
Masalah demi masalah tak kunjung berhenti. Setelah aku yang diserang oleh Nilam, ternyata Yohana pun sedang menyembunyikan sebuah masalah yang tak kalah besar. Tanpa sepengetahuan aku, rupanya ia masih berhubungan dengan orang tua Upik dan Puti. Sekarang baru terungkap ketika aku tak sengaja menangkap basah ia yang lagi-lagi di peras.
"Kan sudah ku katakan, jangan pernah mengikuti permainan mereka. Kenapa kamu begitu keras kepala, Han. Kenapa nggak nurut? Sekarang semuanya sudah serumit ini. Betapa banyak uang yang sudah kamu transfer ditambah kamu juga akhirnya menjadi penyumbang dana untuk dua orang suami istri yang jelas-jelas menjadikan anaknya sebagai alasan untuk mendapatkan uang!" aku marah pada Yohana.
"Sayang, aku hanya ingin menyelamatkan kamu agar tak mendapat masalah. Ia terus mengancam akan mengangkat masalah ini, kalau itu terjadi maka nama kamu akan semakin buruk setelah kejadian dengan Nilam itu. Siapa yang akan percaya dengan kita lagi. Kamu akan kehilangn apa yang sudah kita usahakan dengan kerja keras." Yohana membela diri.
"Ahhhh, aku tak peduli dengan itu semua. Yang jelas jangan lakukan lagi. Untuk masalah ini aku akan minta bantuan pak Rizal memberi pelajaran kepada suami istri itu. Mereka tak pernah benar-benar peduli dengan anak-anaknya, hanya menjadikan anaknya sebagai sapi perah sumber uang mereka!" Kataku yang benar-benar sudah kehilangan kesabaran.
Aku tak main-main, benar-benar melaporkan Bandaro dan istrinya ke pak Rizal. Mereka membantu memproses, namun sayangnya uang yang sudah terlanjur ditransfer Yohana telah habis oleh mereka. Digunakan untuk foya-foya. Hanya tersisa sedikit saja. Bagiku, itu bukan masalah utama, yang terpenting mereka tak menghubungi Yohana lagi.
Selesai masalah Yohana, namun tidak dengan masalahku. Hari ini aku merasa terhina sekali ketika salah satu klien kami menyajikan dua orang perempuan muda sebagai hadiah untukku jika melancarkan proyek mereka. Tentu saja aku marah, aku merasa terhina dengan apa yang dilakukan. Bagaimana mungkin mereka menghinaku sedemikian rupa hanya karena ada gosip tentangku dan Nilam, yang mereka sendiri pasti tak menyelidikinya.
"Tidak perlu sungkan-sungkan pak Beni, ini kami Carikan yang terbaik. Yang terpenting pak Beni tahu apa yang kami mau. Setelah proyek ini selesai maka pak Beni akan mendapatkan hadiah yang lebih baik lagi dari yang sekarang. Akan saya bawakan yang sudah masternya." Ia tertawa.
"Saya rasa anda sudah melakukan kesalahan besar, pak. Sekarang silakan tinggalkan tempat ini dan lupakan semua proyek ini karena saya menarik semuanya. Saya tak akan pernah lagi memberikannya kepada bapak. Saya akan berikan proyek ini pada orang yang benar-benar bisa menghargai rekan bisnisnya!" Kataku.
__ADS_1
"Lho lho lho, ada apa pak Ben? Apa ada yang salah? Apa ini tidak sesuai dengan bapak?"
"Pergi sekarang!" Kataku, dengan emosi memuncak.
Klien itu sempat meminta maaf, tapi aku tak menghiraukan. Bagiku, ia sudah melakukan kesalahan besar dan ia bukan orang yang tepat untuk menjadi rekan kerjaku. Aku memang bukan orang yang sici, tapi tak ingin juga dengan pendosa yang suka merendahkan wanita dengan menjadikan mereka sebagai "hadiah".
