Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Membawa Abah Pulang


__ADS_3

Malam semakin larut, aku masih asyik di depan laptop, mengotak-atik berbagai ide untuk penjualan. Saking konsentrasi dengan laptop sampai tak sadar kalau Yohana sudah duduk di depan meja kerja. "Kenapa sayang? Kamu belum tidur? Apa aku mengganggu? Kalau iya aku akan pindah ke kantor." Kataku, bersiap mengangkat laptop, tapi di tahan oleh Yohana. "Ada apa? Bicaralah."


"Sayang, kamu yakin akan melanjutkan bisnis sanjai ini? Kata Ami, kita sudah terlalu merugi. Sepertinya tak ada harapan di dalam usaha ini. Bayangkan saja, dalam dua pekan ini tak ada pemasukan sama sekali, sementara biaya produksi terus berjalan."kata Yohana. "Aku khawatir kalau kita tetap ngotot menjalankan maka yang ada bukannya untung malah buntung."


"Siapa bilang tak ada harapan? Ini kan masih diusahakan. Selama masih ada usaha maka harapan itu harusnya selalu ada. Lagipula bisnis sanjai ini kan harapan kamu, Han. Aku ingin mewujudkannya untuk kamu." Kataku "Aku sedang mencari cara agar bisnis ini kembali naik, jadi tak perlu terlalu khawatir, serahkan semuanya padaku. Kamu hanya perlu membantu support dan doa."


"Tapi dengan merugi terus, sebaiknya ganti usaha saja, sayang. Aku takut kita malah kehilangan semuanya nantinya. Waktu, tenaga dan modal. Atau sebaiknya kamu terima tawaran temanmu bekerja di kantornya agar kita bisa punya pemasukan. Aku benar-benar khawatir kita salah langkah dan semakin besar ruginya."


"Namanya usaha pasti ada untung ruginya. Engga bisa untung terus. Kamu bersabar ya, minta sama Allah terus. Aku juga akan berusaha terus. Mencari jalan untuk menaikkan kembali sanjai kita." Kataku sambil melempar senyum pada Yohana.


Sebenarnya aku pun ketar-ketir dengan usaha ini. Modal kami semakin menipis. Hanya ada untuk beberapa kali produksi lagi. Ditambah aku juga punya empat orang tanggungan. Jadi tak boleh benar-benar nol. Harus ada cadangan dana juga untuk biaya berobat Abah yang sewaktu-waktu harus ada. Tapi kekhawatiran itu tak pernah aku tunjukkan karena akulah di sini pemimpinnya, kalau aku saja tak yakin, mereka akan lebih tak yakin lagi.


***

__ADS_1


Pagi ini Ami dikabari pihak rumah sakit bahwa Abah baru saja menyerang salah satu teman kamarnya. Akibatnya, ia mengalami luka serius. Untuk mengamankan dari amukan Keluarga pasien yang dilukai Abah, kami diminta persetujuan untuk memasukkan Abah ke ruang isolasi. Pilihan yang sangat berat untukku karena di ruang isolasi akan semakin membuat Abah terpuruk. Abah akan terkurung, benar-benar menjadi orang yang sakit kejiwaannya parah.


"Hari ini juga jemput Abah saja." Kataku


"Apa? Abang serius? Abang nggak bercanda, kan? Menjemput Abah, itu keputusan yang harus dipikirkan matang-matang, bang. Di rumah ini, sekarang ada kak Yohana, ada mbak Lila juga. Kalau kesadaran Abah kembali, apa Abang yakin semua akan baik-baik saja mengingat Abang juga akan sering pergi-pergi. Aku nggak sanggup bang jika harus mengawasi Abah. Kekuatan Abah itu berkali lipat dibandingkan aku. Belum lagi dengan kata-kata kasar Abah yang kadang membuatku hancur. Pikirkan lagi, bang. Demi kebaikan kita bersama kecuali Abang siap dua puluh enam jam bersama Abah!" Kata Ami


"Ya kamu benar, Mi. Tapi ingat juga, membiarkan Abah di ruang isolasi akan membuat Abah semakin terpuruk. Bukannya mengembalikan ingatan Abah, yang ada malah membuat Abah semakin terpuruk. Aku nggak mau Abah jadi begitu. Aku ingin Abah sembuh!" Kataku.


