
Aku baru selesai mandi pagi ketika Hp berdering. Dari Genta. Ia mengabarkan kalau sudah mengantongi semua informasi tentang Nilam, karena ada banyak yang harus dijabarkan dan aku meminta untuk diantar ke tempat tinggalnya makanya Genta meminta untuk bertemu. Pagi ini semua agenda di kantor diundur setidaknya sampai besok. Aku ingin ini selesai hari ini juga. Jelas semuanya tanpa ada fitnahan lagi yang tentunya merusak nama baikku.
"Ada pekerjaan? Sepertinya penting?" Yohana baru masuk ke kamar, ia membantuku merapikan kemeja dan memasang dasi.
"Pagi ini aku dan Genta akan ke rumah Nilam untuk menyelesaikan semuanya." Kataku.
"Hah? Oh. Hati-hati ya sayang, entah kenapa perasaanku tak tenang. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabari dan tolong jangan terbawa emosi ya. Aku dan Caca sangat menyayangi kamu." Kata Yohana. Raut wajahnya tampak khawatir. Masalah yang menimpa keluarga kami beberapa waktu ke depan membuatnya terlihat lelah. Aku berjanji pada diri sendiri, setelah ini akan lebih memperhatikan dirinya dan Caca. Tak akan gegabah dalam bertindak sekalipun jika harus menghadapi orang yang memprihatinkan.
"Aku berangkat dulu ya, Genta sudah menunggu." Kataku, mencium keningnya lalu berangkat pergi. Pagi ini aku sengaja pergi tanpa supir, menghampiri Genta ke rumahnya, lalu menuju salah satu tempat ngopi d sebuah mall untuk diskusi. "Katakan apa yang kamu temukan." Kataku, setelah dua cangkir kopi dan roti pesanan kami datang.
"Dia tinggal di pemukiman kumuh di pinggir kota. Berdua dengan saudara perempuannya yang sebelumnya menjadi tulang punggung dan membiayai hidupnya. Saudaranya itu bekerja serabutan, tukang cuci, pembantu di beberapa rumah dan kadang juga memulung." Genta menunjukkan gambar seorang perempuan yang dari raut wajahnya terlihat lebih tua dari Nilam, entah karena kerasnya hidup atau memang ia saudara tertuanya mengingat ialah yang membiayai Nilam selama ini.
"Baik, kita ke sana sekarang!" Kataku yang langsung berdiri namun ditahan oleh Genta yang mengaku belum sarapan.
"Setidaknya izinkan aku sarapan dulu, Ben. Perutku lapar, demi kamu aku nggak sarapan lho." Kata Genta hingga membuat kami berdua tertawa.
__ADS_1
***
Mobilku tak bisa masuk ke dalam pemukiman, makanya diparkir di depan salah satu kedai. Berdua dengan Genta kami jalan kaki menuju tempatnya. Ada banyak rumah-rumah dari triplek bahkan kardus dengan atap seadanya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa hidup di tempat seperti ini. Di rumah pengab dan juga sekitar yang kotor. Tapi begitulah kerasnya hidup di kota besar, si kaya akan semakin kaya, si miskin semakin miskin. Harus kuat-kuat agar bisa bertahan di kota.
Melihat lingkungan seperti ini, aku bisa memahami kenapa Nilam bisa seperti itu. Wajar saja. Lingkungan sini tidak baik, ia tumbuh di tempat seperti ini. Pastilah itu yang membentuknya. Hanya saja, yang aku sayangkan, dari cerita Genta, kakaknya yang sudah bekerja keras membiayai hidupnya agar bisa sekolah tapi ketika ia sudah bisa mencapai titik ini malah disia-siakan dengan membuat masalah. Sangat disayangkan sekali. Harusnya ia sungguh-sungguh menjalani magangnya agar suatu waktu ketika ia lulus kuliah bisa masuk menjadi pegawai di kantor, atau di tempat manapun yang ia inginkan.
"Ini rumahnya." Kata Genta, setelah yakin dari hasil melihat gambar yang dikirimkan oleh orang suruhannya.
