
[Aku ada di depan pagar, bolehkah aku masuk? Kalau kamu belum siap berbicara, tak mengapa, aku akan diam saja. Tapi jangan suruh aku pergi lagi. Tidur di ruang tamu pun tak mengapa, atau di teras. Yang penting kita berada di rumah yang sama. Aku sangat merindukan kamu, sayang. Dua pekan ini tidurku tak nyenyak karena memikirkan kamu.] Pesan yang ku tulis untuk Yohana.
Satu menit hingga lima menit berlalu. Tak ada balasan darinya. Ketika aku hendak menyalakan mesin kendaraan untuk pergi, tiba-tiba pintu rumah terbuka, tampak Yohana berlari ke arahku, jantungku sampai berdegup, kira-kira, apakah ia akan menerimaku atau sebaliknya?
"Sayang," ia yang kini sudah berada dalam mobil langsung memelukku erat. Seperti sudah puluhan tahun tak bertemu. Namun meski tak selama itu, bagi orang yang saling mencintai, perpisahan sebentar amatlah menyiksa. "Maafkan aku, maafkan aku. Aku sungguh istri yang buruk, membiarkan suamiku tersiksa. Maafkan aku sayang." Pinta Yohana, ia sampai menggugu.
"Tidak, aku paham kok sayang, kamu tak bersalah, kalaupun kamu salah, aku sudah memaafkan kamu bahkan sebelum kamu meminta maaf. itu wajar kalau kamu masih memikirkan anak-anak, bagaimanapun mereka sudah menjadi bagian dari hidup kita dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Kamu pasti sangat cemas. iya, kan?" aku mengusap pelan kepala Yohana, mencoba memahami keresahannya.
"Rasa bersalah itu membuatku tak nyaman. Sudah terlalu lama kita terpisah, entah dimana mereka? Kalau baik-baik saja, aku bisa sedikit lega meski tetap saja aku berhutang banyak waktu yang terbuang tanpa mereka. Namun bila mereka hidup tidak baik-baik saja, aku sangat berdosa sekali." Kata Yohana.
"Ayah!" Tiba-tiba Caca keluar. "Ayah sudah pulang?" ia menatapku tak percaya. "Ayah kenapa tidak masuk? Apakah ayah hanya merindukan Bunda, tapi aku tidak? Padahal aku sangat rindu ayah." Caca merajuk.
Kami bertiga segera masuk ke rumah. Di sana, Yohana yang sudah memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Caca akhirnya buka mulut juga. Ia menjelaskan alasan pertengkaran kami hingga aku pergi dari rumah.
__ADS_1
"Jadi aku punya dua kakak? Dua anak angkat ayah dan bunda yang lain?" Ia menatap kami bergantian. Pada Caca kami berdua memang terbuka tentang asal usulnya yang memang bukan anak kandung kami agar nantinya saat ia sudah dewasa tak susah untuk menjelaskan latar belakangnya yang sebenarnya. Lagipula Yohana sudah mendidik Caca dengan sangat baik, ia mempersiapkan putri kami tersebut agar memiliki hati yang luas lagi baik. "Akupun berharap bisa segera bertemu dengan mereka."
"Kita akan lebih giat lagi mengumpulkan informasi tentang mereka. semoga secepatnya Upik dan Puti bisa ditemukan." Kataku.
***
Sudah bertahun-tahun berlalu, dengan minimnya informasi, bukan perkara mudah untuk menemukan anak yang hilang di saat kecil, apalagi sekarang mereka pasti sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Akan banyak kendala yang mungkin akan kami hadapi, karena itu dibutuhkan kekuatan sekaligus semangat yang pantang menyerah untuk menghadapi semuanya.