Lelaki yang biasa memenangkan tender itu awalnya sempat memohon maaf dan berjanji tak akan mengulangi kesalahannya. Ia akan menghormati aku, tapi aku tetap tak peduli. Ia sudah membuatku sangat murka. Hingga akhirnya lelaki itu pun ikut marah. Menganggap aku sombong dan berjanji akan menghancurkan karirku.
"Anda akan menyesal sebab sudah menolak saya. Sepertinya pak Mahen belum memberitahu anda siapa saya. Selama hampir lima belas tahun, proyek sejenis ini saya yang pegang, tak akan ada yang bisa melakukannya sebaik saya. Jadi, anda benar-benar sudah membuat keputusan yang salah, anda sedang ada dalam masalah yang anda buat sendiri. Ingat itu pak Ben. Saya pastikan andalah yang akan datang kepada saya sambil memohon pengampunan. Tetapi sama seperti anda, saya pun tak akan memberi Anda kesempatan, karena anda terlalu sombong!" Ia menatapku tajam, lalu berlalu meninggalkan ruangan bersama dua perempuan muda yang ia bawa juga para asistennya.
"Ini semua gara-gara Nilam!" aku mencekam perempuan itu. Entah apa salahku, aku hanya menggunakan hakku untuk mengeluarkan ia dari rumahku. Andai ia baik-baik saja maka aku mungkin akan membiarkan ia tetap tinggal di rumah kami.
Baru saja aku hendak menelepon pak Mahen yang selama ini selalu ku jadikan penasihat ku, tetapi ternyata ia duluan yang menghubungi.
[Kenapa membatalkan kontrak dengan pak Albert? Aku mengerti kamu marah, Ben. Tapi jangan terlalu begitu, kau tahu siapa dia? Dia yang menguasai banyak proyek besar. Sekarang segeralah minta maaf. Aku sudah mewakili tapi ia tak berkenan, sebaiknya memang kamu yang melakukannya. Jangan diundur-undur Ben, ini demi kebaikan karirmu!] kata pak Mahen.
__ADS_1
Aku yang masih emosi tak menghiraukan perintah pak Mahen. Ia yang memulai kenapa juga aku yang harus meminta maaf. Ini tentang harga diri dan bagiku itu sangat penting!
***
Tatapan orang-orang di kantor masih sama seperti sebelumnya, melihatku dengan tatapan mengejek, seolah aku bena-benar pelaku kejahatan. Dan itu membuatku risih
"Pokoknya buat perempuan itu keluar dari persembunyiannya, aku tak terima dengan fitnahan itu!" kataku pada Genta yang ku tunjuk sebagai kuasa hukum setelah menunggu sekian lama tak ada gerak dari pak Mahen.
"Tenang saja, Ben. Kami sudah melaporkan, besok akan ku laporkan perkembangannya." jawab Genta.
Aku diwakili Genta sudah melaporkan fitnahan Nilam. Kami bahkan sudah membuat beberapa pasal untuk menghentikannya dan melakukan klarifikasi. Ia masih sama seperti sebelumnya, dengan sombongnya menantang ku, dengan bukti kehamilannya yang entah siapa pelakunya.
"Jangankan menyentuhnya, membayangkan saja aku tak suka!" kataku yang masih geram. "Bagiku cukup Yohana. Meski perempuan itu jauh lebih muda dari Yohana namun ia tak akan bisa menggantikan posisi Yohana!"
"Iya iya. Aku tahu betapa kamu mencintai istrimu Ben," ujar Genta sambil tertawa kecil. Ia masih sempat mencandai aku agar tak terlalu emosi.
__ADS_1
Entah apa tujuan Nilam sebab sampai saat ini ia tak pernah meminta sejumlah uang dariku. Padahal biasanya motif perempuan sepertinya adalah uang seperti yang dikatakan pak Mahen dan Genta. Tapi ini benar-benar murni ingin menjatuhkan aku seolah aku melakukan dosa besar padanya.