Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Sebelum Abah Pergi


__ADS_3

Aku tahu ini adalah pilihan tersulit untuk Abah. Aku yakin Abah sangat menyayangi Ami, putri satu-satunya yang ia miliki. Tetapi Abah juga manusia yang tinggi hati, pantang untuk kalah. Makanya untuk mundur balas dendam adalah hal yang berat bagi Abah. Namun hari ini Abah tak bisa untuk tidak memilih.


Desakan Ami akhirnya membuat Abah kalah juga. Ia menuruti keinginan Ami untuk di ruqyah. Abah merelakan semuanya untuk dilepaskan dari dirinya. Termasuk menunjukkan semua ajimatnya. Di kamar Abah kami akan memulainya. Hanya ada aku, Ami, Abah dan tentunya diawasi oleh Buya Ahmad. Apa yang diakui Abah tak kamu ceritakan pada Yohana apalagi mbak Lila demi menjaga kenyamanan semuanya.


Baru beberapa ayat surat-surat untuk ruqyah dibaca, Abah sudah mengerang. Merasa mual dan panas sekujur tubuhnya. Ruqyah masih berlanjut hingga akhirnya Abah berteriak-teriak persis orang kesurupan. Buya Ahmad ikut turun tangan, membantu memegangi Abah. Cukup lama abah mengamuk, aku sampai harus ikut turun tangan. Berdua dengan Buya kami memegang lengan kiri dan kanan Abah. Sambil terus membaca ayat kursi.


"Panas ... tolong panas!" Teriak Abah. Satu jam kemudian, Abah terlihat semakin lemas, badannya mulai terbaring. Abah tak lagi berteriak, melainkan menangis pilu. Ia mengaku badannya sakit semuanya, seperti habis ditusuk-tusuk. "Beni ... Ami, maafkan Abah ya." Pinta Abah, dengan air mata berlinang.


***


Abah sekarang jadi pendiam, setiap usai azan akan buru-buru ke masjid. Sekarang, Abah tak lagi peduli meski orang-orang memandangnya aneh. Tetapi, terkadang Abah masih suka buru-buru pulang sambil menangis. Abah mengaku padaku sedang emosi atau merasa sedih jika tak sengaja netranya menangkap orang yang tengah membicarakan dirinya


"Abah harus banyak sabar, ini ujian untuk Abah." Kataku.


Hingga tibalah momen yang menurut Abah paling berat. Yaitu ketika Abah akhirnya bertemu dengan pak Diki. Entah bagaimana ceritanya, sore itu pak Diki juga salat ke masjid setelah sekian lama absen. Ia dah Abah bertatap-tatapan. Lalu keluarlah sindiran hingga hinaan yang cukup keras untuk Abah. Aku tau Abah sangat marah padanya, tapi aku terus membisiki Abah agar bersabar. Ini ujian untuk meluruhkan dosa-dosa Abah dan lelaki itu akhirnya menurut juga. Meski Samapi di rumah, Abah akhirnya menangis sejadi-jadinya sebab merasa sangat terhina.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bah kalau orang lain menghina kita, asal jangan Allah yang menghinakan kita. Abah harus bersabar, jangan terpikir untuk membalasnya." Kata Ami yang lebih konsisten mengontrol emosi dan hati Abah. Momen-momen seperti ini, Ami akan selalu mengingatkan Abah tentang taubatnya. Dan Untungnya Abah mau menurut.


***


Hari ini, kami semua diajak oleh Abah makan di luar. Abah mengatakan ingin sekali berkumpul dengan semua anggota keluarganya. Mbak Lila pun ikut diajak. Kami makan di resto favorit. Usai makan, Abah meminta sedikit waktu untuk berbicara.


