Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Tiga Ganjalan Besar (2)


__ADS_3

Aku menyadari, kehidupan yang ku jalani saat ini bukanlah sinetron, jadi tak bisa mengharap tiba-tiba pak Diki berubah jadi baik, memaafkan Abah karena mendengar ceritaku. Hidup harus realistis. Ketika melakukan kesalahan ya harus siap menerima konsekuensinya. Usai menyampaikan apa yang ku rasakan saat ini, aku pamit pulang, tentu saja tak lupa ku utarakan niatku bahwa besok aku akan ke sini lagi, melakukan apapun untuk meredam emosinya.


Pak Diki tak bicara apapun, ia membiarkan pergi tanpa melarang agar besok aku tak datang lagi. Usai dari sana aku tak langsung pulang, namun ke Jakarta dulu untuk bertemu dengan Genta. Ia akan membicarakan masalah perusahaan lamaku. Kami ketemuan di cafe lama tempatku dulu bekerja.


"Sekarang kamu kerja dimana, Ben?" tanya Genta.


"Aku baru memulai bisnis kecil-kecilan. Bisnis makanan kecil." Kataku, sambil memperlihatkan keripik yang memang sengaja ku bawa kemana-mana untuk promosi. Melihatnya, Genta menawarkan agar dimasukkan ke toko oleh-oleh salah satu kliennya. Aku menyambut gembira usulan Genta tersebut.


"Oke, kita bicarakan masalah kecurangan di perusahaan. Aku sudah melaporkan dan sudah jalan proses hukumnya, seperti dugaanku, pemiliknya tak mengetahui dan katanya ia sangat berterima kasih sekali dengan apa yang kita lakukan. Dia ingin kamu kembali ke sana, Ben. Sebenarnya mereka sudah mengirimkan pesan ke email kamu tapi belum ada balasan." kata Genta.


"Oh ya. Aku sedang sibuk jadi tak sempat melihat email. Tapi untuk kembali ke sana rasanya tak mungkin Gen, aku punya sedikit masalah keluarga, aku harus stay di Depok karena harus mengurus kedua orang tuaku." Kataku pada Genta.


"Oke, aku mengerti. Tapi semoga nanti kamu bisa kembali terjun di bidang hukum mengingat kamu sebenarnya punya skill lebih Ben. Oh ya, aku sampai lupa." Ia menyerahkan sebuah amplop coklat, isinya yang. Awalnya Genta ingin mentransfer tapi aku cukup lama membalas pesan akhir-akhir ini makanya saat ketemu ia sengaja membawa tunai.


"Untuk apa ini?" Tanyaku, melihat lembaran ratusan ribu dengan jumlah cukup banyak.

__ADS_1


"Itu untukmu. Perusahaan menunjuk aku dan tim sebagai advokat mereka untuk membongkar kebobrokan manager dan supervisor di sana, orang-orang yang mempersulit kamu, Ben. Ternyata mereka biangnya , mereka memberi fee yang tak sedikit jadi kamu harus menerimanya. Oke!" Kata Genta. Karena aku memang sedang butuh uang makanya aku tak menolak. "Ben, jangan sungkan menghubungi aku jika kamu ada masalah. Aku siap membantu!" Janji Genta.


Selesai berbincang dengan Genta, kini aku harus menuju rumah Reni. Hari ini aku dan Riko juga sudah janjian, ia akan mengembalikan dokumen dan juga akte cerai. Selain itu aku akan menemani Riko untuk melamar Reni. Jujur sebenarnya aku malas ke sini lagi, tapi demi menghargai Riko yang benar-benar mencintai Reni serta untuk memastikan masa depan Bre bisa mendapatkan ayah sambung yang baik dan menyayanginya makanya aku datang


"Ben .... Riko?" Reni yang membuka pintu. Awalnya ia berdiri bengong di depan pintu melihat kedatangan kami, lalu berlalu masuk saat tangis Bre pecah.


Mendengar suara bayi itu membuatku jadi rindu. Meski aku bukan ayah biologisnya, tapi anak itu secara hukum adalah anakku. Aku yang mengazani serta memberinya nama. Sekarang entah bagaimana wajahnya, aku sangat ingin melihatnya. Kata orang bayi itu sangatlah menggemaskan. Waktu di mes, interaksi kami sangatlah minim sebab aku banyak kerjaan serta banyak masalah yang harus aku selesaikan.


