
"Kamu sudah pulang, Ben? Kamu benar-benar kembali?" perempuan yang melahirkan aku itu langsung menyambut kedatanganku. Belum lama kami berpisah, sekarang kondisinya sangat berbeda dengan sebelumnya. Bunda tampak kurus dan mengalami kesulitan melihat karena katarak. Bunda sampai meraba-raba untuk bisa merasakan kehadiranku.
"Bun," panggilku, sambil memegang tangan bunda yang menyentuh pipiku. Melihat bunda saat ini benar-benar membuat hatiku sedih. Begitu juga dengan Abah yang kondisinya sangatlah memprihatinkan. Sepanjang perjalanan Ami sudah menceritakan bagaimana Abah sekarang. Sifatnya kadang seperti anak kecil yang ingin menang sendiri, selalu sirik dengan orang lain dan tak pernah berprasangka baik, selalu khawatir akan dijahati orang lain. Kata Ami, Abah sudah tak pernah lagi mengisi kajian karena memang kondisi kejiwaan Abah tak baik-baik saja.
"Jamaah abah banyak juga yang mengejek Abah, bang. Mereka menyindir dan menghina Abah habis-habisan. Mendengarnya aku benar-benar sedih." Kata Ami lagi. Tapi kondisi seperti itu sebenarnya bukan hal yang penting mengingat sikap orang lain tak akan mempengaruhi hidup kita. Orang-orang julid memang akan selalu ada dimana-mana, hanya tinggal bagaimana kita menghadapinya. Dengan tidak ambil pusing dan terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi.
"Ben, bunda kangen sekali. Maafkan bunda ya Ben. Bunda sedang sakit, bunda benar-benar takut tak bisa bertemu kamu. Bunda minta maaf ya nak sebab selama ini tak adil kepada kamu. Segala perbuatan buruk kami di masa lalu kini mulai mendapatkan balasan. Sedikit demi sedikit kami merasakan apa yang orang-orang rasakan." Kata bunda. "Terutama Yohana. Andai ia masih ada, bunda siap bersujud di kakinya untuk mendapatkan maaf darinya." Kata bunda sambil menangis.
Sebagai anak yang sebenarnya sangat mencintai orang tuanya, hatiku pun ikut bergetar. Aku tak tahan mendengarnya. Makanya aku memeluk bunda erat-erat. Aku tahu bagaimana dulu sikap buruk kedua orang tuaku yang sebenarnya punya latar belakang pendidikan agama yang bagus, namun mereka juga orang yang zalim, narsis, suka berbuat seenaknya pada siapapun dengan berlindung di balik alasan agama.
Benar kata bunda, Yohana adalah orang yang paling menderita karena ulah Keluarga kami. Abah mengangkatnya sebagai anak hanya demi mendapatkan nama sebagai orang dermawan, bahkan kedua orang tuaku teha menghancurkan masa depannya untuk menutupi aib keluarga yang ditoreh bang Sigit.
"Bun, sudahlah. Yohana pasti sudah memaafkan kita semua. Bunda tenang saja ya. Sekarang fokus dengan kesehatan bunda. Allah memberi kita ujian agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Ini akan jadi penggugur dosa-dosa kita." Kataku pada bunda.
__ADS_1
Kepulanganku saat ini rasanya begitu syahdu. Aku merasakan kalau mereka benar-benar membutuhkan kehadiranku di sini. Abah yang kadang bangkit emosinya dan marah tanpa sebab butuh ditangani oleh seorang laki-laki untuk menyeimbangi tenaga Abah. Bunda yang gampang down, butuh dikuatkan olehku sebab Ami juga kadang tak kalah mellow kalau bunda sudah mulai curhat. Juga sikecil Alif yang tentunya butuh sosok ayah dan ibu. Tapi setidaknya dengan ada aku, bocah laki-laki yang sudah jadi yatim itu bisa belajar dan ke masjid denganku.
Meski begitu aku juga harus memulai memikirkan masalah perekonomian keluarga kami sebab sekarang Abah tak lagi bekerja. Tabungan bunda juga sudah semakin menipis sebab Abah rutin berobat.
