
"Pak, maaf jika kebijakan klinik membuat bapak tidak nyaman. Tapi kami hanya menjalankan peraturan yang sudah ada. Klinik ini dibangun susah payah tanpa bantuan siapapun. Berdiri untuk membantu penyembuhan orang-orang yang sedang sakit. Di daerah terpencil seperti ini, masih ada tenaga kesehatan yang mau mengabdikan dirinya saja sudah syukur. Cara membanty mensuport mereka ya dengan membayar biaya pengobatan. Mungkin bagi bapak biaya tersebut sangat ringan dan tidak etis menahan pasien dengan beban seperti itu. Tapi sedikit informasi. Kalau semua orang minta dipahami seperti yang bapak mau, maka bisa-bisa semua pasien akan memakai jalur seperti itu. Lalu dengan apa tenaga kesehatannya digaji? Bisa-bisa tak ada lagi yang mau praktek di sini karena sudah jauh, gajinya juga tidak jelas." kata bagian kasir tersebut.
Apa yang dikatakannya benar. Aku yang semula terbawa emosi akhirnya menyadari dan buru-buru minta maaf.
"Baiklah, maafkan saya." kataku. Lalu bergegas meninggalkan bagian keuangan. Menuju Yohana.
Beberapa langkah lagi sampai pada Yohana ketika seorang perempuan paruh baya yang tidak asing lagi bagiku menghampiri Yohana. Tanpa basa-basi ia mengomel panjang lebar.
"Kalian itu orang miskin benar-benar tidak punya etika ya. Kalau tidak punya uang jangan bawa anak kalian berobat. Suruh istirahat di rumah saja! Kamu tahu, putri dan cucuku terganggu dengan rengekan anakmu itu yang nangisnya benar-bemar tidak tahu situasi dan kondisi. Pecah, berisik sepenjuru klinik ini. Sudah tahu klinik kecil bukannya jaga suara malah berisij!" kata Tante Resi.
Tak ingin mendengarnya mengeluarkan ocehan yang lebih tajam pagi, segera ku hampiri Yohana dan Puti. Melihatku berada di sisi Yohana, Tante Resi langsung kaget.
"Ka ... Kamu kenal dia Ben?" tanya Tante Resi
"Ya. orang yang Tante bilang miskin ini adalah adik saya." kataku, lalu menggendong Puti, membawanya pergi. Langkah kakiku diikuti Yohana, ia agak sedikit berlari. Kami mengabaikan panggilan Tante Resi. Mendengarnya aku benar-benar muak!
"Ben, bukankah itu ibu mertuamu?" tanyanya yang agak sedikit berlari untuk menyeimbangi langkahku.
Aku tak menjawab.
"Itu ibunya mbak Reni, kan?" lagi-lagi ia bertanya. Kali ini aku jawab dengan anggukan. "Kenapa kamu bersikap seperti itu? Beliau itu ibu kamu juga, Ben. Sekarang ayo kembali dan minta maaf padanya."
"Aku harus mengantarkan Puti " kataku
"Tidak perlu. Aku saja!" Yohana hendak mengambil Puti, tapi aku mengelak.
Aku terus berjalan hingga sampai di kosannya. Hatiku semakin hancur saat melihat Upik merintih menahan rasa sakit
"Han, mana ayah dan ibunya?" tanyaku.
__ADS_1
"Entah."
"Anak mereka sakit seperti ini kenapa bisa lepas tangan begitu saja? Benar-benar tidak punya otak!" aku marah, manusia yang punya hati pasti akan terenyuh melihat dua anak kecil yang sedang sakit namun tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya
"Han, menikahlah denganku. Aku janji akan bertanggung jawab padamu dan dua anak ini. Aku akan memberikan kehidupan yang layak untuk kalian berdua. Jadi, ayo ikutlah denganku! Bukankah jadi orang miskin itu tidak enak. Kamu sampai dibentak-bentak orang hanya karena kamu miskin, makanya ayo menikahlah denganku!" kataku. Aku benar-benar merasa berada di titik terendah. Begitu melelahkannya menjadi orang miskin. Aku tak tega dengan mereka berdua sehingga tak sadar mengucapkan itu.
