
Pagi ini, usai sarapan, aku meminta Yohana menyiapkan pakaian ganti untukku dan untuknya. Kami akan melakukan perjalanan. Semula Yohana mengira aku akan mengajaknya melakukan perjalanan kerja karena biasanya setiap keluar kota aku selalu mengajaknya. Ganti liburan, saat senggang maka kami akan jalan-jalan meski hanya di sekitar hotel tapi itu sudah lebih dari cukup, yang penting berdua.
"Kita akan pergi berapa lama? Kamu butuh berapa stel jas?" Tanya Yohana yang tampak sigap membereskan meja makan agar bisa segera menyiapkan perlengkapan perjalanan kami yang dianggapnya sangat dadakan.
"Tak perlu jas. Pakaian biasa saja. Baju harian." Kataku.
"Apa ini kunjungan tidak resmi?"
"Bisa dikatakan begitu. Sebuah kunjungan yang akan menyenangkan."
"Oh ya? Mari kita lihat nanti. Meski kamu begitu yakin, tapi aku belum berani berharap sayang." Katanya. Usai mengerjakan pekerjaan rumah ia buru-buru menyiapkan pakaian kami karena pesawatnya akan berangkat pukul dua siang. Sebelum Zuhur kami sudah harus berada di bandara.
***
Yohana sangat cekatan, ia bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu dan tanpa ketinggalan apapun. Itulah kenapa aku menyebutnya berkah sebab ia selalu memberiku kebahagiaan dan keberuntungan.
__ADS_1
Sampai di Bandara, usai chek in, Yohana sempat diam saat melihat tiket ke Padang. Ia menatapku, meminta jawaban tapi aku pura-pura tak melihatnya. Pura-pura sibuk dengan urusanku sehingga Yohana menunggu dengan sabar. Saat aku terlihat tidak sibuk barulah ia bertanya.
"Akan kemana kah kita sayang? Apa benar kita akan ke Padang seperti yang ada di tiket? Sayang, kalau iya, bisakah kita nanti mampir ke panti untuk melihat anak-anak?" Ia bertanya penuh harap. "Atau kalau kamu sibuk, aku bisa pergi sendiri, nanti kita ketemu di hotel lagi. Bagaimana sayang? Aku janji tak akan merepotkan kamu. Aku akan kembali tepat waktu. Boleh ya sayang." Pintanya dengan penuh harap
"Kenapa harus pisah-pisah? Kamu ikut perjalanan ini kan untuk menemani aku, jadi ikuti saja kemana aku pergi. Oke!" Kataku, sambil mengacak kepalanya hingga kerudungnya jadi tak lurus. Yohana diam, ia seperti memikirkan sesuatu, mungkin rencana untuk bisa ke panti. Melihatnya seperti itu membuatku ingin tertawa..ia tak tahu kalau perjalanan ini memang bertujuan untuk mempertemukan dirinya dengan Upik dan Puti.
Sampai di bandara, aku sudah memesan mobil lepas kunci. Jadi kami bisa kemanapun selama dua hari ini. Tapi sebelumnya aku mengajak Yohana ke hotel untuk meletakkan barang-barang. Setelah itu kami berbelanja.
"Belilah oleh-oleh untuk anak-anak. Jangan lupa lebihkan untuk anak-anak yang lain yw." Kataku, saat kami berada di depan swalayan. Yohana menatapku, lalu tiba-tiba ia menghambur dalam pelukanku.
Kami berdua membeli banyak makanan kecil, susu, Pampers dan kebutuhan anak-anak lainnya. Setelah belanja sampai enam kantong belanjaan, kami memutuskan segera ke panti agar tak kemalaman nantinya sebab jarak dari hotel ke panti hampir setengah jam-an.
Sampai di depan halaman panti, Yohana segera menyambur keluar, ia tampak tak sabar. Aku memutuskan mengeluarkan seluruh belanjaan, lalu membawanya masuk. Di dalam Yohana sedang duduk menanti dengan raut wajah cemas.
