Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama


__ADS_3

"Ben, ayo kita pulang bersama saja. Aku sudah lelah berdebat denganmu. Aku tahu aku salah, datang tanpa bicara dan merepotkan kamu dengan berbagai hal. Aku melakukannya karena tak ingin jauh darimu. Ini demi kebaikan kita." kata Reni, saat aku pulang.


"Kamu bicara apa? Aku di sini sedang bekerja, Ren. Aku sedang berusaha untuk masa depanku. kenapa juga aku harus kembali?" kataku. Tak mengerti jalan pikirannya Reni.


"Ben, kamu bisa cari pekerjaan di Jakarta. Ada banyak lowongan yang lebih bagus dengan gaji tak kalah besar. kalau kamu mau, Papa dan Mamaku juga bisa memberikan referensi di kantor teman-temannya. Di sini nggak cocok dengan kamu, Ben."


"Ren, kamu kenapa sih? Kamu tahu kan ini adalah pilihanku. Aku sengaja memilih di sini agar bisa dekat dengan Yohana."


"Apa? jadi benar dugaanku, Ben. Kamu ingin bersamanya? Ben," Reni menggelengkan kepalanya. Ia tak terima dengan apa yang ku katakan sehingga membuatku makin tak mengerti.


Ya, memang benar aku pernah curhat padanya bahwa aku benar -benar benci pada Yohana yang dulu, tapi itu sebelum aku tahu kebenarannya. Setelah tahu semuanya, perasaanku kembali atau lebih tepatnya kebencian yang muncul itu karena aku terlalu mencintai Yohana.


"Apapun yang terjadi, aku akan mengantarmu pulang besok!" kataku.


Reni menangis histeris, tapi aku tak peduli. Malam ini ku putuskan untuk kembali menginap di pos mes bersama pak Zainal.


"Lagi berantem ya mas. Biasanya pengantin baru memang banyak salah pahamnya, apalagi kalau baru LDR. kan sudah mau punya anak mas, kenapa enggak baikan saja." kata pak Zainal.


Aku diam saja, tak berniat menjawab karena memang hatiku benar-benar kesal. Ada banyak hal yang tak bisa aku beritahu, yang jelas pernikahan kami berbeda. Ini hanya agar nanti anak Yohana mendapatkan surat-surat dari negara bahwa ia punya ayah. Selebihnya, kami hanya sebatas teman. Aku gak bisa memberi tahu siapapun karena tak ingin membuka luka di hati Reni.


[Ko, kenapa sih nggak bisa bantuin aku? sekali saja.] aku mencoba membujuk Riko agar ia mau menjemput Reni. Situasi di kantor sedang genting sejak Genta melempar kasus perusahaan ke publik, kami diminta untuk tidak cuti dahulu hingga kondisi kembali kondusif. Makanya aku yang awalnya mau minta izin tak mengantarkan Reni.


[Ben, aku tahu kamu kesal pada Yohana. tapi ini enggak lama. Yohana sedang hamil. Kita sama-sama berjuang untuk anaknya yang tidak berdosa itu agar bisa sehat tak kurang satu apapun. Begitu semuanya baik-baik saja, suasana hati Reni membaik maka aku akan menjemput.] kata Riko

__ADS_1


Aku menutup telepon dengan perasaan kecewa. Sementara itu berharap pada keluarga Reni juga tidak mungkin. Mereka benar-benar menyatakan ketidakbisaannya menjemput Reni dengan alasan pekerjaan. Rasanya sangat tidak mungkin sekali mengingat Orang tua Reni adalah pemilik rumah sakit. mustahil sekali enggak bisa libur sehari atau paling lama dua hari. Entah kenapa mereka. Aku hanya menduga ayah dan ibunya marah pada Reni Kekecewaanku dilampiaskan dengan tidak menjawab satupun pesan mereka.


"Mas ... Mas ... mas Ben!" tiba-tiba seseorang berlari ke arahku dengan wajah cemas. "Mas Ben, istrinya oensraha!" kata orang tersebut.


