
Hari ketiga bunda meninggalkan kami, rumah masih didatangi orang-orang yang bergantian untuk berziarah. Salah satunya Reni dan keluarganya; Reni, Riko, ayah dan ibunya Reni, juga sikecil Bre. Kedatangan bayi mungil menggemaskan itu membuatku sejenak jadi melupakan kesedihan, Alif juga senang dengan kehadiran Bre. Ia benar-benar tak mau jauh darinya. mungkin merasa senang karena akhirnya bisa bertemu anak kecil juga, meski selisih usianya tiga tahunan. Selama ini Alif memang jarang dibawa keluar atau berinteraksi dengan anak seusianya, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bunda atau Ami. Setelah bunda tiada, ia dua puluh empat jam bersama adikku.
"Ben, sebenarnya selain ingin menyampaikan belasungkawa, aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu." Kata Reni yang meminta bicara enam mata bersama Riko. "Yohana. Kamu masih mencarinya?"
Mendengar nama itu membuatku langsung tertegun. Sampai saat ini belum ada kabar dari Yohana. Akupun belum bisa kembali ke sana untuk mencarinya karena masalah keluarga yang tak kunjung usai. Pak Rizal, selalu polisi yang menangani kasus hilangnya Yohana dan penemuan jenazah gadis yang hanyut itupun belum bisa memberikan konfirmasi padaku apakah itu Yohana atau bukan. Hingga saat ini belum ada keluarga yang mengaku kehilangan anggota keluarganya. Sementara kabar Yohana pun tak ada. Ia seperti menghilang ditelan bumi.
"Ben," Reni membuyarkan lamunanku. "Maafkan aku atas sikapku yang keterlaluan selama ini. Untuk menebus kesalahanku, maukah kamu menjemput Yohana? Ia ada di pulau ikan. Aku yang mengirimnya ke sana agar kamu tak bisa menemukannya."
"Pulai ikan? Kamu yakin ia di sana?"
"Ya Ben. Yohana ada di sana." Reni memberikan sebuah alamat lengkap dengan petunjuk tentang keberadaan Yohana. Ia juga mengakui melakukannya karena cemburu. Ia menukar kepergian Yohana dengan membayarkan lunas semua hutang abangnya Yohana. "Dia baik-baik saja, bekerja di salah satu tambak lobster sebagai buruh. Kamu bisa mencarinya ke sana. Aku akan siapkan semua keperluanmu untuk menjemputnya. Kalian berdua saling mencintai dan berhak untuk bahagia." Kata Reni.
__ADS_1
Informasi ini, meski sangat terlambat namun sangat ku syukuri karena akhirnya aku tahu dimana Yohana. Aku akan menjemputnya. Aku tak ingin kehilangannya lagi.
***
Kami berdua nyaris tertidur karena teramat lelah mengurus semuanya sendiri. Menyiapkan sajian meski ala kadarnya tapi cukup menguras energi untuk orang yang berziarah atas kepergian bunda. Selain itu kadang juga harus meladeni saat emosi Abah naik. Aku dan Ami harus sabar jika Abah sudah mengamuk mencari bunda. Rencananya besok kami berdua akan membawa Abah ke makam bunda, sekian untuk berziarah, sebab beberapa hari kedepan aku akan meninggalkan rumah untuk mencari Yohana.
Selama aku pergi, Reni dan Riko akan ikut membantu menjaga di sini. Mereka akan menemani Ami sebab Ami akan kesulitan menghandle Abah sendiri, apalagi ada Alif juga yang masih seratus persen harus diurus oleh Ami.
"Assalamualaikum," suara seseorang membuatku dan Ami terjaga. Kami berdua beriringan ke depan.
Siska nama samarannya ketika menjadi perempuan malam, sementara Lila Nuryani adalah nama aslinya. Ia adalah mantan kekasih bang Sigit, ibu dari Alif keponakanku. Perempuan itu datang ke sini setelah tahu berita tentang kepergian ibu. Sebenarnya ia sudah lama ingin ke sini untuk melihat putra semata wayangnya, namun karena ingat ancaman Abah dan khawatir terjadi sesuatu pada putranya makanya ia memilih melihat Alif dari jauh. Sebagai ibu, Mbak Lila sebenarnya tak pernah benar-benar melepaskan putranya. Ia berpisah demi kebaikan putranya. Masa lalunya teramat buruk, membuat mbak Lila menyadari tak layak mengasuh Alif.
__ADS_1
Ami memang sudah mengenal Mbak Lila karena sebelumnya mereka pernah bertemu beberapa kali. Pertama waktu dikenalkan bang Sigit diam-diam di mall dekat rumah kami. Kedua saat mbak Lila datang ke rumah bersama bang Sigit untuk membuat pengakuan bahwa ia tengah mengandung. Niat awal mereka awalnya ingin menikah, tapi Abah dan Bunda menentang. Makanya Yohana yang disuruh menggantikan untuk menutup aib ini.
"Mbak, masuklah. Alif sedang tidur, nanti kalau ia bangun dan bertemu dengan mbak, ia pasti akan senang sekali." Kata Ami dengan penuh semangat sambil menarik tangan mbak Lila, tapi ia menolaknya, seperti takut-takut. "Mbak tenang saja, Abah sedang sakit, ia tak akan mengenali mbak. Selain depresi dan halusinasi, Abah juga mengalami alzheimer juga. Jadi ingatannya banyak yang hilang." Kata Ami yang menyadari kekhawatiran mbak Lila.
Setelah mendengar cerita Ami, barulah mbak Lila berani masuk ke dalam. Aku menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku, peristiwa haru saat mbak Lila bertemu Alif yang sedang tidur. Dengan berlinang air mata karena menahan rindu yang teramat dalam, seorang ibu yang sudah dipisahkan dengan anaknya sejak masih bayi kini mencium dan membelai anaknya dengan penuh kasih sayang.
Alif yang semula tertidur sempat berbalik, mungkin ia terganggu dengan air mata mbak Lila yang menetes di pipinya. Tapi kemudian anak itu malah tidur di pangkuan mbak Lila. Aku tak kuasa melihatnya, makanya ku putuskan untuk keluar kamar. Membiarkan ibu dan anak itu melepas rindu.
Andai saja tak ada ego yang harus dimenangkan, mungkin Alif bisa tumbuh dengan cinta dan kasih ayah dan ibunya secara sempurna. Namun ia harus melewati momen kehilangan ibunya, kemudian saat ibunya kembali, ayahnya sudah tak ada
Juga Yohana. Ia tak harus melewati rangkaian masalah yang membuat hidupnya berantakan. Tapi aku yakin semua ada hikmahnya. Makanya, aku sudah mengatakan pada diri sendiri agar tak menyesali apapun meski kadang, sebagia manusia ada juga keluhan itu yang keluar dari lisanku.
__ADS_1
Urusan dengan pak Diki, meski belum mendapatkan maaf, namun aku sudah mengembalikan anak-anaknya. Mas Yanuar dan Puji juga sudah berjanji akan membantu melunakkan hati ayah mereka. Menurutku hanya butuh waktu saja untuk mengobati luka hatinya.
Mbak Lila juga sudah bertemu dengan Alif, kini tinggal menemukan Yohana. "Han, bersabarlah. Aku pasti akan datang menjemputmu."