"Pergilah Ben, kamu sedang tidak baik-baik saja." katanya.
"Bagaimana aku bisa pergi kalau kalian sangat menyedihkan seperti ini!" aku meradang. "Kamu, apa yang salah dengan kamu? kenapa nasibmu begitu menyedihkan!" andai aku bisa, ingin sekali ku bawa ia pergi, andai ia mau. Tapi Yohana malah memaksaku untuk meninggalkannya.
"Pergilah Ben," katanya. Ia mendorongku sekuat tenaga, lalu mengunci pintu mereka rapat-rapat.
"Han, biarkan aku membahagiakan kamu!" kataku. Tak ada Jawaban. Sebelum pergi, ku putuskan meninggalkan beberapa lembar ratusan ribu untuknya.
***
Hari ini Reni dan Bre pulang dari klinik. Mereka kembali ke mes. Entah bagaimana ceritanya, ayahnya Reni berhasil mendapatkan satu kamar lagi untuk kami. Aku yang melihat hanya diam saja.
"Maaf ya nak Ben, kami harus merepotkan lagi." kata Tante Resi
"Ya." aku hanya menjawab pendek. "Nanti setelah Reni kembali ke Jakarta, tolong bantu surat-surat Bre, agar kami bisa bercerai sesegera mungkin." kataku, membuat Reni dan orang tuanya tak berkata-kata apapun lagi
Sebelum pulang, kembali ayahnya Reni memberikan setumpuk uang untukku, tapi aku tolak karena tak mau berhutang kepada mereka.
"Ini hanya sebagai ucapan terima kasih." kata ayahnya Reni.
"Tak perlu om, saya melakukan semuanya semata-mata untuk membantu Bre. Hanya itu. Jadi gak perlu membayar apapun." kataku.
Mereka kini pergi tanpa berkata-kata..Sekarang aku hanya bisa menanti hingga usia Bre dua bulan agar ia bisa segera kembali ke Jakarta dan aku bisa lebih fokus pada Yohana.
__ADS_1
"Ben," panggil Reni. "Apa kamu serius dengan perceraian itu?"
"Ya. Memang kenapa? Bukankah kita sudah membuat perjanjian dan sama-sama setuju."
"Tapi ...."
"Kenapa?"
"Lalu kamu mau apa setelah itu?"
"Aku akan memaksa Yohana agar mau menikah denganku."
"Dia kan sudah menikah."
"Aku tak peduli.. Kehidupannya tak bahagia. Yohana mendery, makanya aku akan menikahinya."
"Ben, tapi Tuhan melarang mencuri istri orang!"
"Aku akan membuatnya bercerai."
"Astagfirullah Ben, jangan lakukan itu. Kamu akan dihujat banyak orang."
"Aku tak peduli." kataku, lalu pergi meninggalkannya.
***
Aku dan Riko masih asyik berbalas pesan. Kami membahas masalah Reni. Aku menyarankan agar ia bersiap melamar Reni setelah kami bercerai.
Riko sekarang sudah mulai yakin. Ia sudah tak setakut dulu meski keluarganya menentang. Toh secara keuangan ia sudah tidak bergantung pada keluarganya. Pendapatannya sebagai dokter umum lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya. Ia juga sudah rela gak langsung mengambil spesialis jika benar-benar keluarganya memutus hubungan. Meski begitu Riko akan tetap berusaha membuka pintu hati orang tuanya. Ia tetap ingin Reni diterima di keluarga besarnya.
__ADS_1
[Pekan depan aku akan ke sana, Ben. Aku benar-benar tak sabar ingin melihat bayinya Reni. Aku berharap dengan kami sering bertemu dan keberadaanku di sisinya bisa membuka hatinya untuk menerimaku sebagai calon suaminya sesungguhnya.] kata Riko.
[Ya tentu. Aku akan mendukung kamu Ko. Aku juga akan menantikan kehadiranmu.] kataku. Kami sengaja membuat kesepakatan tak akan memberi tahu tentang rencana kedatangan Riko pada Reni sebagian kejutan untuknya.