Aku dan pak Zainal buru-buru kembali ke kamar, benar saja, di depan pintu kamar tampak Reni sudah bersimbah darah segar. Ia dibantu oleh beberapa karyawan yang juga tinggal di mes.


"Segera bawa ke klinik saja!" kata pak Zainal.


Aku yang kebingungan mengikuti pak Zainal dan teman-teman lainnya. Kami menuju klinik. Sampai di sana, bidan yang jaga mengatakan kalau ketuban Reni (ketuban darah) sudah pecah. Sepertinya ia akan segera melahirkan. Tentu saja membuatku bingung sebab kehamilannya baru masuk delapan bulan. Tapi kata Bidan kondisi Reni memang sudah waktunya untuk melahirkan.


"Aduh, bagaimana ini? Saya tidak punya persiapan apa-apa." kataku pada pak Zainal yang ikut membantu mengantarkan.


"Tenang saja mas, nanti akan saya minta tolong sama cleaning servis untuk mencarikan perlengkapan bayi." kata pak Zainal. Setelah mendapatkan uang dariku, lelaki paruh baya itu langsung pergi, meninggalkan aku sendiri di ruang tunggu.


"Hah? Duh, enggak usah mbak. Saya nunggu di sini saja." kataku. Aku ini hanya suami secara catatan sipil saja, secara agama aku tak menikahinya, jadi bagaimana mungkin aku bisa menemaninya di kamar bersalin.


Satu jam sudah berlalu. bayi Reni belum juga lahir. Aku masih menunggu di ruang tunggu sambil menghubungi orang tuanya Reni. Mereka sangat kaget dengan berita bahwa Reni akan melahirkan. Tak lupa orang tuanya menanyakan alamatku yang semula aku pikir untuk mendapatkan ngirimin kebutuhan Reni, mengingat perlengkapan bayi semuanya ada di rumahnya, di Jakarta


"Ben," suara seseorang mengangetkan aku


"Yohana?" kataku, bangkit dari duduk.


"Ben, aku bawakan keperluan untuk bayinya. Kebetulan aku dipinjamkan oleh tetangga yang baru punya bayi. Saat ini aku belum bisa membelikan keperluan bayi sebab toko-toko sudah tutup. InshaAllah besok pagi akan aku belikan dan antar ke sini. Semoga bayinya sehat-sehat ya Ben."

__ADS_1


"Iya Han, terimakasih banyak."


Malam ini aku ditemani oleh Yohana untuk menunggu proses kelahiran bayinya Reni. Perawat yang bertugas beberapa kali menawarkan agar aku menemani Reni, tapi aku menolak dengan alasan takut darah.


"kamu takut darah? Sejak kapan Ben?" secara spontan Yohana bertanya.


"Psttt," aku memberi isyarat pada Yohana agar ia tak membocorkan rahasiaku.


Aku memang sengaja berbohong agar tak diminta masuk.


Dua jam kemudian akhirnya bayi yang dinanti -nantikan lahir juga. Seorang bayi laki-laki yang menggemaskan. Aku benar-benar terkesima dengan kelahiran Boo yang mengemaskan. Setelah di bersihkan, perawat meminta aku untuk mengazani bayi mungil tersebut.


Boo lahir dengan berat hanya dua setengah kilogram. Meski masih kurang tapi ia tak harus masuk ingkubator sebab semua organ tubuhnya sudah sempurna. Boo hanya diminta untuk banyak minum asi sambil skin to skin dengan orang tuanya.


"Boo, akhirnya kamu ketemu bapak juga. Bapak benar-bemar bahagia bisa melihat boo langsung. Kamu ternyata lebih menggemaskan dibandingkan yang aku bayangkan." kataku sambil menimang pekan Boo.


"Terima kasih ya Ben," kata Reni.


"Untuk apa?" Aku menatap bingung.


"Sudah menunggui Boo lahir dan mengazaninya." kata Reni lagi


Aku memang masih kesal pada Reni, tapi bukan berarti aku juga harus membenci anak ini. Boo terlalu menggemaskan, ia benar-benar bayi yang sangat lucu. Aku sampai tak bisa berkata-kata selain terpesona dengan bayi mungil ini.

__ADS_1


__ADS_2