
Pagi-pagi sekali, sebelum azan Subuh berkumandang, aku sudah bangun. Pelan-pelan turun dari tempat tidur, mengendap-endap menuju luar kamar. Lalu mulai melaksanakan rencanaku. Merapikan rumah yang sangat berantakan karena semalam kami lembur mengejar pesanan. Setelah itu aku buru-buru ke dapur, memasak nasi goreng dengan resep hasil mendownload di internet. Sebenarnya ada banyak resep yang muncul, tapi aku memilih nasi goreng rendang sebab tahu Yohana suka segala hal yang berhubungan dengan ranah Minang.
Teng teng teng teng. Bunyi Sutil dan wajan saat aku memasak ternyata cukup keras hingga akhirnya dua perempuan yang ku sayangi terbangun. Yohana dan Ami. Istriku kaget dengan apa yang aku lakukan, sementara Ami hanya menatap bingung sebab tak pernah abangnya begini, kini tiba-tiba jadi rajin. Tanpa alasan yang ia mengerti.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Apa kamu juga yang membereskan rumah?" Tanyanya. "Ya Allah, jangan begitu sayang. Biarkan aku yang mengerjakan. Aku benar-benar tak nyaman bila begini. Pekerjaan rumah adalah tanggung jawab istri, kamu tak boleh begitu." Pinta Yohana.
"Nggak sayang, mulai sekarang semua ini akan jadi tanggung jawabku. Karena memang ini adalah tugas suami. Istri hanya membantu saja. Aku akan jadi pelayan kamu, sayang, jadi biarkan aku melayani kamu. Silakan katakan apa yang kamu mau maka aku akan mengabulkannya." Kataku. "Sekarang ayo berisap salat lalu kita sarapan." Kataku.
Yohana tetap menolak dengan keputusan baruku. Bahkan ia hampir menangis. "Kalau kamu melakukan semuanya sendiri, lalu untuk apa aku di sini? Aku adalah istri, sampai kapanpun tugasku adalah melayani suamiku. Jangan merubahnya sayang atau Tuhan akan marah padaku." katanya.
Kami berdua sempat berdebat, namun akhirnya aku mengalah juga karena tak mau membuat Yohana sedih. Ia benar-benar menjujung prinsip perempuan zaman dulu dimana istri yang harus melayani semua kebutuhan suaminya. Melihat kami berdua berdebat membuat Ami bingung.
"Sungguh, Abang dan kak Yohana itu aneh sekali. Pagi-pagi membuat aku terbangun hanya untuk berebut siapa yang akan melayani siapa. Apa kalian tidak kasihan dengan aku yang jomblo ini. Ingat, aku juga menghuni rumah ini, jadi jangan terlalu mesra di hadapanku!" Kata Ami sambil berlalu ke kamarnya. Sementara kami berdua terkekeh.
***
__ADS_1
Selesai salat, mandi dan berganti pakaian, kami bertiga duduk kursi makan, di atas meja sudah tersaji nasi goreng buatanku. Pertama menikmatinya, Yohana dan Ami langsung memuji, bahkan Ami sampai berseloroh kalau aku memang pantas menjadi pelayan Yohana sebab aku telah lulus ujian memasak. Mendengar itu Yohana langsung membantah, tentu saja ia tak mau dilayani olehku. Tapi sesekali ia masih bisa terima.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Ami, saat aku dan Ami sudah di atas motor. Aku memang mengantarnya terlebih dahulu ke kampus sebelum aku sendiri berangkat ke kantorku. "Pasti ada sesuatu, kan? Abang tak akan mungkin berubah sangat perhatian dalam satu malam?" Ami meminta penjelasan atas perubahan sikapku pada Yohana. Rupanya ia sangat penasaran, namun menahan diri sambil mencari waktu yang tepat bicara denganku.
"Kami tak akan pernah bisa punya anak." Kataku, sambil terus menatap ke depan. "Bunda memberinya obat-obatan."
"Ya Allah ... teganya." Suara Ami bergetar.
"Bantu aku untuk membahagiakannya. Kita harus menebus semuanya. Tapi jangan membuatnya curiga. Yohana sangatlah peka," belum selesai aku bicara, terdengar suara Isak tangis. Ia memelukku lebih erat.
