
Innalilahi Wa Inna ilaihi Raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah bapak haji Aji Santoso bin Jihan Azhar. Pengumuman dari masjid terdengar usai salat Subuh berjamaah. Kami sekeluarga masih sibuk mempersiapkan untuk pemakaman Abah yang rencana akan dilaksanakan ba'da Zuhur.
Abah adalah anak laki-laki yang lahir dari golongan keluarga ekonomi menengah ke bawah. Ia memiliki sembilan saudara. Ayahnya adalah kuli panggul, sementara ibunya bekerja sebagai buruh cuci untuk membantu perekonomian keluarga. Banyaknya anak dan tuntutan hidup yang begitu tinggi membuat dua orang tua Abah kurang perhatian, ditambah abah bukan anak yang menonjol di bidang akademik. Sedikit kemampuan mengaji yang membuat Abah akhirnya fokus ke ilmu agama. Sayangnya, orang tuanya tak mampu sehingga Abah tak bisa lanjut mondok di pesantren yang ia sukai, Abah malah terdampar di pondok yatim dimana lebih banyak pengabdian dibandingkan belajar. Namun demi bisa mengubah nadib, Abah terus menjalani dengan gigih.
Kerasnya hidup kadang membuat Abah iri pada anak-anak yang bisa sekolah seenaknya namun fasilitas tetap melimpah. Itulah kenapa Abah begitu terobsesi bisa menjadi orang kaya lewat jalur sebagai seorang ustadz. Impian Abah bisa menjadi ulama terpandang dengan banyak jamaah. Punya pesantren besar dan majlis ta'lim dengan ribuan jamaah. Abah juga selalu berharap tiap tahun bisa naik haji untuk membuat kagum jamaahnya.
Menikah dengan bunda adalah salah satu cara Abah untuk menggapai mimpinya. Bunda adalah anak dari ustadz yang menjadi guru Abah. Awalnya sebenarnya Abah mengincar putri kyai, namun karena Abah hanya santri biasa maka lamarannya di tolak. Abah semakin mendendam dan berharap suatu saat bisa membuat pak kyai menyesal sebab sudah menolaknya.
Obsesi disebut sebagai orang salih membuat Abah begitu menekan keluarganya. Semua harus tunduk pada Abah. Ia begitu takut kalau anaknya nakal sehingga jadi buah bibir orang-orang. Makanya Abah begitu keras kalau kami dirasa melakukan pelanggaran-pelanggaran meskipun itu bukan kesalahan fatal.
Aku adalah anak yang paling sering berdebat, bahkan hampir diusir dari keluarga. Abah bahkan mengatakan penyesalannya memiliki anak seperti aku karena aku tak pernah mau mengikuti apa yang Abah katakan sebab aku punya jalan sendiri untuk meraih cita-citaku. Berbeda dengan bang Sigit yang selalu menurut meski akhirnya ia memberontak juga dengan melakukan kesalahan besar yaitu memiliki anak di luar nikah.
__ADS_1
Kalau ada orang yang harus disalahkan, ialah abah yang begitu mengekang. Bahkan bang Sigit yang sudah sebesar itu saja harus melakukan semua yang Abah mau. Memang benar apa yang dikatakan orang-orang, semakin ajak dipenjara maka suatu saat ia akan melakukan pemberontak besar yang membuat semuanya hancur.
Kini, obsesi Abah tak bisa lagi terwujud. Harapan Abah menjadi orang yang paling disanjung karena kesalihannya malah menjadi orang yang sempat terhina karena bersekutu dengan jin melalui dukun.
Sebagai anak, aku amat hancur melihat kondisi Abah yang sempat masuk RSJ. Aku tahu banyak orang yang memgatai Abah, menghina bahkan menertawakan. Namun aku sedikit lega sebab di akhir hidupnya, Abah berhasil keluar dari itu semua. Abah benar-bemar bertaubat dan kami berharap taubat abah diterima.
