
Orang tua Reni akhirnya datang juga, tentunya setelah aku sedikit mengeras ditambah masukan dari Riko. Mereka yang sebenarnya orang kesehatan paham kalau putrinya sedang tidak baik-baik saja. Namun karena rasa cinta yang begitu besar juga harapan agar aku benar-benar bisa menikah dengan Reni yang menjadi sumber kebahagiaannya sehingga membuat mereka menutup telinga dan mata, mengikuti permainan yang dibuat anaknya.
"Ben, tolong bujuklah Reni. Ia tak mau pulang kalau kamu tidak ikut " punya ibunya Reni yang sudah kewalahan.
Supaya Reni bisa segera pergi, akupun mengikuti permintaan ibunya. Aku membujuk Reni agar mau pulang dan berjanji akan segera ke Jakarta setelah urusanku selesai. Tentu saja urusan itu tidak aku perjelas sebab kalau ia tahu aku akan mencari Yohana, pastilah ia akan kembali mengamuk.
Dengan susah payah, Reni akhirnya bisa dibawa juga. Aku sedikit bisa bernafas lega meski maslahat hidupku masih terlalu banyak. Mencari Yohana entah dimana, juga menyelesaikan misi dari Genta.
Kini satu-satunya yang bisa menolong adalah abangnya Yohana. Beruntung mereka suka uang, jadi dengan dijanjikan uang mereka langsung buka mulut.
"Istrimu melunasi semua hutang-hutang kami dengan syarat Yohana harus pergi dari kehidupan kamu tanpa meninggalkan jejak sedikitpun." kata abangnya Yohana.
"Ini benar-benar tidak adil, kalian yang berhutang kenapa membebaninya seperti itu? Lagipula saudara seperti apa kau ini, tega membuat adikmu menderita." aku marah padanya. "Lalu kemana kau antarkan Yohana?"
"Aku tak tahu ia mau kemana sebab ia hanya minta diantar ke terminal bis. Hanya itu."
"Tidak mungkin kau tak tahu!" aku naik pitam, mencengkram kerah bajunya yang sudah lusuh hingga hampir robek. Abang Yohana sempat hendak melawan tapi sulit baginya melawanku yang sudah sabuk hitam karate. Untung saja ada dua putrinya yang menjerit ketakutan aku akan menyakiti ayahnya, makanya aku tak jadi memukuli. "Ayo jawab kemana Yohana? Dia tak tahu Sumatra, tak mungkin dia pergi tanpa tujuan!"
"Aku benar-benar tak tahu. Terserah kau mau menuduhku seperti apa tapi aku sudah bicara jujur!" ia masih bersikeras sehingga aku pun akhirnya percaya.
"Kalau ada informasi tentang Yohana segera kabari aku. Kau ini abangnya, jangan jahat-jahat padanya. Seumur hidupnya sudah menderita, apa kau tak kasihan padanya?" kataku dengan suara keras. "Aku akan terus mengawasi kamu. Dan satu lagi, kau juga harus menjaga dua putrimu, mereka juga hidupnya sama tidak beruntung seperti Yohana, kau harus menjaga mereka, jangan lagi menelantarkan mereka atau aku yang akan turun tangan langsung!" aku memberikan uang satu juta padanya. Dengan catatan uang itu untuk menyambung hidup, terutama untuk kebutuhan dua putrinya. Selama ini mereka bergantung pada Yohana, aku tak mau setelah kepergian Yohana, Upik dan Puti jadi kembali menderita. Meski kehidupan yang diberikan Yohana tidak mewah, namun anak-anak itu jauh lebih baik, terutama makannya.
Abangnya Yohana yang semula asal-asalan sekarang berubah menjadi baik padaku usai mendapatkan uang. Ia bahkan mencium tanganku.
