pergi begitu saja tanpa bicara pada saya. Pasti ada sesuatu, kan?"
"Lho, kok nanya kami? Kan kamu yang membuat semuanya. Kamu yang membuat Yohana diberhentikan kerja. Dia kehilangan pekerjaan ya harus cari kerjaan baru. Di sini susah untuk mendapatkan pekerjaan, palingan jadi buruh di kebun, anak kurus seperti Yohana mana punya tenaga lebih, lagian tak ada juga majikan yang mau mempekerjakan dia. Iya, kan?" kini giliran aku yang diserang olehnya.
"Tapi kenapa harus ke kota? Kenapa tak pamit? Pasti kalian melakukan sesuatu, kan? Ini benar-benar mencurigakan." kataku, mengingat perlakuan mereka juga tak baik pada Yohana.
"Heh, kami nggak melakukan apapun pada Yohana. Dia yang mau. Sudah sukur suamiku mau nganter, kalau dibiarkan saja dia juga yang bingung. Dia mana tahu jalan-jalan di sini. Lagipula jangan salahkan kami terus, perbaiki rumah tangga kamu agar istrimu tidak marah-marah. Sudah sukur kamu tak di cerai, dasar suami tak bertanggung jawab. Sana, pergilah. Jangan lupa uangnya, sudah mau dikasih harusnya malu kalau diambil lagi!" kakak ipar Yohana merebut yang kertas itu dari tanganku, lalu mengusirku dengan isyarat.
"Apa Reni menemui Yohana?" tanyaku
Kakak iparnya Yohana menggelengkan kepalanya. Tapi aku tak percaya, kuberikan ia tiga lembar lagu, barulah ia mengangguk. Tapi saat aku mempertanyakan tentang pembicaraan mereka, Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu sebab tak mendengar, ia hanya melihat mereka berbicara. Hanya itu.
Reni, apa ia ada kaitannya dengan semua kejadian ini? Kenapa aku baru terpikirkan sekarang? Reni dengan statusnya sebagai istriku, satu-satunya orang yang bisa mengakses laporan ke atasanku tentang Yohana. Dan untuk laptop, ia juga yang bisa membukanya dengan leluasa. Apa ia yang melaporkan aku juga? tapi untuk apa? Setahuku Reni tak tahu apa-apa tentang masalah ini, aku tak pernah bercerita padanya tentang persekongkolan ku dengan Genta.
"Duh Tuhan, ada apa sebenarnya ini?" aku menggaruk kepala yang tak gatal, berjalan menuju mes sebab sekarang aku benar-benar buntu dengan Yohana. Tak lupa sebelum sampai mes aku menelepon Genta, mengabarkan bahwa apa yang sedang kami perjuangkan telah diketahui perusahaan.
__ADS_1
[Ben, bertahanlah sebentar saja, kami akan berusaha keras untuk membuka semuanya, ini nggak akan lama, dalam pekan ini semua kebusukan itu akan terbuka lebar ] janji Genta.
Aku menyanggupi. Menghadapi mereka bukan hal yang berat, tapi keberadaan Yohana, itulah yang terpenting untukku sekarang ini. Aku harus tahu dimana dia. Kalau semuanya baik-baik saja, tak mungkin ia pergi begitu saja tanpa mengabari. Sebelumnya hubungan kami baik-baik saja, bahkan aku dan dia sudah berjanji akan menikah setelah urusanku dan Reni selesai, lalu kenapa sekarang terjadi sebaliknya..Ia pergi tanpa pesan, bahkan nomornya sekarang tak bisa lagi dihubungi.