Sekarang, aku ada di hadapan orang-orang yang berziarah, menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan abah. Aku sempat sedih saat tak sengaja mendengar beberapa orang yang datang berbisik bisik, ingin melihat bagaimana azab yang abah dapatkan. Namun, begitu baiknya Allah pada Abah, tak ada sedikitpun hak ganjil yang bisa menimbulkan fitnah terjadi pada jenazah Abah. Bahkan Kami merasa ringan melepas kepergian Abah.
Mas Yanuar, sulungnya, yang mendampingi ayahnya langsung menghampiri aku. "Maafkan ayah kami, Ben. Kadang, dendam membuat seseorang menghancurkan hidupnya. Aku sudah sering mengingatkan agar semuanya di lupakan saja, tapi ayah tetap keras kepala. Hari ini, sebelum datang ke sini, ayah mengatakan rasa puasnya sebab akhirnya ia bisa melepaskan dendamnya dengan kematian pak Aji. Tapi sekali lagi maaf ya Ben, aku harap, permusuhan orang tua kita tak merembet ke Kita anak-anaknya. Kamu sudah baik membantu menyatukan kembali Keluarga kami. Jadi tolong jangan diambil hati apa yang dikatakan ayahku " pinta mas Yanuar sambil menggenggam tanganku.
"Ya mas, saya mengerti. Saya tak akan mengambil hati. Saya juga menghargai usaha mas untuk membantu mendamaikan Abah kami dengan pak Diki. Tapi sepertinya amarah begitu besar hingga Kita tak bisa mendinginkan hati mereka. Namun saya tetap lega sebab akhirnya pak Diki memaafkan Abah juga." Kataku.
__ADS_1
"Yanuar!" Panggil pak Diki dari luar. "Ayo cepat pulang. Mau apa lagi kau di sana? Nanti keburu bangkit mayatnya!" tambah lelaki tua itu. "Kalian juga, cepat pulang kalau sudah melayatnya. Aku tahu, kalian ke sini cuma mau melihat mayat si Aji diazab, kan? Ckckck, dasar tukang gosip. Kurang-kurangi lah itu sifat buruk kalian supaya nanti tidak jadi bumerang untuk kalian!" Kata pak Diki pada pelayat yang sedang duduk-duduk.
Astagfirullah. Aku dan mas Yanuar sama-sama mengucap istighfar mendengar ocehan pak Diki yang cukup nyelekit. Setelah itu mas Yanuar buru-buru pamit, sebab tak enak jika ayahnya kembali berceloteh mengundang perhatian tamu-tamu yang datang melayat. Sebelum pergi, mas Yanuar berbisik bahwa adiknya akan datang membantu di sini menggantikan dirinya. Sebenarnya mas Yanuar juga ingin ikut bantu-bantu, setidaknya sampai Abah dimakamkan, tapi ayahnya tak akan mengizinkan, lagipula ayahnya butuh perhatian lebih saat ini, hampir sama dengan kondisi Abah sebelumnya. Makanya harus didampingi secara intens.
***
Makan Abah ada di antara makan bunda dan bang Sigit. Aku termenung melihat ketiga tempat peristirahatan orang-orang yang ku sayangi itu. Mereka kembali berdampingan lagi seperti ketika masih hidup. Tapi apakah kondisi mereka baik-baik saja? Kadang, kita dengan mudahnya melakukan dosa, mengejar obsesi yang dibuat sendiri dengan menjahati orang lain, padahal akhirnya hanya seperti ini. Tempat peristirahatan terakhir, tanah kuburan yang ukurannya hanya selebar tubuh kita. Tak lebih dari dua kali satu meter.
Abah, demi obsesinya merusak diri sendiri dan keluarganya. Bunda, demi membahagiakan Abah, menghancurkan dirinya dan keluarganya. Bang Sigit yang sejak awal telah baik, namun hancur karena tak kuat dengan tekanan dari abah. Padahal sabar sedikit saja maka ia akan menang.
Ya Allah ... Entah bagaimana akhir hidupku nantinya. Aku hanya berharap bisa menang meski di awal begitu banyak kesalahan.
__ADS_1