Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Saling Adu


__ADS_3

"Han," aku menyapa Yohana yang baru saja datang. Aku memang sengaja menunggu kehadirannya karena selain ingin tahu kondisi anak sambungnya, juga ingin mengajaknya bicara tentang masa depannya. Entah ini salah atau benar, tapi hanya ini jalan yang ku temukan untuk membawanya keluar dari masalah hidupnya.


"Ben, kamu belum berangkat?" ia agak kaget mendapati aku.


"Belum, aku sebagai menunggu kamu."


"Oh, ada apa?"


"Bagaimana kondisi Upik dan Puti?"


"Sudah lebih membaik, hanya saja masih lemas."


"Kalau ada apa-apa kabari aku. Jangan sungkan oke!"


"Ya Ben, InshaAllah."


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan."


"Apa?"


Belum sempat aku menyampaikan isi hatiku, tiba-tiba dari gerbang mes datang seorang pria yang usianya beberapa tahun lebih muda dari kami. Ia tak sendiri, tapi bersama perempuan asing dengan make-up menor. Melihat wajah itu rasanya tak asing bagiku. Aku menjentikkan jari saat akhirnya berhasil mengingat lelaki itu. Ia adalah suami Yohana. Aku pernah melihatnya saat di pasar.


"Heh Hana, kamu itu bodoh sekali ya. Itu Upik dan Puti sakit kenapa tak kau obati? Benar-benar kau ini, aku suruh jaga malah ditinggal -tinggal!" tanpa basa-basi ia langsung menarik jilbab Yohana hingga gadis itu nyaris terjungkal.


"Eh eh eh, apa-apaan ini? Sembarangan kasar pada perempuan, anda bisa saya laporkan ke polisi!" kataku.

__ADS_1


"Apa urusan anda. Pergi sana, ini masalah saya. Orang asing tak boleh ikut campur!" ia meradang.


Aku tetap tak mau mundur. Enak saja ia menyalahkan Yohana padahal ia sudah berkorban banyak untuk dua anak sambungnya itu. Harusnya anak itu dirawat oleh ayah dan ibu kandung sendiri. Bukan di pasrahkan begitu saja. Kecuali Upik dan Puti adalah anak yatim piatu dan Yohana mengangkat mereka, barulah boleh menuntut ketika dua anak itu ditelantarkan.


"Anda itu ayahnya, harusnya anda yang bertanggung jawab pada anak-anak itu. Apa tidak malu dengan badan yang besar dan sehat itu? Masa memasrahkan semuanya pada perempuan. Benar-benar tidak tau malu!" kataku, tentu saja memancing emosinya.


Kami berdua terlibat adu mulut. Ini memang momen yang telah lama aku nantikan. Kekesalanku benar-bemar memuncak, bisa-bisanya ia membebani semuanya pada Yohana. Apalagi sekarang ia malah jalan dengan mantan istrinya. Sungguh sangat sulit dipikirkan dengan akal sehat dan Yohana bisa-bisanya ia cuek saja.


"Siapa kamu? Kenapa ikut campur urusan kami. Dasar orang asing tidak tahu diri. Sana, ini urusanku bukan urusan kamu!" ia mengusirku sambil meminta bantuan Yohana.


perdebatan kami menimbulkan kehebohan hingga orang-orang berdatangan untuk menonton lebih dekat, termasuk Reni yang datang mendekat. Ia menggendong Bre ikut serta.


"Ben, ada apa ini?" tanya Reni, sambil mendekati kami.


Aku tak ingin menjelaskan apapun karena yang ada di pikiranku hanya ingin memberi pelajaran pada suami Yohana.


Tawaran itu sangat menggiurkan untuk suami Yohana. Ia langsung menyanggupi padahal itu untuk Yohana. Perempuan itu sudah bekerja keras dari pagi dan sekarang harus bertambah lagi tanggung jawabnya.


