
"Aku mau tinggal di sini bersama-sama, tapi ada syaratnya." Kata Puti, usai Yohana membujuknya. "Dewa harus ikut tinggal bersama di sini juga!" tegas Puti. Keputusan yang tentu saja berat untuk aku kabulkan sebab mereka belum menikah. Lagipula di rumah ini ada dua anak gadis lainnya yaitu Upik dan Caca. Janggal sekali kalau ada laki-laki asing yang bukan mahram ikut tinggal.
"Enggak bisa." Kataku. "Kecuali kalian sudah menikah." Aku melirik Yohana. "Itupun aku harap anak-anak yang menikah tidak seratus persen tinggal satu atap dengan kita. Tetapi nanti akan disekatkan tempat tinggal dari rumah ini untuk menjaga privasi." Kataku. Keputusan itu demi menjaga kenyamanan istri dan dua putriku yang lainnya. Lagipula kami bukan mahram, jadi tidak boleh seenaknya.
"Ya sudah kalau enggak boleh, aku akan kembali ke kontrakan dan jangan cari aku lagi, apalagi sok peduli padahal itu semua cuma palsu!" Puti melirik tajam pada Yohana. Sungguh sikap yang membuatku sangat jengkel, namun Yohana, ia sama sekali tak mengambil hati sikap Puti yang tidak sopan itu. Ia terus memohon agar aku mengabulkan permohonannya.
"Sayang," Yohana memohon.
"Enggak!" kataku, menegaskan. Lalu masuk ke kamar. Membiarkan mereka para wanita untuk membahasnya. Tapi yang jelas, aku tak setuju.
***
Aku masih larut dengan pekerjaan kantor, tiba-tiba Yohana masuk ke dalam. Ia tampak khawatir.
__ADS_1
"Ada apa?" kataku.
"Puti ... dia pergi." Yohana terduduk.
"Han, maaf kalau keputusanku membuatmu sedih. Tapi aku harus melakukan semua ini demi kamu dan dua putri kita yang lain. Puti tak benar-benar ingin menjadi anak kita. Jadi, relakan saja ya." aku berusaha bicara sehari-hari mungkin, namun juga harus tegas agar Yohana tahu tak ada kesempatan untuk yang tak mau mengikuti aturan. Aku harus melindungi dirinya dan dua putriku yang lain.
"Aku menyayanginya." ungkap Yohana.
"Aku yang itu, tapi ia tak menginginkan kita sebagai orang tuanya."
"Tapi setelah tahu, ia punya pilihan untuk jadi baik. Sama seperti Upik yang memilih jalan yang benar."
***
__ADS_1
Dua bulan sudah berlalu. Aku masih sibuk dengan urusan kantorku. Proyek yang sempat dibatalkan, ku putuskan untuk menghandle sendiri. Memang gak mudah. Tapi harus aku kerjakan, demi sebuah tanggung jawab dan harga diri. Bahwa aku mampu, dan tak suka diremehkan.
Hari ini, saat masih jam kerja. Tiba-tiba Yohana datang bersama Caca, wajahnya tampak pucat.
"Aku sudah menghubungi sejak tadi, kenapa gak dijawab?" tanya Yohana. "Puti ditangkap polisi. Ia dituduh sebagai bandar narkoba. Jelas-jelas itu gak mungkin. Ia sedang hamil. Kita harus menolongnya!" Tegas Yohana.
Untuk menenangkan hatinya, aku mengikuti ia ke kantor polisi. Kami bertemu Puti dengan kondisi amat menyedihkan. Wajahnya berantakan, sembab setelah menangis semalaman.
"Ibu ... bawa aku pulang. Aku gak mau dipenjara!" pinta Puti.
"Sayang," Yohana kembali merengek. Namun ku abaikan.
"Han, kali ini harus ku katakan. Kita cukup punya dua putri saja ya. Aku janji kita akan Bahagia." aku menggenggam tangannya, mengajaknya pergi meninggalkan kantor polisi. Tentunya setelah meminta seorang pengacara mendampingi Puti. Setelah itu, aku.merasa tanggung jawabku sebagai orang tua angkatnya telah usai.
__ADS_1
Ia yang memilih jalannya sendiri.
----TAMAT----