
Hari ini, aku berjanji pada Yohana, selanjutnya akan bertanggung jawab atas kehidupannya.. Setelah urusanku dan Reni selesai maka aku akan menikahinya. Ia pun membuat janji akan menanti hingga aku menghalalkannya. Meski kami belum bersatu, namun melewati satu langkah lagi menuju bersama sudah membuatku bersyukur, setidaknya sekarang semuanya sudah sama-sama jelas tentang status kami masing-masing yang masih sama-sama sendiri.
"Aku pulang dulu," kataku. Ia mengangguk, kami berpisah di persimpangan jalan sebab ia harus kembali ke kosan sementara aku harus ke mes.
Sampai di mes, kamar masih kosong, tak ada Reni maupun Bre. Aku mencari ke sekeliling hingga akhirnya Reni datang menggendong Bre
"Kalian dari mana saja? Aku mencari ke sekeliling tapi tidak ada. Ren, kamu tahu tidak akhirnya aku bisa mengutarakan semuanya pada Yohana dan ia mau menerima hingga urusan kita beres. Aku benar-benar sudah gak sabar menanti saat akhirnya kami menikah. Setelah melewati ujian yang teramat panjang akhirnya kami akan bersatu, Ren." kataku, terus mencerocos, sementara Reni hanya diam mendengarkan.
***
Riko benar -benar datang sesuai dengan apa yang kami janjikan. Ia membawa banyak hadiah untuk Bre. Melihat cara Riko memperlakukan ibu dan anak itu membuatku yakin kalau aku tak akan salah menitipkan Reni dan Bre pada Riko. Ia benar-benar mencintai Reni dan tulus menerimanya apa adanya. Bahkan ia berlaku bak ayah sesungguhnya untuk Bre. Ia bahkan mengusulkan untuk membuat namanya di akte Bre sebagai ayahnya.
"Kamu sudah siap?" tanyaku pada Reni yang hanya menanggapi dingin kedatangan Riko. Tapi aku tak ambil pusing, ku pikir ia hanya kelelahan, beberapa waktu ini Reni benar-benar mengurus semua keperluan Bre sendiri, ia kehilangan waktu tidur dan istirahatnya. Tak ada yang membantu menggantikan sebab akupun sibuk dengan urusan kantorku.
Awalnya aku berharap ibunya akan di sini untuk menemani hingga Reni bisa dibawa kembali ke Jakarta, tapi ternyata ibunya juga tak bisa dan tak memberi solusi lain hingga akhirnya semuanya benar-benar dibebankan pada Reni.
"Memang kita akan kemana?" tanya Reni dengan malas-malasan.
"Sudah, ikut saja!" perintah Riko, sambil mengambil Bre dari gendongan Reni. Kami memberi waktu ibu muda itu untuk bersiap-siap, sementara kami menunggu di luar.
__ADS_1
"Terimakasih Ben sudah menyiapkan semuanya." kata Riko yang memang sangat excited sejak awal dengan rencana yang aku ajukan.
Reni akhirnya keluar dari kamar mesku, ia memakai baju panjang berwarna merah tua, sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Susah payah ia berjalan sebab baru hitungan hari melahirkan.
"Ayo, katanya mau pergi? Kenapa diam saja?" kata Reni.
"Sabar, tunggu sebentar." kataku, sambil melirik ke arah luar dan tak lama akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Yohana tergopoh-gopoh datang sambil meminta maaf atas keterlambatannya. "Tenang Han, kamu tidak terlambat kok. Kamu datang tepat waktu. Lagi pula kalau kamu terlambat tak akan ditinggal, aku akan selalu menantimu sampai kamu datang!" kataku.
"Ehem!" Riko mesem-mesem, ia mencandai aku dan Yohana hingga pipinya memerah menahan malu.
"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Reni dengan wajah tak bersahabat.
"Maaf Ren, kami harap kamu enjoy dengan rencana yang sudah kami susun sebab ini adalah bagian dari hadiah untuk ibu muda yang hebat seperti kamu sebab beberapa hari ini mengurus Bre sendiri!" kata Riko. "Aku harap kamu menikmatinya. Semoga kamu suka ya!" sama seperti sebelum-sebelumnya, Riko selalu excited bila berkaitan dengan Yohana.
"Aku belum pernah merasakan puas spa seperti saat ini padahal biasanya aku rutin perawatan tiap bulannya." kata Reni sambil memamerkan tangannya yang harum usai dibalur aroma terapi. "Terimakasih banyak ya Ben, kamu benar-benar perhatian."
"Eh enak saja, itu ideku!" kata Riko
"Oh ya? Tapi aku tak percaya. Kamu belum pernah ke sini, bagaimana mungkin kamu tahu tempat ini?" kata Reni.
__ADS_1
"Riko benar Ren, ini semua idenya. Kami tahu tempat ini atas rekomendasi Yohana. Ia kan Han?" aku melirik Yohana yang sibuk menimang Bre. Bayi itu tertidur pulas di timang-timang. Ia sepertinya juga menikmati dipijat.
"Oh ya?" Reni melengos menuju mobil, tak peduli dengan apa yang kami katakan. "Sekarang kita mau kemana lagi? Ayo segera? Kalau tidak aku ingin pulang. Aku mau tidur, ngantuk!" teriak Reni dari dalam mobil.
"Duuuh, kenapa ia tak berubah juga. Dari dulu tak sabaran!" celetuk Riko sambil menyusul ke mobil sebelum Reni berteriak lagi.
Kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan yang sudah aku dan Riko rencanakan. Sebuah resto sederhana di kecamatan. Resto itu sengaja kami kosongkan untuk kenyamanan. Tentu saja yang membayarnya adalah Riko.
Resto ini berada di tengah hamparan sawah, makanya disebut Resto Tengah Sawah. View nya benar-benar memanjakan mata. Sepanjang penglihatan terhampar padi berwarna hijau. Angin berhembus dengan lembutnya membuat mata menjadi mengantuk.
Riko sudah memesan banyak makanan..Saat kami datang, pelayannya langsung menyajikan penuh satu meja makanan dan minuman.
"Nah, sekarang waktunya busui makan yang banyak agar Bre mendapatkan ASI terbaik dari ibunya." kata Riko pada Reni.
"Makan banyak? Kamu mau membuatku jadi gendut dua kali lipat? Kamu nggak akan berhasil, kamu tahu kan aku sangat menjaga makan!" seru Reni.
Tapi berbanding terbalik dengan perkataannya, Reni benar-benar makan banyak. Bukan lagi dua kali lipat tapi lebih. Ia nambah berkali -kali. Untuk menjaga perasaannya yang sedang dipengaruhi hormon ibu menyusui makanya kami diam saja. Membiarkan ia makan dengan puas.
Kemarin -kemarin makan Reni sangatlah terbatas. Di Mes, aku tak bisa menyajikan banyak makanan yang lezat untuknya. Hanya nasi Padang yang lauknya terbatas tiap harinya. Padahal Reni butuh banyak makanan bergizi untuk Bre.
__ADS_1
Bisa makan berlima seperti ini membuatku senang. Reni, Bre dan Riko. Mereka sudah seperti satu keluarga meski belum bisa menikah karena aku dan Reni belum mengurus perceraian.
Sementara aku bisa bersama dengan Yohana, melihatnya makan dengan nikmat tanpa takut harus membayar lebih. Saat ini ia begitu kurus dengan beban hidup cukup berat, aku ingin ia merasakan bahagia. Sudah cukup melihatnya menderita selama ini.