
Malam ini, aku dan Genta menunggui Puji sampai selesai kerja, setelah itu kami ke pondok mas Yanuar untuk mengantarkan Puji, kami tak bisa membiarkan ia tinggal di mes tempatnya bekerja karena tahu bagaimana orang-orang di sana. Memang, kalau tak ingin mendapatkan cap buruk, kita harus meninggalkan tempat-tempat buruk.
"Pakai kerudung kamu kembali Puji!" Mas Yanuar meradang melihat penampilan adiknya yang meski mengenakan pakaian kemeja lapang namun tak menutup kepalanya lagi.
"Mas masih saja sama seperti dulu, hanya bisa memberi perintah tanpa mau memahami kondisi orang lain!" Kata Puji dengan suara gemetar menahan tangis. Ia merasa kesal dengan semua aturan yang diterapkan abangnya. Awalnya, saat mereka keluar dari rumah, Puji ingin ikut dengan mas Yanuar tapi aturan yang diberikan Abangnya, termasuk larangan sekolah lagi membuatnya tertekan. Padahal ia tak akan bergantung penuh, ia pun akan berusaha namun mas Yanuar sudah terlanjur membuat keputusan yang membuat Puji tersinggung.
"Perkara itu saja kamu marah. Tapi lihat apa yang kamu lakukan, kamu sudah mencoreng nama baik keluarga kita. Kamu membuka kerudungku, bekerja di tempat hiburan malam. Jangan-jangan benar kamu juga sudah menjual diri?" Tuduh mas Yanuar. Tak hanya Puji, aku dan Genta pun kaget mendengarnya. Kenapa seorang Abang yang harusnya melindungi adiknya malah tega bicara seperti itu?
"Mas!" Puji meradang. "Aku nggak sehina itu. Aku hanya berusaha mengumpulkan uang halal untuk biaya hidupku." Ia terisak.
"Biaya halal? Yang ada kamu malah membuat dosa untuk diri kamu sendiri, bapak dan aku! Kamu paham nggak sih? Kamu itu sudah membuat malu Keluarga kita. Semua orang tahunya kamu bekerja di tempat seperti itu, menjadi perempuan tak benar. Apa kamu enggak malu? Kalau sudah begini, tak akan ada laki-laki baik-baik yang mau menikah dengan kamu!" Tegas abangnya.
"Mas ini kenapa sih? Pikirannya pendek sekali. Kalaupun nggak ada yang mau denganku nggak apa-apa, itu adalah bagian dari takdir Allah untukku, yang terpenting aku nggak ngerugiin siapapun. Aku nggak serendah itu, mas. Jadi tolong jangan menghina aku!" Tegas Puji.
"Siapa bilang nggak akan ada yang mau dmeban Puji, mas? Saya siap menikah dengannya. Oh ya, perkenalkan, saya Genta, temannya Ben. Saya adalah advokat di LBH dan juga punya kantor advokat. Sejak awal saya mengenal Puji, saya sudah jatuh cinta dengan adik mas. Saya bahkan berniat mendatangi keluarganya, namun saat itu Puji sedang menghadapi ujian dalam keluarganya seperti yang diceritakan Ben. Untuk itu, saya rela menunggu Puji sampai ia benar-benar siap. Saya nggak berpaling saat ia menghilang dari kehidupan saya. Seperti yang dikatakan Puji, saya harap mas menghormati dia dan nggak menghina dia lagi sebab orang yang mas katakan tidak ada itu ada mas dan itu adalah saya!" Kata Genta dengan gentleman.
__ADS_1
Mas Yanuar menerima Puji kembali. Mereka janji akan kembali ke rumah ayanya besok pagi. Setelah itu aku dan Genta pamit pulang.
"Terimakasih Gen, kamu sudah sangat banyak membantuku." Kataku pada Genta.
"Enggak Ben, dalam masalah ini pun kamulah yang membantuku menemukan Puji kembali. Aku benar-benar lega akhirnya bisa bertemu dengan gadis itu dan tahu kondisinya baik-baik saja. Sesuai janjiku, muali sekarang aku tak akan membiarkan dia pergi lagi " kata Genta
***
"Abah kehilangan kesadarannya, bang. Sejak tadi tertidur. Entah pingsan atau bagaimana. Tapi sebelumnya Abah sempat menceracau." Kata Ami yang menyambut kedatanganku dengan berita tentang Abah.