"Hana tak suka dikasihani." Kataku.
"Ya. Hatinya benar-benar baja!" Ami membenarkan. Aku menyuruhnya untuk tak menangis. Yohana akan kuat, ia perempuan yang luar biasa. Ia tak butuh ditangisi karena sejak kecil ia sudah ditempa dengan ujian yang amat luar biasa. Tapi tetap saja, pada akhirnya kami berdua yang menangis sepanjang jalan menuju kampus Ami.
***
__ADS_1
Ini pertama kalinya dalam hidup Yohana, ulang tahunnya dirayakan. Sebenarnya ini ide Ami. Aku sendiri sangat bingung waktu Ami mengatakan akan merayakan ulang tahun Yohana untuk membahagiakannya. Siapa yang harus kami undang, mengingat ia tak punya teman. Hingga lulus SMA, Yohana benar-benar terkurung di rumah. Ia tak lagi punya teman, apalagi setelah Alif lahir, hidupnya praktis di rumah saja. Tentang bagaimana konsepnya, Ami juga yang mengatur, hanya sebatas acara makan-makan, karena memang keluarga kami tak pernah melakukannya jadi serba bingung.
Tapi pada akhirnya kami sepakat mengundang orang-orang yang dekat dengan keluarga kami dan pastinya dikenal Yohana, aneh juga kalau pemilik pesta tak tahu siapa saja undangannya. yaitu Riko, Reni dan Bre. Mas Yanuar, mbak Lila dan Alif. Genta dan Fuji. Hanya itu orang-orang yang Yohana kenal. Tapi menurut kami itu sudah cukup, sebab kami menginginkan kehangatan acaranya saja sehingga Yohana bisa bahagia.
Saat acara di mulai, aku sengaja mendatangkan Yohana dengan mata tertutup. Ia benar-benar kaget dengan pesta sederhana namun terasa mewah sebab Ami benar-benar total merancang acara ini.
"Terimakasih untuk semuanya. Aku benar-benar berhutang budi kepada suamiku, adik iparku dan semua yang hadir di sini." Kata Yohana dengan suara terbata-bata. Tampak betul kalau ia sebenarnya sangat kaget namun juga terharu diberi kejutan seperti ini. Selama acara, senyum di wajahnya tak pernah sirna. Ia banyak bercerita dengan Reni, mbak Lila, Ami dan Fuji. Sesekali juga bercanda dengan Bre dan Alif. Melihatnya seperti ini membuatku juga gembira. Ku harap bisa terus membuatnya tersenyum.
***
Acara makan-makan itu tiba-tiba saja terhenti ketika tiba-tiba ada sesosok lelaki paruh baya yang berdiri di depan pintu rumah kami. Pak Diki. Ia hadir di sini. Melihatnya, mas Yanuar dan Fuji cepat-cepat menghampiri, khawatir ayah mereka mencari keberadaan mereka. Tetapi ternyata tidak, pak Diki justru mencari aku. Makanya, akupun langsung maju menghampiri tamu yang memang tidak diundang ini.
"Oh, rupanya sedang ada acara ya." Katanya, sambil tersenyum tipis. Sikap yang sangat berbeda dengan ia yang biasanya selalu ketus dan dingin padaku. Melihatnya, aku jadi terpikirkan sesuatu dan aku membenci pikiranku itu. "Nak Ben, terimakasih ya sudah membantu mengembalikan anak-anak saya." Ia menatap sekilas putra sulung dan putri keduanya. "Hutang di Antara keluarga kita saya anggap Selesai. Rukun-rukunlah dengan anak-anak saya." Ia menepuk pelan pundakku. Lalu berbalik hendak pergi. Namun, ia sempat melambaikan tangan pada kedua anaknya yang ada di sini.
Baru beberapa langkah, lelaki itu tiba-tiba ambruk. Aku yang berada di dekatnya langsung menangkap tubuh lelaki itu. Ia sempat melempar senyum, kemudian pergi untuk selamanya, diikuti tangis kedua anaknya. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.
__ADS_1