Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana


__ADS_3

Kamar ini sebenarnya sudah sangat bersih. Bahkan debu pun tak ada. Makanya, setelah meletakkan barang-barang di dalam lemari, aku langsung berbaring, namun tiba-tiba Hp milikku berbunyi. Telepon dari Reni, sejak pesawat lending entah sudah berapa kali ia menghubungi. Aku sedang malas berbincang-bincang, makanya ku kirimkan saja pesan bahwa aku sudah sampai, sekarang sedang istirahat sebab tadi di perjalanan tak sempat tidur karena terus memikirkan Yohana.


[Kenapa tak mengangkat teleponku, Ben? Apa kamu sangat sibuk? Aku pasti mengganggu. Maafkan aku.] Balas Reni.


[Enggak kok Ren, aku hanya mengantuk.] kataku. Lalu melempar Hp sembarangan, kemudian melanjutkan lamunanku.


Yohana, wajahnya kembali muncul di pikiranku. Terlalu besar rindu ini, hingga aku tak bisa menahan rasa yang seharusnya tak boleh aku pelihara. Bukankah Tuhan melarang kita mengganggu apa yang sudah menjadi milik orang lain.


"Ahhh Yohana, apakah kita benar-benar tak ada jodoh?" perasaan cintaku begitu besar padanya dan aku juga sangat yakin ia memiliki rasa yang sama. Namun Tuhan berkehendak lain, meski kami berada begitu dekat namun dijauhkan oleh ikatan pernikahannya dengan bang Sigit dan sekarang dengan pria yang masih kerabatnya. Hancur hatiku


Mungkin sampai kapanpun tak akan pernah ada seseorang pun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku.


***


Ranah Minang memang terlalu indah untuk dilewatkan. Sore ini, setelah seharian berkurung di mess, akhirnya aku keluar juga untuk mencari makan malam. Aku memutuskan pergi sendiri meski sudah ditawari diantar pak Zainal, tapi aku menolaknya sebab rutenya yang diberitahukan pak Zainal sepertinya tak terlalu sulit dihafalkan.


Sore ini, ada banyak anak-anak bermain bola di lapangan. Delapan orang dengan usia yang sepertinya tak sama, mereka tengah berebut bola. Sejenak aku melihat mereka, menjadi penonton dadakan, lalu melanjutkan perjalanan menuju pasar kecil terdekat. Karena ada banyak pilihan makanan, makanya aku memutuskan untuk berkeliling sebentar sembari mengenali wilayah. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba langkahku terhenti dengan suara ribut-ribut.


"Heh, cepatlah. Lambat betul Kau ini. Sudah tahu ini sudah sore, sayur-sayuran itu harus segera sampai ke rumah, uni mu sebentar lagi akan berjualan, bukannya cepat malah santai-santai. Sengaja kau ya!" seorang laki-laki paruh baya dengan tubuh bongsor menarik paksa tangan perempuan yang kedua tangannya penuh dengan kantong belanjaan besar-besar. Ada lima kantong jumlahnya. Dari cara jalannya yang tertatih, aku tahu ia kepayahan.

__ADS_1


Aku masih memperhatikan dari jauh, laki-laki itu sudah naik ke atas motornya, sementara perempuan itu dengan susah payah naik ke boncengan belakang. Ia harus berusaha menyeimbangkan badannya karena duduk menyamping sementara memakai baju kurung dengan lima kantong belanja besar-besar.


"Benar-benar tak punya hati!" aku mengumpat.


"Ya, begitulah si Bandaro. Selalu kasar pada istri dah bahkan adiknya sendiri!" jawab lelaki tua yang berjualan tomat, berdiri tepat di sampingku.


Aku melirik bapak tua tersebut, melempar senyum. Lalu beralih ke dua orang tadi. Hanya sepersekian detik sebelum motornya melaju, wajah perempuan yang mengenakan baju kurung itu terlihat jelas. Yohana. Ya, itu Yohana. Aku pasti tak salah lihat. Saking kagetnya, tak percaya bahwa kami akan dipertemukan secepat ini, aku sampai berdiri mematung, tak tahu harus melakukan apa sehingga ia berlalu begitu saja.