"Sepertinya ada yang berniat jahat sama Abah. Tadi ada suara kerikil di atas genteng." Ami menceritakan kejadian mistis yang ia alami. Aku gak bisa menanggapi apapun karena hal-hal seperti itu diluar nalarku. Tapi aku meyakini adanya hal-hal gaib. Mungkin karena tak melihat langsung makanya seperti sulit untuk percaya. "Lalu sekarang kita bagaimana, bang?"tanya Ami.
"Banyak-banyak berdoa saja. Mau bagaimana lagi?" Kataku, sambil berlalu ke kamar Abah. Di sana tampak lelaki yang dahulu ketika kecil amat ku takuti itu sedang terbaring. Tubuhnya tak bergerak hanya wajahnya terlihat lebih merah dari biasanya. Sejak sakit ini berat badan Abah juga naik dua kali lipat. Makanya kalau sedang mengamuk membuatku kewalahan menangani Abah.
Ami sudah menghilang ke kamar sebelah, dimana bunda dan Alif sedang beristirahat. Dua orang ini sengaja di letakkan berjauhan dengan Abah sebab khawatir terganggu bila sewaktu-waktu Abah mengamuk. Lagipula bunda butuh banyak istirahat
__ADS_1
"Bunda ... Bunda ... Bunda!" Tiba-tiba terdengar suara Ami memekik memanggil bunda. Khawatir terjadi sesuatu, makanya aku menyusul ke kamar sebelah. Betapa kagetnya aku melihat bunda sudah bersimbah darah.
Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Bunda telah pergi mendahului kami semua. Aku terduduk lemas di sebelah bunda sambil memegang tangannya yang mengurus, sementara itu Ami menangis histeris. Ia seperti tak siap dengan kepergian ibu kamu tercinta.
***
Aku masih duduk di samping tempat peristirahatan terakhir bunda. Tangan kananku memegang nisan bunda. Mulutku tak berhenti mengucap istighfar dan doa-doa agar bunda diterima oleh Allah, ditempatkan di tempat terbaik di antara orang-orang beriman dan diampuni segala dosa-dosanya.
Bunda, Perempuan yang teramat unik dalam membesarkan anak-anaknya. Bunda pernah memperlakukan aku dengan tidak baik, mengikuti Abah mendiamkan aku, tapi aku tahu bunda sebenarnya sangat menyayangiku hanya saja bunda memiliki imam seperti diktator. Aku menghapus sisa air mata yang masih terus mengalir.
"Bang, ayo pulang." Ajak Ami, sambil menggendong Alif dengan agak susah karena ia tertidur.
"Duluan saja ke mobil, Abang masih mau disini." Kataku, masih memegang nisan bunda. Makan bunda berada persis di sebelah makan bang Sigit. Setelah ini bunda dan Abang akan bisa berdampingan seperti yang disukai oleh bunda, selalu berada di samping anak kesayangannya. Aku tak bisa menahan untuk tak menangis, mengingat betapa bunda menyayangi bang Sigit. Sejujurnya aku cemburu, bahkan saat bunda meninggal pun, Abang yang lebih beruntung dahulu menyambut bunda. "Bun, maafkan Ben ya belum bisa membahagiakan bunda. Tapi Ben akan melanjutkan wasiat bunda." Kataku.
Berat sebenarnya meninggalkan tempat ini menginga setelah tujuh langkah orang terakhir maka malaikat akan datang menanyai mayit. Semoga saja bunda bisa melewati semuanya. Aku sudah merelakan dan memaafkan semua salah bunda, aku ingin bunda bisa masuk ke surga Allah.
__ADS_1
"Bun, Ben Pulang ya. Ben akan berusaha mewujudkan impian kita. Bun, terimakasih sudah menjadi orang tua terbaik untuk kami." kataku sebagai salam perpisahan.