Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Reni Belum Bisa Dipulangkan


__ADS_3

Reni tersenyum padaku, ia masih memberi isyarat agar aku datang mendekat. Tapi aku tetap memberi jarak. Aku merasa Reni yang sekarang ada di hadapanku berbeda dengan Reni yang aku kenal. Sifat apa ini. Kenapa ia bisa biasa-biasa saja ada di sini padahal aku mempermasalahkan keberadaannya. Lagipula apa ia lupa akan aturannya. Kami tak benar-benar menikah, hanya di atas kertas saja. Itupun demi menyelamatkan anaknya nantinya. Orang tuanya juga seperti lepas tangan. Posisi seperti ini benar-benar tidak nyaman.


"Ren, aku rasa kamu harus segera kembali." Kataku. Reni yang semula tersenyum berubah diam. Senyumnya pun hilang. "Aku akan minta tolong Riko untuk menjemput kamu, ia akan mengantar kamu sampai ke rumah. Ia dokter, InshaAllah juga tahu bagaimana cara aman menjaga kamu ketika di jalan. Bersama dia kamu lebih baik ketimbang aku yang tidak punya latar belakang medis." Kataku lagi.


"Kenapa begitu? Kamu enggak suka aku disini? Oh, aku paham kok Ben. Kehadiranku menjadi penghalang untuk kamu bisa bebas dekat dengan perempuan itu. Iya, kan? Ben, apa bagusnya dia? Hanya gadis yang tak jelas asal-usulnya. Bahkan kekuarga kamu saja tidak menghargainya, kenapa juga kamu harus perhatian segitunya pada perempuan itu? Kenapa Ben?" tiba-tiba saja Reni menjadi histeris. Ia bahkan sampai bangkit dari duduknya, hingga selang infus yang melekat di tangannya copot. Darah segar mengalir dari tangan bekas infus, aku yang melihat langsung ngilu.


"Tangan kamu berdarah!" Kataku, sambil berusaha memanggil perawat.


"Biar, biar saja. Luka seperti ini tak akan mengubah kamu. Toh kamu tetap enggak peduli. Iya, kan!" ia masih berteriak. Bahkan ketika dua orang perawat jaga masuk, Reni tetap emosi. Aku memutuskan keluar agar ia tak terus terpancing emosi.


Kenapa dengan Reni? Kenapa ia berubah menjadi asing seperti itu? Apa karena faktor kehamilannya? Aku mengusap kepala untuk mengalihkan kejenuhan ini. Kenapa ada saja ujian untuk bisa dketa dengan Yohana.


***


Reni menangkupkan kedua tangannya menghadap padaku. Ia memohon maaf atas ledakan emosinya tadi. Aku tak bisa berkata apa-apa selain diam mendengar semua penjelasannya. Seperti dugaanku, ia juga bingung dengan dirinya sendiri. Emosinya jadi begitu labil sejak hamil dan jauh dariku. Mungkin pengaruh bayinya. Tapi apa iya sampai sebegitunya mengingat aku bukan ayah biologis bayi itu.

__ADS_1


"Aku sudah menghubungi Riko dan ia tak keberatan untuk menjemput kamu, Ren." Kataku.


"Oh begitu. Jadi kamu tetap akan memulangkan aku?" katanya.


"Ren, ini demi kebaikan kamu dan anakmu. Lihat kondisi di sini. Rumah sakit jauh, hanya klinik yang sangat sederhana. Tempat tinggal juga tidak memadai. Kamu sedang hamil, tidak mungkin dengan fasilitas seperti itu. Kamu harus mendapatkan yang terbaik. Ya dengan cara memulangkan kamu kembali ke Jakarta. Kamu tak akan bisa melalui semuanya di sini. Apalagi di sini jauh dari keluarga kamu. Sementara aku harus bekerja. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?" kataku. Reni diam saja.


Malam ini kami lalui di klinik. Aku menunggui di luar. Sebenarnya ingin kembali ke mes, karena kata perawat juga kondisi Reni sudah lebih baik, ia hanya harus istirahat lebih banyak lagi. Tetapi ibunya Reni terus menangis memohon agar aku tak meninggalkan putrinya terkecuali untuk bekerja sebab khawatir dengan psikologis putri mereka.


