Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Mungkin Sudah Masuk Jebakan


__ADS_3

"Kalau mau menangis, menangislah. Silakan, sampai kamu puas. Kamu juga bisa menganggap saya seperti ayahmu sendiri. Maksud saya, saya pun punya seorang putri yang sangat saya sayangi, melihatnya sedih maka menghancurkan hati saya. Tak akan ada ayah yang sanggup melihat putrinya menangis." kataku, yang belum paham jika ini adalah jebakan.


"Be ... benarkah saya boleh menganggap bapak seperti ayah saya sendiri? Saya sungguh bahagia. Rasanya rindu itu sedikit terobati. Ayah saya, kami sudah lama tak bertemu. Padahal saat-saat seperti ini, meski usia saya sudah dewasa namun saya sangat membutuhkan sosoknya. Sekarang saya sebatang kara, benar-bemar hilang arah." Nilam tampak sangat sedih.


"Ya, saya tahu. Berapapun dewasanya usia anak, namun bagi orang tuanya ia tetap anak kecil yang butuh orang tuanya. Apalagi kamu belum menikah, pasti butuh seseorang untuk menuntun kamu. Apakah kamu punya keluarga lain yang masih hidup?"


"Sayangnya tidak, pak. Saya anak tunggal, tak punya keluarga lain. Orang tua saya sudah lama meninggal. Makanya saya sangat kesepian sekali."


Lagi-lagi aku teringat akan putriku, Caca. Kalau aku dan Yohana tak ada lagi nanti, ia pun akan sama seperti anak ini. Ia tak akan punya keluarga lain. "Tak masalah, mulai sekarang saya adalah keluarga kamu. Saya juga punya seorang putri. Nanti akan saya perkenalkan kamu dengannya dan juga istri saya. Saya sangat yakin sekali kalian akan menjadi teman yang baik."


Kami berdua kembali ke kantor. Sampai di sana, aku baru sadar kalau kebersamaan kami ini akan menjadi sumber gosip orang-orang. Tapi, seperti yang dikatakan Nilam, itu tidak penting, yang terpenting kami tidak melakukan apa-apa. Toh aku menawarkan menjadi orang tuanya. Usianya juga tak terlalu jauh dengan putriku.


***

__ADS_1


"Ben," pak Mahen menemuiku saat hendak pulang, ia memang kebetulan hadir di sini karena kami sedang ada proyek baru. "Saya mengikuti semua hal tentangmu dan jujur saya terkejut dengan berita yang beredar. Itu tentang anak magang itu. Saya sangat yakin kamu tak benar-benar serius dengannya. Tetapi Ben, entah apapun tujuan kamu memberi peluang ia masuk, jangan terlalu naif karena gadis-gadis muda seperti itu punya seribu satu cara untuk masuk dalam kehidupan kita. Tujuan mereka hanya satu yaitu yang!" Pak Mahen menekankan padaku tentang Nilam. Sepertinya berita itu sudah menyebar hingga mantan kepala pejabat pun sampai tahu. "Ben, kalau kamu sudah masuk jebakan mereka maka akan sulit untuk keluar jadi berhentilah. Apapun yang kamu cari, jangan main-main dengan mereka. Saya tak tahu seberapa pronya gadis ini, tapi apapun itu, ia pasti punya niat tak baik. Ia mengincar sesuatu darimu."


"Tunggu dulu, pak. Sepertinya ini hanya salah paham saja. Anak magang itu, Nilam kan? Saya dan dia tidak ada apa-apa. Maksud bapak dengan masuk itu pun saya tidak paham. Kami hanya sebatas atasan dan bawahan. Itu saja." aku mencoba menjelaskan, interaksi kami hanya dua kali dan rasanya itu tak berlebihan.


"Oke, saya percaya Ben sebab menurut Reni dan Bili pun kamu suami yang setia dan sangat mencintai istrimu. Yang membuat saya khawatir hanya ...." Ia tampak ragu untuk melanjutkan.


"Apa, pak?" Aku mendesak, tak mau ada pembicaraan yang menggantung.