Tak berapa lama ayah Reni yang keluar. Entah kenapa putrinya tak menemui kami lagi. Tak ingin membuang-buang waktu, akhirnya aku sebagai wakil Riko menyampaikan niatannya. Om Bili sebenarnya tak masalah dengan lamaran Riko, bahkan ia sangat bahagia, namun bagaimana dengan putrinya? Ayahnya tahu kalau Reni bukanlah orang yang gampang untuk jatuh cinta, kalau sudah suka pada seseorang maka iakan sulit mencari penggantinya.


Karena tak bisa memberikan jawaban, akhirnya Om Bili masuk ke dalam, tak lama ia keluar bersama istrinya. Mereka menyatakan sudah menyampaikan pada Reni dan menyerahkan semua jawaban pada putri semata wayangnya. Setengah jam kami menunggu, Reni belum juga keluar. Aku tentu resah, bukan apa-apa, waktuku sangatlah berharga, apalagi tadi Ami berpesan agar aku pulang cepat sebab ia takut menghadapi Abah kalau sedang marah.


"Ben, kamu yakin Riko cocok denganku?" tanya Reni.


"InshaAllah ia akan jadi imam yang baik untukmu dan Bre. Aku sangat percaya padanya." kataku. "Tapi semua terserah padamu, Ren. Jika kamu masih ragu maka sebaiknya silakan istikharah dan diskusi dengan orang tuamu."

__ADS_1


"Nggak Ben, aku siap menerima Riko." kata Reni. "Papa dan Mama bagaimana? Apakah setuju kalau Reni menikah dengan Riko?" tanyanya.


Kedua orang tua Reni kompak mengangguk, mata mereka berkaca-kaca sebab akhirnya anaknya menemukan laki-laki yang mencintai sesungguh hatinya.


Sementara itu, Riko malah berubah jadi gugup, ia sampai mau pingsan karena akhirnya niatan baiknya diterima oleh Reni.


Mereka berdua sepakat untuk menikah secara agama terlebih dahulu akhir pekan ini. Memang sangat singkat persiapannya, namun sepasang insan itu hanya ingin menjadi lebih baik dan sama-sama ingin memberikan terbaik untuk pasangan dan Bre.


Melihat mereka yang sama-sama bersemangat membuatku benar-benar lega, pada akhirnya Reni dan Riko berlabuh juga. Semoga ini yang terbaik untuk mereka.


"Ben," panggil Reni. "Maafkan untuk semua yang kulakukan kemarin. Aku mengerti semuanya sangatlah salah. Sekarang aku sudah rela dengan jalan takdir yang Tuhan pilihkan untukku. Ben, apakah kita masih bisa menjadi sahabat?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Nggak Ren. Maafkan aku, tapi kita tak akan bisa jadi teman lagi untuk selamanya. Bahkan, aku akan berusaha tak muncul lagi di kehidupan kamu, Riko dan Bre. Aku sudah mempercayakan semuanya pada Riko, ia yang akan menggantikan aku sebagai ayah Bre. Ia yang akan mendidik, menguatkan Bre juga mengajaknya ke masjid. Aku undur diri dari kehidupan kalian." kataku. Ini demi kebaikan masing-masing. Siapa yang tahu bagaimana hati nantinya, jangan memberi peluang meski itu kecil, saat ini bisa menerima dengan ikhlas, tapi kalau terus diberi ujian bisa saja suatu saat kembali lagi seperti semula.


"O, begitu ya Ben. Kalau begitu terima kasih dan maafkan aku ya Ben. Tapi ku harap kamu bisa datang di hari pernikahan aku dan Riko nantinya." pinta Reni lagi.

__ADS_1


"Maaf Ren, itupun aku tak bisa mengabulkan." kataku.


Reni mengangguk dengan senyum yang terlihat ganjil. Setelah tugasku selesai, aku pamit meninggalkan rumah Reni. Ini mungkin terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di rumah ini, tak lupa ku titipkan Bre kembali pada Riko. Rasanya tak perlu mendikte karena aku tahu Riko akan jadi ayah yang baik untuk anak itu.


__ADS_2