
"Ini pasti mahal." Tebak Yohana. Saat kami turun dari mobil lalu berjalan menuju lobby hotel sambil menarik koper kecil berisi baju ganti milikku dan Yohana yang sudah disatukan dalam satu tempat.
"Semua Reni dan Riko yang membayar. Rezeki kita bisa menikmati semuanya." Kataku. Usai chek in kami menuju kamar pilihan Reni dan Riko, benar saja dugaanku, mereka memesankan kamar paling besar dengan fasilitas terbaik. Hadiah pernikahan yang diberikan untuk kami juga tak tanggung-tanggung, mereka sudah menyiapkan sebuah perumahan untuk tempat tinggal kami tak jauh dari rumahnya. Kata Riko, itu bukan hanya dari ia dan istrinya tapi juga dari orang tua Reni. Mereka sudah menganggapku sebagai anak sendiri, jadi ingin memberikan hadiah terbaik juga. Sebenarnya om Bili dan Tante Resi ingin menghadiri pernikahan aku dan Yohana, tapi mereka sudah terlanjur ada jadwal perjalanan bisnis ke Amerika.
Saat berdua di kamar, aku memeluk Yohana erat. Ini untuk pertama kalinya dalam hidupku, akhirnya bisa memeluk dan mengecup keningnya. Aku benar-benar tak menyangka akhirnya bisa menikah dengannya setelah melewati rangkaian ujian yang cukup menguras energi, pikiran dan air mata
"Han, jadilah istriku, selamanya berada di sisiku sampai salah satu dari kita tak ada lagi di bumi ini, lalu semoga kita bisa dibangkitkan kembali dan disatukan menjadi sepasang suami istri di surga Allah." aku berbisik di telinga Yohana
"Aamiin ... Aamiin ... Aamiin ya Allah. Iya suamiku, aku akan selalu di sisimu, menemani saat engkau susah maupun senang." ucap Yohana.
Meski hari masih terlalu siang namun tak bisa membuat kami untuk memainkan nyanyian cinta kekasih yang telah halal. Aku dan Yohana sama-sama memadu kasih untuk pertama kalinya.
"Ya Allah ...." Aku tak percaya dengan apa yang terjadi. Yohana, ia masih suci. Ia benar-benar tak pernah disentuh sebelumnya oleh bang Sigit. Pernikahan mereka benar-benar hanya untuk menutupi aib bang Sigit, ia tak pernah menjadi istri yang sebenarnya. "Astagfirullah," aku berulang kali mengucap istighfar, tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Yohana jika bang Sigit masih hidup sampai sekarang. Ia tak pernah mendapatkan haknya sebagai istri, hanya sebatas hiasan saja untuk menutupi kebobrokan bang Sigit. Betapa zalimnya keluargaku padanya. Sejak ia kecil hingga ia menikah. "maafkan Han, maafkan keluargaku. Abah, bunda dan bang Sigit." Aku berbaring sambil memeluk pinggang Yohana.
__ADS_1
"Sayang, semua ada hikmahnya, Allah membuat takdir seperti ini agar aku utuh untukmu." Kata Yohana. Sejak menikah, ia dan bang Sigit memang tak pernah tidur sekamar. Abangku itu selalu pergi dan konon masih terus mencari mbak Lila sebab itulah perempuan yang ia cintai. Hanya saja, yang aku sesali, jika bang Sigit tak mencintai dan tak bisa menumbuhkan cinta di hatinya untuk Yohana, kenapa juga harus menikahinya. Harusnya berani menghadapi semua akibat atas ulahnya sendiri, bukan dengan mengorbankan masa depan Yohana. Beberapa tahu menjadi teman hidupnya hanya sebagai hiasan saja.
"Aku harap bisa menebus semua kesalahan mereka, Han. Aku bisa membahagiakan kamu." ucapku, sambil menggenggam erat tangannya. "Kita akan hidup bahagia. Aku, kamu dan anak-anak kita nantinya." Kataku.
"Ya sayang, aku juga ingin memiliki anak-anak yang banyak denganmu." Kata Yohana. Kami kembali berbaring sambil menyatukan visi dan misi hidup kami. Tak lupa berjanji akan sama-sama menjaga cinta ini.
***
"Sudah sudah sayang, ayo ketepi. Aku sudah kedinginan, perut juga sangat lapar. Ayo kita sarapan keluar." kata Yohana.
Aku menurut, membantunya sampai ke tepi. Begitu sampai di tepi kolam ia langsung meloncat menjauh. Bosan berenang sendiri, akupun menyusul Yohana yang sudah berganti pakaian.
"Ternyata jadi orang kaya itu enak ya sayang. Bangun tidur tak perlu kerja, langsung berenang, setelah puas kemudian mandi." Kata Yohana sambil terkekeh.
__ADS_1
***
Tiga hari ini kami benar-benar bak raja dan ratu. Tiap hari hanya tidur-tiduran di kamar. Makan semuanya disiapkan. Kami bisa request apapun yang kami inginkan, bisa akses kolam renang pribadi dan bisa memakai ruang olahraga juga.
Ketika masa bulan madu itu telah usai, kami berdua sudah siap memulai kehidupan baru sebagai suami istri. Tiga hari rasanya sudah cukup untuk kembali menumbuhkan rasa cinta di hati. Kami yang sempat mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan hati kini bisa melangkah dengan lebih pasti. Kami sudah sepakat tak akan membahas masa lalu .
Sebelum pulang ke rumah Abah dan Umi yang akan kami tempati sebab masih ada Ami yang jadi tanggung jawabku, kami berdua mampir ke makam bunda dan bang Sigit yang berdampingan. Kami ke sana untuk ziarah sekaligus aku ingin meminta maaf pada Yohana di hadapan makam ketiga keluargaku atas kezaliman kami selama ini. aku beruntung sebab Yohana benar-benar tak mendendam, ia bahkan berulang kali mengatakan bersyukur dengan jalan hidupnya yang meski tak sempurna namun pada akhirnya ia bisa bersama dengan lelaki yang dicintainya.
sampai di rumah, mbak Lila dan Ami sudah menyiapkan nasi besekan untuk dibagikan ke tetangga kiri dan kanan sebagai cara untuk mengabari bahwa aku dan Yohana sudah menikah. Kami memang tak akan mengadakan pesta walimahan untuk menghemat bajat keuangan yang rencananya akan dipakai untuk modal jualan keripik.
"Wah senang sekali melihat mbak Yohana sudah kembali tinggal di sini. Apalagi sekarang juga sudah menikah dengan mas Ben. Memang sih yang terbaik itu memang ayah pengganti itu dari keluarga sendiri supaya nggak ada bedanya untuk kasih sayang nantinya kalau Alif punya adik lagi meski sebenarnya Alif itu sudah sangat beruntung punya ibu seperti mbak Yohana. ibu terbaik sabar dan telatennya. nanti mas Alif kalau sudah besar pasti lebih hebat lagi dari Abinya berkat didikan ibunya." kata salah satu tetangga yang menyambangi rumah setelah mendapat besekan yang dibagikan Ami dibantu Reni.
Aku dan Yohana awalnya hanya tersenyum mendengar komentar tetangga tersebut, tapi kemudian jadi tak enak hati sebab di sini ada mbak Lila, ibu kandung Alif yang tidak diketahui oleh orang-orang. mbak Lila juga nampak tidak nyaman dengan celotehan itu.
__ADS_1