
Sebuah pesan singkat dari Riko masuk ke ponselku. Ia mengabarkan kalau aku dan Reni sudah resmi bercerai, hak asuh anak jatuh pada Reni dan aku diwajibkan untuk membayar nafkah sebesar sepuluh juta setiap bulannya. Membaca itu, aku yang semula ngantuk-ngantuk karena semalaman sibuk belajar membuat keripik langsung melonjak kaget. Bayar biaya anak sepuluh juta? Ini benar-benar keterlaluan, kenapa harus aku yang menanggung nafkah? Apalagi dengan nominal sebesar itu? Seperti candaan saja. Reni dan keluarganya berada, mereka punya kekayaan yang lebih dari cukup untuk membesarkan Bre bahkan sampai menjadi profesor, lalu kenapa minta padaku? Lagipula diperjanjian awal tak ada dibahas tentang hal ini. Karena tak sabar ingin tahu kebenarannya, makanya aku langsung menghubungi ayahnya Reni.
[Maafkan kami nak Ben, tapi itu sudah jadi permintaan Reni. Ia ingin Bre mendapatkan haknya sesuai dengan jumlah yang sudah ditentukan Reni. Sebaiknya nak Ben mempersiapkan karena kalau tidak Reni sudah mengatakan akan membawa ke jalur hukum." Kata om Bili dalam sambungan telepon.
[Tapi kan Bre bukan anak saya, om? Kita juga sudah membahas kalau tujuan saya menikahi Reni hanya supaya Bre punya ayah dalam aktenya. Bukan untuk mendapatkan jatah bulanan. Ini benar-benar nggak ada dalam kesepakatan kita. Kalau Reni tetap menuntut sama saja dengan pemerasan. Lagi pula saat ini saya sudah tidak punya pekerjaan, Reni yang membuat saya dipecat, lalu kenapa sekarang menuntut hak anak?] Kataku yang benar-benar sudah gak sabar dan tak paham dengan cara berpikir mereka.
[Nak Ben, om tak tahu lagi harus bicara apa. Nak Ben kan tahu bagaimana Reni, dia kalau punya keinginan sangatlah keras. Kalau nak Ben tak mau dituntut, sebaiknya berdamai saja. Rujuklah untuk kebaikan bersama."
Aku tersenyum sinis, merasa dipermainkan. Seenaknya mereka membuat keputusan yang membuatku terpojok. Aku menikah dengannya hanya untuk membantu menyelamatkan nama Bre nantinya, tapi ini balasannya. [Om, maaf, tapi saya tidak bisa mengabulkan permintaan Reni. Saya tidak mencintai putri om, melainkan perempuan lain. Kalau Reni tetap bersikeras mencari masalah dengan saya setelah apa yang saya lakukan, saya pun akan mengambil langkah lainnya. Saya akan minta pengadilan mencabut nama saya sebagai ayah Bre, saya akan meminta tes DNA untuk pembuktian bahwa Bre bukan putra saya. Biarlah semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi sebab saya sudah berusaha menutupi tapi Reni yang terus mencari masalah untuk membuka tabir kebenarannya!] Aku terpaksa menegaskan pada om Bili agar ia bisa menasihati putrinya untuk tidak salah mengambil langkah.
Aku tahu sebenarnya om Bili tak ingin mengikuti permainan putrinya, tapi karena Reni anak satu-satunya membuat om Bili tak punya pilihan lain selain mengikuti keinginannya. Meski itu bertentangan dengan hati nuraninya.
__ADS_1
***
"Heh kurang aj--, kenapa kamu memata-matai keluarga kami? Kenapa kamu mondar-mandir, mau cari masalah yw? Mau membuka aib keluarga kami? Jangan mimpi, aku ini ustadz besar, enggak punya salah apapun!" teriak Abah dari halaman saat seseorang tetangga yang usianya sepantaran Ami lewat di depan rumah kami.
Aku, Ami dan Alif yang sedang sibuk di dapur buru-buru keluar, sementara Bunda masih tertatih-tatih keluar dari kamar karena tadi bunda memang sedang istirahat saat Abah ribut-ribut di halaman.