"Oh, jadi abang pikir aku nggak mau Abah sembuh? Aku sama seperti Abang, sama-sama anak Abah, aku juga sayang sama Abah, pasti menginginkan yang terbaik juga untuk Abah. Jadi jangan membuat keputusan sendiri. Pikirkan orang lain di rumah ini juga, bang. Belakangan ini Abah punya riwayat sering menyerang orang lain, jadi harus ada tenaga laki-laki yang ready mendampingi Abah dan itu tak mungkin kami yang punya cerita sama-sama pernah jadi sasaran kekerasan Abah. Kepalaku hampir pecah ditinju oleh Abah!" Kata Ami dengan mata berkaca-kaca.


***


Seperti yang sudah aku putuskan, hari ini juga aku akan menjemput Abah. Setelah menyewa mobil, aku ke RSJ bersama Ami. Ia masih diam seribu bahasa. Kalau ditanya hanya menjawab seadanya saja.

__ADS_1


Aku memahami ketakutan Ami. Ia begitu karena pernah jadi korban kekerasan Abah. Memang, tenaga Abah lebih kuat darinya. Ditambah Abah kalau marah meski hanya dengan kata-kata tapi sukses menyakiti perasaan lawannya. Aku saja yang laki-laki kalau sudah diomeli Abah bisa langsung down, apalagi Perempuan yang lebih lembut hatinya.


"Mi ... kita itu Keluarga Abah yang masih tersisa. Abah adalah kunci surga dari orang tua yang masih kita miliki. Jadi, ayo kita sama-sama ikhlas merawat Abah agar bisa mendapatkan pahala kebaikan dari Allah. Setidaknya juga punya tabungan amal yang kelak bisa berguna di akhirat. Berbuat baik pada orang tua yang zalim itu pahalanya luar biasa." Kataku. "Jadi, bantu Abang ya Mi. Biar semuanya sama-sama enak." Aku menambahkan.


"Ya, terserah Abang saja!" Katanya. ia masih bersikap dingin.


Berdua, kami masuk ke RS menuju bangsal Abah. Sepanjang koridor, aku terus bicara tentang harapanku pada Ami tanpa bermaksud menggurui apalagi memerintah, hanya ingin membuka hatinya bahwa bagaimanapun berbakti pada Abah adalah kewajiban kami berdua meski Abah pernah menjahati kami, ia hanya menanggapi seadanya. Mungkin masih sangat kesal sebab setelah mengutarakan isi hatinya, aku tetap dengan keputusanku untuk membawa abah pulang. Makanya ia tak bisa apa-apa selain menurut.


Tetapi, sikap Ami berubah ketika kami sudah bertemu Abah. Ia kembali ceria, berbincang dengan abah meski Abah tak menanggapi.


"Bah, ingat ya, di rumah sekarang ada orang lain, Abah harus bisa jaga sikap." kata Ami pada Abah sambil merapikan barang-barang Abah saat aku kembali usai mengurus administrasi. "Oh ya, jangan marah-marah juga karena Alif takut kalau kakeknya ngamuk. nanti kalau Abah tetap begitu, Alif nggak sayang lagi sama Abah."


"Jangan. Alif harus sayang sama kakek!" seru Abah secara tiba-tiba. "Kamu sih, makanya, jangan ganggu Alif supaya Alif senang mainnya!" Abah memukul pelan kepala Ami secara reflek. Aku yang melihatnya sempat kaget, tapi Ami hanya terkekeh.

__ADS_1


"Iiihhh Abah, anaknya jangan dipukul, nanti aku kaduin sama polisi dan Komnas anak supaya abah dijemput dan dipenjara!" Ami menakut-nakuti hingga akhirnya Abah menundukkan kepalanya beberapa kali sebagai bentuk permohonan maaf.


__ADS_2