"Kamu yakin?" Aku mendekat, mengetuk pintu yang terbuat dari triplek. Beberapa kali mengetuk namun tak ada jawaban.
Pertanyaan kedua membuatku terdiam. Upik, Puti? Nama itu membuatku tak bisa berkata-kata. Aku tak salah dengar, kan? Apa mereka orang yang sama dengan Upik dan Puti yang kami cari beberapa tahun belakangan ini?
"Sebentar, maksudnya ibu, Nilam itu ...." Aku mencoba menerka.
"O cari Puti. Sudah lama kayaknya nggak pulang, pak. Terakhir sebulan lalu. Pulang sebentar lalu nggak sengaja saya mendengar mereka cek Cok mulut. Kemudian Putinya pergi. Sampai sekarang nggak pernah kelihatan lagi." Kata ibu yang kebetulan tetangga Nilam.
__ADS_1
"Puti Nilam. Maksudnya bagaimana Bu?" Aku masih belum bisa memahami maksud mereka. Kenapa dipanggil Puti padahal namanya Nilam Sari.
"Iya pak, namanya dulu pertama kali ke sini Puti, tapi pas pendaftaran ke pak RT diganti jadi Nilam Sari karena katanya nama panjangnya Puti Nilam Sari. Kalau kakaknya ya tetap Upik." Cerita ibu tersebut.
"Ibu, apa ibu tahu kapan mereka pertama kali pindah ke sini?" aku sudah merasa tak enak, feelingku mulai berjalan kalau mereka adalah anak-anak yang kami cari.
"Wah sudah lama sekali pak, kalau nggak tiga belas atau empat belas tahunan lalu lah. Dulu itu mereka ditemukan nenek Ijah yang tinggal di gubuk ini. nek Ijah itu pemulung dekat rumah sakit sana. Katanya Upik itu dulu di rawat di sana, karena nggak punya keluarga akhirnya perawatannya nggak dilanjutkan. Nek Ijah kasihan, makanya dibawa dan diasuh di sini hingga nek Ijah meninggal dunia. Setelah itu ya si Upik itu yang bekerja jadi tukang punggung keluarga membiayai adiknya hingga kuliah ini. Tapi mereka itu sering sekali berkelahi, si Puti itu keras kepala dan banyak maunya. Kasihan juga si Upik nya. Tapi ya namanya kakak adik ...." Belum selesai ibu itu bicara, aku sudah terduduk, rasanya badanku lemas mendengar cerita itu.
Upik dan Puti, ternyata dugaan Yohana benar, dua anak itu benar-benar ke ibu kota. Entah bagaimana ceritanya, namun sekarang mereka ada di sini. Puti mengganti namanya dengan Nilam, lalu masuk ke kehidupan kami yang aku yakini pasti bukan ke sengajaan belaka. Pasti ini sudah direncanakan, meski aku tak tahu apa alasannya. Yang jelas satu sisi aku sudah merasa lega sebab akhirnya sudah menemukan kedua anak itu. Anak yang selalu membuat Yohana tak bisa hidup tenang sebab belum menemukan mereka.
"Lalu Upik dimana?" Tanyaku dengan tidak sabar. Apakah anak itu baik-baik saja mengingat foto yang tadi diperlihatkan oleh Genta terlihat betul Upik tidak terurus.
"Ada, biasanya jam segini sedang kerja di rumah orang kaya yang di simpang sana. Palingan sebentar lagi datang." Kata ibu tersebut. "Bapak-bapak sendiri siapa ya?" Tanyanya
"Saya orang tua angkatnya, sudah lama mencari kedua anak tersebut namun mereka hilang saat usianya sekitar tujuh dan enam tahun di Sumatera, saya tak menyangka akhirnya bisa menemukan mereka saat ini." Kataku.
__ADS_1
Aku sangat ingin memberitahukan kepada Yohana semua ini, tetapi aku ingin bertemu dengan Upik terlebih dahulu. Entah sudah bagaimana kondisi anak tersebut sekarang. Begitu juga dengan Nilam. Kemarahanku padanya telah hilang mendapatkan kenyataan ini.