
"Kapan anak itu keluar dari rumah kita?" Yohana langsung mencecar dengan pertanyaan saat aku baru masuk ke kamar usai pulang kerja. "Sayang, aku merasa tak nyaman ada orang lain di rumah ini. Apalagi ia perempuan dan aku tak mengenalnya!" Yohana menegaskan keberatannya. "Keakraban kalian itu menggangguku dan aku yakin sikap kamu yang terlalu baik itu bisa mengundang orang lain berprasangka yang berlebihan."
"Sayang ... aku baru pulang kerja dan rasanya badan ini sudah terlalu lelah. Usiaku sudah tiga puluh sembilan tahun, ia nyaris sepantaran putri kita, Caca. Lalu apa yang membuatmu resah? Apa kamu tak percaya pada suamimu ini? Apakah aku pernah membuatmu kecewa dengan hal semisal ini? Kami memang berangkat bersama, tetapi kami tidak berduaan. Ada sopir kantor yang bisa menjadi saksi kalau kami tidak melakukan hal yang terlarang. Lagipula percayalah sayang, aku sudah pernah berjanji bahwa hanya kamu Han, tidak akan ada yang bisa menggantikan. Usianya memang jauh dibawah kamu, tapi anak itu tak akan pernah bisa mengalahkan kamu di hatiku. Kamu itu segalanya, Han. Aku sudah berjuang sekeras ini untuk mendapatkan kamu, lalu bagaimana mungkin aku bisa menyia-nyiakan kamu? Ngerti, kan?"
Aku berusaha meyakinkan meski Yohana tetap tak bisa menerima. Ada banyak alasan yang ia ajukan. Mulai dari penilaian orang hingga akhirnya ia mengaku bahwa ia merasa cemburu jika ada perempuan lain yang aku perhatikan meski itu hanya seorang gadis muda yang sepantaran dengan putri kami.
"Apapun yang kamu katakan, tetap saja hati ini cemburu dan itu susah untuk aku abaikan. Aku benar-benar merasa tak nyaman! Aku sangat percaya tapi hatiku seolah mengatakan hal lain. Feeling ku buruk. Aku sungguh sangat takut."
"Hahaha, jadi hanya karena itu? Harusnya katakan sejak awal sayang. Sejujurnya aku suka dicemburui seperti itu, tapi percayalah, aku tak akan melakukan hal-hal yang bukan-bukan. Aku akan setia, sayang. Aku berpikir membantu Nilam karena teringat Upik dan Puti. Kalau kedua anak-anak itu ada, salah satu dari mereka akan seusia dengan Nilam. Lihatlah bagaimana gadis itu, apa kamu tak merasa kalau ia ... mirip Puti? Aku berharap, dengan menolong gadis ini maka dimanapun Upik dan Puti berada semoga saat mereka kesulitan ada orang baik hati yang menolong mereka."
Yohana terdiam. Kalau sudah membahas dua anak itu, ia akan sulit berkata-kata karena kenyataannya ia menyimpan kesedihan yang luar biasa karena kehilangan. Aku hanya bisa memeluknya erat agar ia bisa merasa bahwa aku akan selalu ada untuknya. Aku akan berusaha menemukan Upik dan Puti.
"Jangan bersedih lagi, sayang. Percayalah, kita akan menemukan mereka. Sekarang, mereka pasti baik-baik saja." Kataku.
__ADS_1
***
Pagi ini, hari libur kerja, aku sengaja bangun siang, setelah salat Subuh kembali melanjutkan tidur karena memang semalam kelelahan usai lembur. Sedang banyak proyek yang harus aku selesaikan. Tetapi, mataku tak bisa terpejam karena terganggu dengan suara telepon Yohana. Ia memang punya kebiasaan mengencangkan nada dering hpnya. Katanya takut nggak kedengaran kalau ada telepon dariku atau Caca.
Sebenarnya aku berniat untuk mematikannya lalu lanjut tidur, tetapi netraku tak sengaja membaca nama yang tertulis dipanggilan tak terjawab. Bandaro. Untuk apa lagi ia menghubungi Yohana?
Aku langsung duduk, melihat ada panggilan tak terjawab juga satu jam lalu. Sampai sepuluh panggilan. Tanganku langsung aktif memencet pesan masuk. Ada banyak pesan dari Bandaro. Yang membuatku naik darah, ia meminta uang lagi pada Yohana. Ternyata, Yohana sudah mengirimkan uang sebanyak tiga kali. Padahal ia sudah janji hanya akan mengirim sekali saja.
Kesal mendapatkan kenyataan seperti ini, aku segera bangkit dari tempat tidur, mencarinya ke seluruh bagian rumah. Tetapi Yohana tak ada. Dari salah satu ART kami, mengatakan kalau Yohana ada di taman belakang bersama Nilam. Tak ingin membuang waktu, aku langsung menyusul mereka.
"Saya nggak bisa Bu, saya ngga akan meninggalkan rumah ini meski ibu menjanjikan uang yang sangat banyak karena memang saya tak butuh uang. Seperti yang ibu katakan, Saya hanya butuh suami ibu!" Kata Nilam, aku yang mendengarnya langsung merinding.
Plak. Aku melihat Yohana memukulnya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar ya. Ternyata jahat!" Yohana marah.
"Apa? Saya memang jahat, tapi saya begini karena seseorang yang lebih jahat lagi pada saya! Jadi biarkan saya melakukan apapun yang saya mau!"
Apa benar dugaan Yohana? Tapi kenapa? Bukankah aku sudah menempatkan diri sebagai seorang ayah. Aku tak pernah mengarah pada hal hal terlarang dan aku sangat yakin gadis itu pun tidak seperti dugaan Yohana. Tapi sekarang ia mengaku sendiri pada Yohana. Lalu aku harus bagaimana?
Sejujurnya aku sangat gemetar, makanya cepat-cepat kembali ke kamar. Apa yang dikatakan pak Mahen benar. Mereka, perempuan -perempuan muda seperti Nilam sama saja. Hanya memikirkan uang uang dan uang. Padahal kita sudah berbaik hati menampung mereka atas dasar kemanusiaan, sayangnya kepercayaan itu akhirnya dikhianati juga.
Tak ingin membuang waktu, aku menelepon seorang asisten di kantor, memintanya melakukan sesuatu.
***
Orang yang aku tunggu akhirnya datang juga. Aku memanggil Nilam. Yohana dan Caca juga ikut ke depan. Pada Nilam ku katakan bahwa hari ini juga ia harus pindah dari rumah kami sebab aku sudah menemukan kosan yang cocok untuknya. Tidak lupa aku memberinya sedikit uang untuk bekal karena sejujurnya aku kasihan jika ia harus menghinakan dirinya hanya demi lembaran rupiah.
__ADS_1
Hidup ini bukan hanya tentang uang. Sayang sekali jika menghancurkan demi obsesi tersebut apalagi digunakannya pun untuk berfoya-foya. Lagipula aku bukanlah orang yang tepat. Aku gak akan masuk ke dalam jebakannya. Aku ini adalah lelaki setia. Hanya Yohana yang ada di hatiku. Meski istriku memiliki kekurangan, tetapi kekurangannya itu adalah kelebihan untukku. Aku sangat bahagia hidup dengannya.