"Pak ampun pak, lepaskan pak!" Teriak anak muda tersebut sambil berusaha melepaskan cengkraman Abah di kerah bajunya. Melihat itu aku sontak melompat, berusaha melepas. Kalau dibiarkan ini akan jadi masalah baru untuk keluarga kami sebab Abah bisa saja memukulnya. Padahal kemarin Abah baru membuat onar di masjid. Abah meneriaki ustadz yang sedang memberi tausiah. Abah memaksanya untuk turun sambil menendang. Untungnya pak Ustadz sangat sabar dan baik hati sehingga Abah tak dilaporkan ke polisi. Tapi kali ini aku gak yakin, mengingat anak ini berasal dari keluarga yang membenci Keluarga kami karena ulah Abah di masa lampau.
"Apa kalian lihat-lihat? Kalian mau menjahati keluargaku, kan? Kalian iri kan karena aku ini salih, punya keluarga harmonis. Anak dan istriku semuanya tunduk kepadaku. Ilmu agamaku tinggi. Aku akan masuk ke surga sementara kalian tidak. Kalian akan dibakar di neraka karena tidak mau mengikuti kata-kataku. Camkan itu!" Kata Abah sambil menunjuk orang-orang yang berkeliling di sekitar rumah kami.
"Bah, sudah!" susah payah aku menyeret Abah ke dalam, setelah Abah masuk, dengan sigap Ami mengunci pintu rapat-rapat dan menyembunyikan kuncinya.
__ADS_1
"Lepaskan Beni, kamu jangan halangi Abah untuk menceramahi mereka semua. Mereka itu manusia-manusia sesat. Sama seperti kamu. Kalian tidak mau mendengar kata-kata Abah, makanya kalian jadi manusia-manusia pendosa. Kalian ingat kata-kata Abah baik-baik, nggak akan selamat kalian kalau tidak mengikuti ulama seperti Abah. Ibadah kalian tidak akan diterima. Kalian akan dibakar di neraka. Kalian akan habis menjadi abu. Hahahaha." Abah tertawa terbahak-bahak.
Sangat sulit untuk menenangkan Abah, aku dan Ami benar-bemar bekerja keras hingga akhirnya setelah hampir dua jam dan energi kami sudah sangat terkuras barulah akhirnya Abah tertidur dengan obat tidur yang diresepkan dokter untuk jaga-jaga kalau Abah melakukan tindakan yang berlebihan.
"Abah kenapa jadi begini ya? Sudah dua kali mengamuk, padahal sebelumnya tak pernah kan? Benar-benar mengkhawatirkan, takutnya ada yang disakiti Abah " kataku. Sambil melepas lelah dengan duduk di atas lantai dengan kaki terjulur.
"Abah sudah enggak minum obat, bang. Makanya sering berhalusinasi dan emosinya meledak-ledak." Kata Ami.
"Lho kenapa? Bukannya dokter bilang obat Abah nggak boleh putus?" Aku menanti penjelasan Ami. Selain itu aku pun pernah membaca artikel kalau pasien dengan riwayat seperti Abah ini sangat bergantung pada obat agar emosinya tidak naik turun.
Ia hanya menjawab kalau bulan ini memang tak membawa Abah berobat. Obatnya sudah habis. Ami yang bertugas untuk mengontrol obat Abah membuat keputusan itu sebab keuangan keluarga semakin menipis. Ami harus mendahulukan bunda yang dianggapnya lebih butuh berobat sebab kankernya semakin menjadi. Ami tak tahan melihat bunda kesakitan tiap malamnya, sementara menurut Ami, kalau Abah asal tidak keluar rumah tak akan menjadi masalah.
__ADS_1
"Kasihan bunda, bang. Aku nggak tega untuk terus menunda-nunda berobat bunda." Kata Ami lagi. Sehingga membuatku tertegun, betapa beratnya tanggung jawabku saat ini, aku harus bergerak cepat.