"Yohana," panggil Abah. "Maafkan Abah, selama ini, Abah belum menjadi ayah yang baik untukmu. Abah membuat hidupmu berantakan. Abah harap kamu mau mengampuni Abah dan Bunda, juga Sigit. Tolong, temani Ben hingga akhir usia kalian. Abah percaya, kamu akan menjadi istri yang baik untuk Ben." Kata Abah pada Yohana hingga membuat Yohana menangis sesenggukan mengingat bagaimana selama ini ia tak pernah dianggap di keluarga ini, lalu sekarang ia dipercaya menjadi menantu yang akan mendampingi lelaki yang amat dicintainya.


"Ami ... putri Abah yang sangat Abah sayangi. Maafkan Abah, harusnya Abah jadi lelaki yang paling melindungi dan kamu sayangi. Tapi Abah gagal jadi sosok yang kamu cintai sebab sikap Abah yang tidak baik. Mi, mohon maafkan Abah ya," belum selesai Abah bicara, ami langsung menghabur dalam pelukan Abah. Ia ikut terisak. Untung saja kami berada di ruangan privat sehingga tak mengundang perhatian pengunjung resto lainnya. "Abah berdoa semoga kamu menemukan lelaki yang mencintai kamu sehingga bisa mengobati luka hati kamu pada Abah ya nak."


"Nak ... Lila, maafkan jika saya sudah menghancurkan mimpi kamu. Saya banyak salah padamu, Tolong maafkan saja. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, saya tak akan memisahkan kamu dari Sigit agar kamu bisa berbahagia bersama putra dan cucuku." Abah menangis lagi.


"Maafkan saya, maafkan saya." Kata Abah berulang kali pada kami. Abah sampai hendak bersujud tapi aku tahan karena memang tak pantas seorang ayah sujud pada anaknya.


***

__ADS_1


Dini hari, seisi rumah tak bisa tidur, termasuk Alif, sebab menyaksikan Abah kesakitan. Ia mengatakan seluruh tubuhnya seperti terbakar. Aku mengajak Abah ke rumah sakit, tapi Abah menolak sebab merasa semuanya hanya akan sia-sia saja.


"Abah akan pergi, Ben." Kata Abah, membuatku langsung gemetaran. Pikiranku langsung terbang kemana-mana. membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Abah jangan bicara sembarangan, Abah ...." Belum selesai aku bicara, tiba-tiba Abah berteriak-teriak sambil melihat ke atas. Abah mulai mengumpat, memaki hingga akhirnya berkata kotor.


Apakah ini waktu? Aku tak terlalu paham, untungnya Ami mengingatkan agar aku mentalaqi Abah ayat-ayat Allah dan mengucapkan asmanya. Abah masih berkata kasar, memaki dan mengumpat. Tetapi aku tak mau menyerah begitu saja, berdua dengan Yohana kami membisiki Abah.


"Ashadualla Ila Haillallah, Wa ashaduanna Muhammadarrasulullah. La Ila Haillallah!" kataku. Sambil mengulang beberapa kali hingga yakin kalau Abah sudah mengikutinya.


Kami sama-sama saling adu kuat dengan setan yang tak mau melepaskan Abah begitu saja. Aku sangat yakin ia pun sedang membisiki Abah agar tak mengikuti apa yang aku katakan tadi. Tapi untungnya Allah Maha baik, mengizinkan Abah untuk mengucapkannya. Hingga Abah meninggal dunia.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." kata kami. Aku dan Ami menangis, melepas kepergian lelaki yang menjadi kepala keluarga. Lelaki yang pernah menjadi musuh kami namun di akhir menjadi lelaki yang amat kami kasihi.


"Abah!" Ami berteriak, menangis sejadi-jadinya. Kami sama-sama merasakan duka. Apalagi di akhir hidup Abah, penuh perjuangan untuk menyucikan dirinya. "Abah tenanglah di sana." Kata Ami, sambil mencium kening Abah. Ia berusaha menghentikan tangisnya. Meski masih begitu berat, tapi Ami yakin inilah yang terbaik untuk Abah. Kami berharap taubat Abah diterima. Semua urusan dunia diselesaikan di dunia. Termasuk orang-orang yang dizalimi oleh Abah

__ADS_1


__ADS_2