"Kedua putri kami hingga sekarang hilang, entah ada dimana, entah mereka baik-baik saja atau malah sebaliknya. Kalian berdua, terutama kamu Yohana, yang sok bijak mengambil mereka dari kami, harus bertanggung jawab atau kami akan adukan kalian ke polisi sebab sudah lalai menjaganya. Atau aku curiga, jangan-jangan kalian sengaja melakukan itu. Entah rencana busuk apa yang kalian sembunyikan. Ayo jawab!" Bandaro, ayahnya Upik dan Puti meradang, mereka murka kepada kami berdua.
Sebenarnya kabar tentang hilangnya Putri mereka sudah kami beritahukan di hari yang sama saat kami mengetahui kabar dari panti. Bahkan kami mengajak mereka untuk bertemu, namun tak ada balasan dari sepasang suami istri ini, makanya kami berpikir mereka tak peduli sehingga kami memutuskan untuk tidak lagi mengabari pada mereka. Namun yang terjadi, mereka malah menyerang kami hari ini.
"Jangan diam saja, jawab Yohana!" bentak Bandaro sehingga membuatku meradang. Sebagai suami Yohana, aku merasa berkewajiban untuk melindungi istriku. Tentang perasaannya, ia pun sangatlah hancur, bahkan aku yakin Yohana jauh lebih hancur dari ibu kandungnya Upik dan Puti mengingat selama ini mereka cuek saja.
__ADS_1
"Hei, tak perlu sekasar itu. Kami juga sudah berusaha untuk mencari Upik dan Puti. Bahkan sampai saat ini kami tidak melepas kasus ini begitu saja karena kami sangat menyayangi kedua anak itu." kataku.
"Halah, itu kan bisa-bisanya kalian bicara saja. Kalian itu dua orang yang sangat jahat. Menuduh kami menelantarkan anak-anak kami, tapi ternyata kalian yang melakukannya. Selama dengan kami, anak-anak itu tak pernah kabur, tapi dengan kalian, mereka pergi. Pasti karena ada sesuatu. Lagian kalau kalian benar-benar berniat mengadopsi, harusnya tidak meletakkan mereka di panti asuhan, harusnya anak-anak itu dibawa. Sekarang kalian gak bisa mengelak lagi, aku akan mengadukan kalian ke polisi!" Ia mengancam.
"Bang, tolong jangan lakukan itu. Kami benar-benar minta maaf tapi kami tak berniat untuk menghilangkan Upik dan Puti. Tolong maafkan kami." pinta Yohana.
"Aku dengar suamimu yang sombong ini sudah jadi pejabat, kau pun sudah jadi pengusaha sukses, ya?" Bandaro tertawa licik. "Kalau kalian mau damai, sangatlah mudah. Bayar biaya ganti rugi kami atau kalian akan kami laporkan ke polisi!" ancamnya.
"Apa? Kau pikir kami orang bodoh. Silakan lapor saja ke polisi, yang ada kalian yang akan di penjara karena menelantarkan anak-anak kalian. Kami hanya berniat membantu. Lagipula yang tak mau diajak pergi itu anak-anak, bukan kami!" Kataku, menjelaskan kembali apa yang sebenarnya terjadi yang sebetulnya mereka pun sudah tahu.
Kami berdebat cukup keras. Hingga akhirnya Yohana mengalah. Ia menerima tawaran Bandaro untuk memberikan uang tutup mulut atas kehilangan anak-anak. Yohana berjanji akan mentransfer uang sebesar sepuluh juta rupiah sesuai permintaan orang tua Upik dan Puti. Keputusan yang membuatku heran. Untuk apa juga memenuhi keinginan mereka padahal mereka juga punya andil salah. Kalau saja orang tua Upik dan Puti bertanggung jawab maka kami tak akan memisahkan anak-anak dari ayah dan ibunya. Tapi mereka sudah menyia-nyiakan anak-anaknya, makanya kami memutuskan membawanya pergi ke tempat yang lebih baik.
"Bagus adikku yang baik. Ku tunggu transferannya ya. Awas saja kalau kau bohong maka aku akan langsung ke polisi agar karir suamimu hancur!" ia berlalu sambil terkekeh.
__ADS_1