"Anak? Oh, tidak ada masalah. Saya dan istri sudah punya satu putri. Itu juga yang membuat saya bersimpati pada anak magang itu. Tidak lebih. Meski putri kami hanya anak angkat, namun rasa sayang kami padanya sama seperti pada anak kandung sendiri. Tuhan memang tak menakdirkan istri saya melahirkan anak untuk saya, tapi Tuhan memberikan anak lain kepada kami dan bagi saya dan istri itu sudah lebih dari cukup." Kataku dengan santai, seusai dengan apa yang aku rasakan.


"Ben, entah bagaimana sebenarnya perasaan kamu, tapi kebiasaan kita anak adalah perekat cinta. Seperti apapun banyaknya harta dan tingginya pangkat, tanpa anak pernikahan akan hambar. Saya ingin memberikan satu solusi untuk kamu, solusi yang juga akan membantu saya sebab sejujurnya saya sudah menaruh banyak harapan pada kamu, Ben. Saya bersimpatik sekaligus kagum dengan semua hal yang ada pada dirimu. Tanggungjawab, kerja keras, kejujuran, mencintai keluarga. Semua itu, menarik untuk saya dan jujur saya berkeinginan menjodohkan kamu dengan putri saya."


"Hah? Putri bapak?" Meski tak kenal dekat dengan keluarga pak Mahen, tapi aku tahu keluarganya. Istri dan dua anaknya. Anak pertama laki-laki dan kedua perempuan. Zaskia namanya, usianya cukup terpaut jauh denganku. Yang aku tahu Zaskia sudah menikah sekitar lima tahunan lalu. Aku dan Yohana sempat hadir di acara akbarnya. Lalu siapa yang ia maksud? Dan juga aku sudah punya istri, kenapa juga ditawari perempuan lain.

__ADS_1


"Yap, Zaskia, putri saya. Dia sudah bercerai sekitar satu tahun lalu. Mantan suaminya membuat saya kecewa dan ada trauma karena putri saya diperlukan tidak baik. Ia dua kali keguguran karena suaminya. Suka main tangan dan menghabiskan semua tabungan putri saya. Itulah kenapa saya berpikir untuk mencarikan jodoh untuknya."


"Pak, maaf, tapi saya sudah menikah dan saya sangat mencintai istri saya."


"Ya, saya paham, Ben. Tapi setelah saya pertimbangkan, tidak ada salahnya jika putri saya menjadi istri kedua. Saya sudah berbicara dengannya dan ia tak jadi masalah. Ia sebenarnya sudah menyerah dengan Hidupnya, Ben. Karena jahatnya mantan suaminya itu. Jadi, maukah kamu menjadi suaminya, Ben?"


Aku menarik nafas panjang. Kalau ia mengira aku dekat dengan anak magang lantaran aku menginginkan anak, itu salah. Dahulu aku memang sangat menginginkan punya keturunan sendiri, Tapi setelah mengadopsi Caca, rasanya sudah cukup. Bukankah kita gak bisa mengatur Tuhan. Tidak semuanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan.


"Pak, urusan menikah lagi, saya sangat yakin bahwa saya bukan orang yang tepat untuk melakoninya. Cinta saya pada istri saya sangatlah besar. Saya tak akan mendua, apalagi karena alasan ingin anak. Terlalu banyak hutang saya padanya, menebusnya hanya dengan menemaninya hingga akhir usia saya."


"Hmmm, baiklah Ben. Tapi ingat, kapanpun kamu berubah pikiran, kamu harus tahu saya sangat berharap kamu bisa menjadi menantu saya!" Pak Mahen menepuk pelan pundakku. Lalu ia pamit meninggalkan ruanganku yang dahulu menjadi ruangannya.


Kepalaku berdenyut, ku harap cerita ini tak pernah sampai ke telinga Yohana. Sekarang yang terpikir di benakku hanya pulang. Aku harus segera menemui Perempuanku, sudah cukup menjaga jaraknya. Ia harus tahu, aku sangat tersiksa jika kami harus berjauhan seperti ini!

__ADS_1


__ADS_2