"Abang yakin mau cari kerjaan? Berarti Abang akan sibuk di luar?" Ami mulai khawatir sebab ialah yang akan kembali menjadi ujung tombak mengurus Abah dan Bunda.
"Aku nggak akan kerja kantoran karena aku tahu itu tak akan mungkin. Aku harus selalu standby di sini mengurus keluarga. Juga harus siaga kalau-kalau ada berita dari pak Rizal tentang Yohana." Kataku. Sehingga membuat Ami sedikit lega sebab akhirnya ia punya partner juga untuk merawat orang tua kami. "Mungkin aku akan berwirausaha."
"Bagaimana kalau berjualan keripik sanjai?"
"Sanjai?" Ami mengerutkan keningnya.
Kenapa harus sanjai? Karena itu adalah jenis usaha yang diimpikan oleh Yohana. Ia mengaku saat kami jalan-jalan ke Bukittinggi, ia suka makan keripik sanjai dan salah satu impian terbesarnya adalah menjadi juragan keripik sanjai. Kata Yohana, ia bahkan sampai belajar dengan pegawai di salah satu kios sanjai yang terkenal di Bukittinggi demi bisa mendapatkan rasa yang tak kalah enaknya, tentunya dengan inovasi agar tak sama dengan brand kadang lain
__ADS_1
"Abang yakin mau buka usaha itu? Lalu bagaimana dengan produknya? Mau dibuat sendiri atau ngambil dari orang lain, semacam penyalur gitu? Tapi kalau buat sendiri kita nggak akan bisa sebab. Kita berdua sama-sama tak bisa memasak." Kata Ami lagi.
"Bagaimana kalau kita ikut kelas memasak. Abang juga akan belajar otodidak dari YouTube dan media sosial lainnya. Pasti banyaklah ilmu yang bisa kita dapat." Aku meyakinkan. Sebenarnya Ami masih ragu-ragu, tapi melihat tekadku yang sudah bulat mengingat hanya pekerjaan itu yang terpikir olehku ditambah modal kami yang terbatas akhirnya ia setuju-setuju saja. Aku sudah memilih beberapa tempat untuk Ami menjalani kursus memasak dimana chef-nya benar-bemar orang Minang agar rasanya sesuai dengan brand yang akan kami buat nantinya.
Kerja itu kami mulai saat itu juga. katanya menunda-nunda sebuah pekerjaan sama saja menunda-nunda keberhasilan Aku mulai mendownload beberapa tutorial membuat sanjai dari YouTube, juga menghitung keuangan, sementara Ami berbelanja singkong, ubi serta bahan-bahan dasar lainnya. Sikecil Alif juga ikut aktif membantu. Usai menemani Ami berbelanja, ia juga membantuku membuat logo..meski secara sederhana karena aku membuat sendiri tapi logonya sudah cukup bagus menurutku.
"Sanjai Mananti Yohana?" Ami mengerutkan keningnya saat membaca logo yang sudah aku cetak. "Apa artinya itu, bang?"
"Brand ini menandakan kita sedang menanti kedatangan Yohana." kataku. Lagi-lagi memang hanya ia yang ada diingatan ku. "Anggap saja sebagai doa agar Yohana bisa segera kembali ke tengah keluarga kita " aku menyampaikan harapanku pada Ami.
"Bang, semoga saja kak Yohana segera ketemu ya." Aku meneteskan air mata. Kami yang semula sedang bersuka cita berubah menjadi haru. Andai Yohana hadir di sini, rasanya kebahagiaan kami terasa sempurna.
"Bunda kapan pulang Tante?" Tiba-tiba Alif menyeletuk. Anak itu, kata Ami, sejak kepergian Yohana jadi pendiam, ia benar-benar tak pernah mempertanyakan keberadaan ibunya meski hanya sekali dan kali ini ketika ia bertanya membuat kami merasakan haru yang luar biasa. Rupanya ia pun merindukan ibu asuhnya. Yohana memang bukan ibu yang mengandung dan melahirkan Alif, tapi Yohana adalah ibu yang merawat dan membersamai Alif selama dua puluh jam sebelum ia dijemput oleh keluarganya.
__ADS_1