
Upik bercerita pada kami tentang yang terjadi kala itu, kenapa mereka bisa sampai di Jakarta di usia tujuh dan delapan tahun.
"Waktu itu, Puti bilang ia rindu pada ibu. Beberapa kali kami mencoba menelepon tapi ibu tak bisa dihubungi. Selalu om Ben yang berbicara. Aku menyadari, ibu sedang sakit, tak bisa diganggu. Tetapi Puti tak bisa menerima alasan itu. Ia sangat ingin bicara dengan ibu. Puti mengajakku untuk mencari ibu, kabur dari panti asuhan. Awalnya aku nggak mau karena aku nggak tahu ibu ada dimana. Aku takut bertemu orang jahat sebab kata teman-teman panti, dunia luar itu tidak ramah untuk anak-anak. Puti tetap tak bisa terima hingga suatu hari ia memaksakan kehendaknya lagi. Ia bahkan mengancam, jika aku tak mau ikut maka ia akan pergi sendiri. Aku takut Puti hilang, makanya ku putuskan untuk menjaga Puti. Ikut kemanapun ia hendak pergi. Pulang sekolah, kami mengendap-endap kabur dari panti tanpa tujuan yang pasti. Puti mengajakku untuk pulang ke rumah, bertemu ayah dan ibu. Sayangnya, kehadiran kami tidak diterima oleh ayah dan ibu, bahkan ayah marah besar saat tahu kalau kami kabur. Ayah bahkan mengusir kami, meski begitu kami tetap bertahan beberapa jam di depan kontrakan ayah.
Mungkin karena takut harus merawat kami lagi, akhirnya ayah mengantar kami ke pangkalan Fuso. Ayah mengatakan agar kami naik ke atas salah satu Fuso itu, agar bisa ketemu Ibu Yohana. Kami disuruh tinggal bersama ibu saja.
Aku nggak mau, aku sangat takut. Tapi Puti bersikeras akan pergi. Ia tak peduli apakah aku akan ikut atau tidak. Ia akan tetap berangkat.
Kami dinaikkan oleh ayah ke bak bagian belakang Fuso. menyelinap di antara muatan buah kelapa yang akan dikirim ke Jakarta. Kata Ayah, begitu sampai Jakarta, cari ibu di Depok. Jangan sampai ketahuan kalau tidak maka kami akan dibuang ke laut.
Perjalanan dua hari sungguh sangat melelahkan. Kami kelaparan, makanya nekat turun. Di saat itulah kami kehilangan Fuso yang sebelumnya, juga barang-barang yang kami bawa serta terbawa oleh Fuso tersebut.
Aku dan Puti hanya bisa menangis, kami ketakutan tapi tak tahu harus melakukan apa. Saat itulah Puti mengusulkan agar kami menyelinap naik ke atas Fuso yang lain dengan harapan tujuannya ke Jakarta juga.
Setelah memilih secara acak, aku dan Puti naik ke atas Fuso berisi pisang kepok. Sepanjang perjalanan, kami memakan beberapa buah. Sayangnya aksi kami ketahuan. Kami yang masih berada dalam bak dikejar. Karena ketakutan, aku melompat hingga kakiku mengalami pincang seperti ini, sementara Puti, ia berhasil selamat.
__ADS_1
Pemilik Fuso marah-marah, ia tak mengizinkan kami kembali naik. Tetapi kami tak terlalu risau sebab sudah sampai di Jakarta. Hanya saja, cedera saat melompat membuat kakiku sulit berjalan. Aku bahkan sampai kehilangan kesadaran. Puti yang berusaha, entah bagaimana pastinya, ia berhasil membawaku ke rumah sakit setempat. Sayangnya, kami tak memiliki uang untuk berobat hingga tak bisa mendapatkan perawatan. Kami hanya dibiarkan terlantar di lobi rumah sakit.
Seorang nenek pemulung sekaligus pengemis melihat kami. Ia yang hidup sebatang kara merasa iba. Nek Dijah namanya. Ia merasa kasihan, makanya kami dibawa tinggal di gubuknya.