Ternyata kepala panti sedang keluar. Kami harus menunggu hampir satu jam. Yohana terus mendesak agar dipertemukan dengan Upik dan Puti saja dulu. Tak mengapa jika kepala panti tidak ada. Tapi ibu asuh di sana tak ada yang bergerak untuk memanggilkan dua anak itu sehingga Yohana terpaksa berkeliling sendiri, itupun geraknya dibatasi, diawasi oleh beberapa orang pengasuh yang ada di sana.
__ADS_1
"Kemana Upik dan Puti? Saya sudah mencari ke kamar yang dahulu mereka tempati, tapi tidak ada." Tanya Yohana. "Apa anak-anak baik-baik saja? Tolong pertemukan kami. Saya sudah sangat rindu " punya Yohana.
"Ya, nanti kalau Bu kepala sudah datang ya bu." Jawab ibu pengawas yang menemani kami.
Ada yang tidak beres. Begitu yang aku rasakan. Aku tak tahu apa yang sedang mereka sembunyikan. Tapi sepertinya anak-anak sedang tidak baik-baik saja. Apa mereka sakit? Atau jangan-jangan sedang di rawat, tapi pengasuh tak mau memberitahu karena khawatir kami merah. Padahal sebenarnya aku tak mengapa. Ya wajar kalau anak-anak sakit, yang tidak wajar itu kalau mereka main sembunyi-sembunyi. Apa salahnya mengabari karena kami secara jelas adalah wali dari Upik dan Puti.
Dua jam rasanya sudah cukup menunggu, namun tak juga ada kepastian. Bukannya kami tak mau bersabar, tapi apa salahnya memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Upik dan Puti tak bisa ditemui? Aku benar-benar naik pitam, apalagi melihat Yohana sudah menangis menahan rindu. Ia juga pastinya sangat bingung. Perasaanya campur aduk, makanya aku menegaskan pada ibu pengasuh untuk memberitahu kami apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ibu itu hanya diam saja, menunduk dan mengatakan tidak tahu.
"Enggak mungkin ibu nggak tahu. Upik dan Puti kan tinggal di sini di bawah pengawasan ibu. Kemana mereka harusnya ibu tahu." Kataku. Tapi ia tetap mengelak hingga akhirnya aku mengancam akan melaporkan ke polisi sebagai gertakan dan benar saja, usahaku itu berhasil. Ibu itu tampak ketakutan, bersegera menelepon ibu kepala. Hanya dalam hitungan menit, pemimpin di langit asuhan ini segera datang, ia tergopoh-gopoh turun dari mobilnya menghampiri kami di ruang tamu panti.
"Sabar dulu ya bapak dan ibu. Ayo kita bicarakan di dalam semuanya." Kata ibu panti. Ia masih bersikap tenang. Sampai di dalam, akhirnya ibu panti bicara jujur, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kalau Upik dan Puti sudah tidak tinggal di sini. Mereka kabur tiga bulan lalu dari panti asuhan. Pihak panti sudah mencari ke rumah orang tuanya, bahkan sudah lapor polisi untuk mewaspadai apakah ini penculikan atau tidak, tapi hingga sekarang tak ada kabar dari kedua anak itu. Ia seperti menghilang dari permukaan bumi.
Mendengar itu, tentu saja membuat Yohana panik. Ia sampai linglung, bahkan nyaris pingsan,bingung harus bersikap seperti apa. Selama tiga bulan, kenapa tak ada yang mengabari kami. Semua hanya berkilah lupa. Padahal tiap bulan kami selalu menelepon, mengabari pengiriman uang untuk Upik dan Puti. Kami tak pernah benar-benar lepas tangan terhadap dua anak ini.
Firasat Yohana memang benar, anak-anak sedang dalam kondisi tidak baik. Andai saja tadi aku tak bersikerasŲ sepertinya mereka akan tetap berkilah. Tak mau mengaku kalau benar anak-anak kabur. Sikap seperti itu membuat kami geram. Tak ada keterbukaan. Harusnya, bagaimanapun kondisinya anak-anak harus dikabari, kecuali kami lepas tangan pada Upik dan Puti.
__ADS_1