Lalu Reni, untuk apa juga ia ikut campur urusan ini? Ia adalah orang asing. Masalahnya mereka mempermasalahkan tentang dua putri suami Yohana yang dibiarkan sakit padahal jelas-jelas Yohana sudah membawa Puti berobat, lalu kenapa ia memberi solusi pekerjaan baru, jelas-jelas itu hanya akan membuat Yohana tambah kelelahan. Kalaupun ada yang harus bekerja harusnya suami Yohana dan mantan istrinya. Tapi Reni berkilah keuangan bisa jadi sumber perpecahan Keluarga yang diamini Keluarga Yohana.


"Sudahlah, jangan ikut campur. sekarang lebih baik kembali ke kamar!" aku memerintahkan Reni agar masuk ke dalam bersama Bre.


"Tunggu mbak Reni, kalau mbak berkenan, saya mau mengambil pekerjaan yang mbak tawarkan." kata Yohana dengan tatapan penuh harap.


Apalagi ini? Yohana, kamu gak punya kewajiban atas Keluarga laki-laki itu. Ialah yang harusnya memberi nafkah. Kamu itu tulang rusuk bukan tulang punggung.

__ADS_1


Suami Yohana bersorak gembira ketika mendengar keputusan Yohana. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Bekerja dengan Reni bukanlah ide yang bagus.


"Sudah, ayo ikut!" aku menarik tangan Yohana untuk menjauh. Tentu saja apa yang aku lakukan menarik perhatian semua orang. Mereka hanya bisa melongo sebab yang mereka tahu aku dan Reni sudah menikah dan punya satu putra, tapi bisa-bisanya aku menarik Yohana dihadapan istri dan tentunya suami Yohana.


aku tak peduli lagi dengan mereka semua. Yang jelas sekarang yang harus aku lakukan adalah membuat Yohana bahagia. Ia harus segera keluar dari hubungan toxic!


"Ben lepas!" Yohana meronta, tapi aku tak peduli. Hingga kami berlalu cukup jauh. "Kamu kenapa sih Ben? Itu tadi ada mbak Reni, bagaimana perasaannya melihat kita seperti itu. Kamu harus bisa menghargainya karena kalian sudah punya anak dan ia sangat mencintai kamu!" kata Yohana dengan agak histeris.


Akhirnya aku berhenti, melepaskan tangan Yohana hingga ia kesal dan menjatuhkan dirinya tak jauh dariku.


"Kamu itu tak boleh begitu!" kata Yohana.


"Kenapa? Kalau aku biarkan kamu malah akan melakukan hal yang salah. Untuk apa bekerja banting tulang seperti itu? Sudah ku katakan jangan menyiksa diri sendiri. Han, ikutlah denganku aku mohon. Aku tak hanya akan menjaga kamu tapi juga Upik dan Puti. Aku mohon." aku terpaksa memohon padanya


"Kamu bicara apa sih Ben? Sudahlah. Dimana pun aku akan selalu menderita. Tak akan ada kebahagiaan untukku." katanya.


"Maafkan aku untuk hal yang lalu-lalu, Han. Tapi aku janji aku akan bertanggung jawab. Aku akan menjaga dan membahagiakan kamu. Kamu tak akan menderita lagi. Jadi aku mohon, ayo ikut aku saja!"


"Kamu gila ya Ben? sudahlah. Jaga perasaan mbak Reni juga."


"Tak perlu. Han, ada banyak hal yang belum kamu ketahui antara aku dan Reni, tapi aku ...."


"Ben ..." Yohana menghentikan aku, ia menggelengkan kepalanya. "Sudahlah, biarkan aku melakukan apapun sesuai kehendak hatiku. Kalau kamu tak suka, abaikan aku saja!" punya Yohana.."Aku sudah bebas, Ben..Ini adalah kehidupanku dan aku bebas melakukan apapun. Aku bukan lagi adik angkat ataupun kakak ipar kamu. Aku perempuan yang bebas!" kata Yohana.


"Tapi Hqn,"

__ADS_1


"Sudahlah." ia memintaku untuk tak ikut campur urusannya. Mendengar itu aku merasa sangat sakit, tapi aku tak akan menyerah.


__ADS_2