***


[Maafkan aku Ben, tapi terpaksa aku katakan kalau hari ini aku belum bisa ke sana. Juga dalam waktu dekat mengingat tugas yang sedang banyak di rumah sakit. Aku mendapat tugas baru di bangsal, jadi belum bisa izin atau cuti.] kata Riko lewat sambungan telepon.


[Belum bisa Ben, aku harus standby di sini, sangat sulit untuk mencari waktu kosong.] katanya lagi.


Tiba-tiba sekali. Padahal semalam Riko mengatakan siap menjemput Reni, ia juga tidak terlalu padat. Aku jadi bingung memikirkan semuanya. Mengingat Reni yang harus mendapatkan perhatian khusus dan kesibukanku di kantor. Apalagi saat ini aku tengah berusaha membongkar sebuah kasus bekerjasama dengan Genta.

__ADS_1


[Please Ko, usahakanlah demi Reni.] pintaku.


[Maaf Ben, tapi kali ini belum bisa. Nanti kalau sudah kosong akan ku kabari. Maaf ya Ben.] telepon dimatikan. Aku benar -benar pusing dibuatnya.


Bagaimana ini? Kepalaku sampai berdenyut. Entah harus minta bantuan siapa lagi untuk mengantarkan Reni pulang. Masalah ini sangat menyita pikiranku.


***


Kantor heboh dengan pemberitaan yang tiba-tiba tentang adanya kecurangan antara perusahaan dengan para petani sehingga membuat para petani melakukan protes, meminta pihak perusahaan untuk melakukan klarifikasi. Sementara itu jajaran mengumpulkan semua karyawan, mempertanyakan apakah ada yang bekerja sama dengan pihak wartawan. Perusahaan beralasan ada berita bohong yang disebarkan agar perusahaan menjadi goyang.


Aku bersama karyawan lain sekarang berada di aula. Sementara itu komputer kami diperiksa untuk menemukan siapa yang coba-coba melakukan pengkhianatan.


Aku tahu ini akan terjadi sesuai dengan apa yang diprediksi oleh Genta, makanya ia selalu mengajarkan aku untuk bersih-bersih setelah melakukan pengiriman data.


Dua jam kami mendapatkan pengarahan sekaligus diinterogasi. Tapi dari hasil pemeriksaan tidak ada yang mencurigakan, makanya kami dikembalikan ke ruangan masing-masing. Tetapi kali ini aku tak akan bisa bergerak bebas mengingat sekarang di tiap ruangan sudah ada CCTV dan kemungkinan komputer yang aku pakai juga sudah tersambung dengan pusat. Meski begitu aku tak perlu ambil pusing sebab data-data sejak awal sudah aku kirimkan. Kalaupun ada yang masih kurang tinggal menyusul lewat laptop. Sehingga Genta bisa mengolah datanya.

__ADS_1


"Benar-benar membuat tidak nyaman saja. Sudah diberi pekerjaan dan gaji yang tinggi masih ada saja yang mau menggoyangkan perusahaan. Lihat, gara-gara ulah pengacau itu sekarang petani-petani sawit pada protes, buruh pabrik juga begitu. Padahal masalahnya tidak aple to aple." celoteh salah satu karyawan yang masih satu tim denganku.


Aku yang mendengar mereka saling melempar asumsi hanya bisa diam. Mereka orang-orang pintar, harusnya sadar ada yang tidak beres bukannya di biarkan. Kecurangan entah itu perusahaan atau segelintir oknum itu benar-benar merugikan petani dan para buruh. Meski begitu aku hanya bisa menyimpan asumsi dalam hati sebab sekarang masih belum mengerti siapa yang lawan ataupun kawan. Aku masih harus berpegang teguh pada diri sendiri. Tak berkawan agar tak salah langkah seperti apa yang diarahkan oleh Genta. Untuk menangani kasus seperti ini harus benar-benar jeli.


__ADS_2