Begitu tersadar, aku buru-buru mengejar motor itu, namun jejaknya tak dapat kuikuti sebab pastinya supirnya membawa dengan kencang sekali.


"Yohana ... ya, itu benar-benar Yohana. Aku sangat yakin itu Yohana. Itu Yohanaku!" badanku gemetaran, mataku berkaca-kaca. Baru beberapa jam tadi aku memikirkan ia, sekarang aku sudah melihatnya, tapi sayangnya tak sempat menyapa sebab ia keburu pergi. "Ahhhh!" aku menggerutu. Kenapa juga harus ada adegan terpana segala.


Setelah membeli makanan, aku segera kembali ke mess. Sepanjang perjalanan, pikiranku terus terbayang Yohana. Tadi itu, apakah laki-laki itu suaminya? Kalau memang benar, sungguh kasihan betul nasib Yohana. Ia pasti hidup menderita dengan suami kasar dan pemarah sepertinya. Aku jadi semakin kacau, antara merelakan Yohana atau memperjuangkan dirinya. Mengingat nasib hidupnya yang tak baik-baik saja.


Kenapa takdir hidup Yohana harus seperti itu? Penderitaan hidupnya tak kunjung berakhir. Setelah lepas dari keluarga kami sekarang ia harus masuk ke tangan laki-laki yang kasar seperti suaminya itu. Aku benar-benar menyesal sudah menolak untuk menikahinya kala itu, meski tak bisa menjanjikan apapun, tapi setidaknya kami saling mencintai dan akan berusaha untuk membahagiakan satu sama lain.


"Ya Tuhan ... Maafkan aku Yohana." aku menutup wajah dengan kedua tangan. "Sekarang kemana aku harus mencarimu?"


***

__ADS_1


Pukul enam pagi, pintu kamarku di ketuk. Aku masih sibuk memeriksakan file yang masuk di laptop yang dikirimkan untuk ku pelajari sebelum mulai bekerja. Segera laptop ku pindahkan ke meja, lalu berjalan menuju pintu, kata pak Zainal biasanya cleaning servis yang bebersih datang sekitar pukul enam pagian.


"Assalamualaikum!" sapa seseorang di depan pintu.


"Wa'alaikumussalam," aku membuka pintu, baru setengah terbuka, langsung terkejut melihat seseorang yang berdiri di hadapanku. "Yohana!"


"Ben?" kami berdua sama-sama terkejut , tak menyangka Allah pertemukan kami di sini.


"Kamu?" aku menunjuknya.


"Ben kamu ... disini?"


"Astagfirullah, ternyata kita dipertemukan kembali di sini." kataku. Aku mengajaknya masuk.


"Kenapa kamu ada disini, Ben? Kata CS yang menghuni kamar ini ... apa kamu?" ia yang semula berbinar melihat kehadiranku di sini langsung mendung, wajahnya tampak sedih. "Kamu legal yang baru, Ben?"


"Ya Hana, itu aku."


"Oh," ia menjawab pendek.

__ADS_1


"Hana, aku sangat bahagia bisa bertemu kamu di sini. Aku ...." ada banyak yang ingin ku katakan padanya, tapi karena sangat haru makanya tak bisa mengatakan apa-apa. Untuk sesaat kami hanya bisa saling pandang dalam diam dengan pikiran masing-masing. Andai saja bisa saling menyentuh, mungkin sudah ku bawa ia dalam pelukan untuk membuat hati ini tenang, namunada batasan yang memang harus sama-sama kami jaga hingga kami hanya bisa saling tatap dengan mata berkaca-kaca, sebab rindu itu akhirnya terlabuhkan juga meski masih ada banyak beban yang harus kami selesaikan. "Kamu, kenapa tak bisa dihubungi? Kami mencoba menghubungi paman kamu tapi sama saja, nomornya juga sudah tidak aktif. Kami semua khawatir, makanya aku memberanikan diri melamar kerja ke sini untuk mencari tahu keberadaan kamu. Oh iya, aku sudah lulus, sekarang aku bukan mahasiswa abadi lagi seperti Yang sering diejekkan Abah, aku sudah jadi Sarjana Hukum, Hana. Aku bahkan sudah punya pekerjaan bagus." kataku, kami berdua tersenyum.


__ADS_2