Beberapa tahun setelah nek Dijah meninggal dunia, Puti mengajakku untuk membuat identitas dengan alasan ia ingin melanjutkan pendidikan. Ia mengubah namanya jadi Nilam Sari. Aku sempat mempertanyakan, tetapi ia tak mau menjelaskan lebih lanjut. Hanya beralibi sudah bosan dengan nama itu dan ingin membuang sial dengan mengganti nama.
Aku berusaha menyekolahkan kembali Puti. Ia ikut ujian paket A, B dan C hingga lulus, kemudian masuk perguruan tinggi negeri. Puti pun ikut berusaha demi masa depannya. Dua bulanan lalu ia mengatakan padaku bahwa sudah diterimanya magang di salah satu lembaga. Aku sangat bahagia sekali, tak tahu kalau ia bertemu dengan om Ben dan membuat masalah." kata Upik, menceritakan semuanya dengan sangat gamblang.
"Ya Allah, Upik sayang!" Yohana tak sanggup menahan air matanya. Ia benar-benar merasa bersalah. Ketiadaan dirinya membuat Puti salah sangka, lalu kabur usah membuat masalah. "Maafkan ibu, Nak. Maafkan. Ibu saat itu benar-benar sakit. Ibu juga tidak sedang baik-baik saja. Makanya ibu berharap bisa bertemu dengan kalian apapun rintangannya. Ibu sangat menyayangi kalian!"
"Sekarang kamu tahu dimana Puti? Juga berita yang ia sebar kalau ia ...." aku agak bingung cara memberitahu Upik.
"Kenapa om?" Upik menatap khawatir.
"Hamil." kataku.
__ADS_1
"astagfirullah, bagaimana bisa? om tahu darimana? Ini pasti karena Dewa. Lelaki itu yang sudah merusak Puti.
"Ya ibu diberitahu oleh Puti sendiri. Ia memperlihatkan bukti-bukti hasil pemeriksaannya. Makanya ibu kecewa, kenapa ia tega melakukan itu." kata ibu.
"Puti ... Ia pasti tinggal bersama Dewa saat ini sebab hanya laki-laki itu yang dimiliki olehnya. Kami terlalu banyak Berselisih paham akhir-akhir ini karena aku merasa pemikiran Puti sudah sangat keterlaluan. Ia terus membahas kebenciannya terhadap ibu padahal kami belum pernah bertemu lagi. Puti tak pernah bercerita kepadaku bahwa ia sudah bertemu dengan ibu dan om Ben. Ia hanya mengatakan ingin balas dendam." cerita Upik.
"Anak itu pasti sangat marah padaku karena ia berpikir kalau aku membuangnya. Padahal tak begitu. Kala itu kondisi kami sedang tidak baik-baik saja." ungkap Yohana. "Sayang, apa kamu bersedia menjemputnya?" tanya Yohana padaku.
"Tentu saja. Memangnya ada dimana?" aku balik bertanya.
"Sepertinya laki-laki itu tinggal tak jauh dari kampus Puti sebab saat aku mengunjungi Puti, ia pernah marah karena malu dan tak sengaja mengatakan malu jika kekasihnya yang tinggal di dekat kampus tahu kalau ia punya saudara kandung seperti aku yang cacat." ungkap Upik
"Sayang, apapun kondisi kamu sekarang, ibu akan tetap menyayangi kamu. Bagi ibu, kamu adalah putri kesayangan ibu yang telah lama hilang." ungkap Yohana sambil kembali memeluk Upik.
"Terimakasih banyak Bu, aku tahu ibu tak akan pernah berubah. Yang aku tahu, hanya ibu satu-satunya yang benar-benar menyayangi aku dan Puti dengan sepenuh hati. Bahkan orang tua yang melahirkan kami pun tak punya cinta meski hanya setitik untuk kami." ungkap Upik lagi. Melihat pemandangan ini membuat hatiku tenang sebab akhirnya Yohana bisa menemukan anak-anaknya yang telah hilang.
__ADS_1