__ADS_1
***
Yohana, kamu dimana? Ini hari terakhir aku di mes. aku belum tahu harus mencari Yohana kemana lagi. Kemarin aku sudah menyusuri terminal diantar abangnya Yohana, kami berdua sudah mencari kemana-mana, bertanya pada siapapun tapi tak ada satu bis pun yang dinaikinya..Lalu kemana ia pergi?
Han, apakah hidupmu baik-baik saja sekarang, kau tak tahu wilayah sini, kau juga bukan orang yang terbiasa dengan dunia luar. Aku hanya berharap sebelum kita bertemu, dimanapun kamu berada semoga kamu bertemu orang-orang baik!
***
"Ben Ben Ben!" Abang Yohana berlari ke arahku, ia menunjuk ke arah dermaga. "Ada yang menemukan gadis tenggelam di sana. Dari ciri-cirinya seperti Yohana.
Tanpa basa-basi aku langsung berlari ke dermaga, di sana sudah ada polisi dan pihak berwenang sedang melakukan evakuasi. Aku berusaha menerobos untuk memastikan apakah itu Yohana atau bukan, tapi polisi tidak mengizinkan, mereka memintaku ke kantor polisi untuk melakukan identifikasi.
"Dari pakaian yang dikenakan, itu sama dengan pakaiannya." kata abangnya Yohana sambil menangis.
Aku yang berusaha tenang kini tak kalah frustasi. Meski aku berusaha untuk menyembunyikan.
"Kau ... lakukan tes DNA untuk memastikan itu adikmu atau bukan!" kataku pada abangnya Yohana.
Meskipun postur tubuh dan juga pakaian yang digunakan sama, tapi aku sangat yakin itu bukan Yohana. Satu-satunya cara hanya dengan yes DNA untuk membuktikan itu bukan Yohana ku!
"Tidak bisa," katanya.
"Kenapa tidak bisa? Kau abangnya, kau bisa membuktikan bahwa ia adalah adikmu!" kataku, tak kalah ngotot.
__ADS_1
"Ben, aku dan Yohana ...." ia tampak ragu.
"Apa? Katakan, cepat jawab!" aku benar-benar tak sabar.
"Aku bukan saudara kandungnya, kami tidak satu darah."
"Apa?"
"Ben, aku dan Yohana beda ayah dan ibu. Ayahku menikah dengan ibu Yohana saat ia masih bayi. Jadilah ia sebenarnya hanya saudara tiri yang kebetulan disatukan oleh pernikahan orang tua kami. Jadi kalaupun harus tes DNA, aku tak akan bisa membuktikan bahwa ia benar Yohana atau tidak."
Bruk. Bruk. Dua buah pukulan langsung melayang ke wajah Bandaro, laki-laki yang mengaku abangnya Yohana. Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin ada orang sejahat ini. Ia menyimpan kenyataan demi kepentingan pribadinya. Demi Yohana mau menafkahi keluarga kecilnya.
Kalau saja tak ada polisi yang memisahkan kami, aku bisa menjamin ia akan habis di tanganku.
Laki-laki itu sudah mempersulit kehidupan Yohana.
Aku diamankan di sebuah ruangan kosong. Polisi di sana menasihati agar aku tenang. Mereka sedang berusaha mengungkap identitas gadis tersebut sembari menyebar informasi orang hilang.
Aku sudah tak dapat menahan air mata lagi, satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya menangis. Kenapa semuanya jadi begini?
Bayangan gadis itu muncul di hadapanku, ia yang menahan air mata saat bunda melarangnya ikut jalan-jalan bersama keluarga kami. Yohana yang tak pernah mendapatkan pakaian baru, tapi sisaan dari baju kaus kami anak laki-laki Abah dan Bunda. Ia yang tak bisa berkata apa-apa saat dipaksa menikah dengan bang Sigit. Juga ia yang sempat berjuang agar aku mau menikahinya.
Han, jalan hidup kamu teramat berat, aku tak tahu apakah ini sudah akhir atau belum, tapi hatiku selalu berkata kamu masih ada Han, entah dimana. Aku ingin bertemu.
__ADS_1