
"Han, mulai sekarang dan seterusnya kamu adalah tanggung jawabku. Sampai kapanpun, aku akan berada di sisimu. Apapun yang terjadi aku akan berusaha membahagiakan kamu. Kamu adalah perempuan pertama dan satu-satunya yang aku cintai." Kataku pada Yohana.
Satu-persatu tamu undangan yang memang hanya kami-kami saja menyalami kami berdua. Aku dan Yohana. Untuk sesaat kami bisa melupakan kesedihan kami, hanya senyum yang tak pernah sirna. Sesekali aku melirik Yohana, ia tampak bersinar dengan gaun putihnya. Benar-benar cantik. Dari dulu aku selalu berusaha menjadi suami Yohana, berbagai cara aku lakukan termasuk bertengkar dengan keluarga sendiri, tapi tak juga bisa menghalalkan Yohana. Sekarang, tiba-tiba aku menjadi suaminya. Menjadi laki-laki paling bahagia.
Usai akad dan mengadakan syukuran kecil-kecilan yang diselenggarakan oleh Riko dan Reni, aku dan Yohana pamit sebentar untuk membesuk Abah. Memang niatnya setelah sampai di Jakarta aku akan menemui Abah, tapi tertunda karena surprise mereka. Kami berangkat naik mobil yang disediakan Riko, tapi kali ini tanpa supir, aku yang menyetir sendiri. Yang ikut hanya aku, Yohana, Aku, Mbak Lila dan Alif. Sepanjang perjalanan terdengar celoteh riang Alif yang senang menyambut kedatangan Yohana. Aku sempat melihat bagaimana dekatnya mereka lewat kaca spion. Yohana memang memilih duduk di belakang supaya bisa bercanda dengan Alif, sementara Yang duduk di depan adalah Ami.
Sampai di rumah sakit jiwa, yang masuk hanya aku dan Ami. Kami menuju ruang rawat Abah. Sejak kemarin Abah terpaksa di ikat karena melakukan kekerasan pada temannya dan juga menjaga. Abah mengamuk lagi tanpa sebab, salah satu perawat sampai berdarah keningnya ditinju oleh Abah.
"Bah, ini Ben." Kataku, menyapa Abah yang sedang berbaring membelakangi kami. "Maaf Ben baru bisa datang sekarang, Ben kemarin ke Sumatra untuk mencari Yohana dan sekarang ia sudah di sini bersama kami. Ben dan Yohana juga sudah menikah. Bah, sehat-sehat ya, Ben ingin membawa Abah segera pulang." Kataku, sambil memegang lengan Abah. "Ben ingin memperbaiki semuanya, Ben yakin ini belum terlambat. Ben ingin menjadi anak yang bisa membuat Abah bangga. Beri Ben kesempatan untuk mengobati luka hati Abah. Sekarang tinggal Abah, pintu surga yang Ben miliki."
Tak banyak kata yang bisa ku ucapkan, saat hendak pamit, Abah berbalik arah, ia melihat kami berdua, tatapannya berbeda dengan biasanya. Abah terlihat semakin menua. "Ben ... Ami ... jangan nakal-nakal ya. Abah nggak suka kalian nakal-nakal. Kalian harus nurut Abah. Jangan lupa ngaji supaya besok besar jadi ustadz!" Kata Abah, lalu ia berbalik lagi, tak lama terdengar suara Abah membaca Asmaul Husna. Dahulu, Abah memang sering membacanya.
__ADS_1
"Kami pamit Bah." Kata Ami, ia keluar duluan. Aku mengikuti dari belakang.
Begitulah jalan hidup, penuh dengan misteri yang kadang sulit untuk ditebak. Dahulu, aku memutuskan keluar dari rumah karena ku pikir tak akan pernah sanggup mengalahkan Abah yang selalu punya power untuk mengatur hidup seluruh orang yang ada di rumah. Tapi sekarang, melihat Abah seperti ini membuatku menyadari bahwa kehidupan itu Seperti Rida. Kadang di atas, kadang di bawah. Harus banyak-banyak ingat Allah.
Selesai dari RSJ, kami mampir ke rumah makan bebek bakar. Ini tempat favorit bunda sekaligus tempat yang paling diidamkan oleh Yohana. Dahulu, setiap makan di sini, bunda tak pernah mengizinkan Yohana untuk turun. Ia selalu disuruh menunggu di mobil. Suatu waktu, aku dan bang Sigit berinisiatif untuk membawakan sepotong bebek untuknya. Setiap ke sini dan Yohana ikut, kami akan bergantian minta izin ke kamar mandi, tetapi kami menyelinap ke parkiran mengantarkan bebek untuk Yohana. Kalau ia tak ikut kami akan menyisihkan satu potong dalam tas.
"Makanlah yang kenyang, kamu sudah terlalu kurus, jarang makan enak." Kataku pada Yohana. Ia hanya mengangguk. Aku memesankan bebek bakar dan SOP iga untuknya. Ia makan dengan sangat lahap sambil menangis. Mungkin teringat kejadian waktu kecil dulu.
Usai makan, kami mengantar Ami, mbak Lila dan Alif ke rumah. Saat ini mbak Lila memang tinggal di rumah kami agar ia bisa membersamai Alif, sambil menebus waktu yang hilang antara ibu dan anak. Walaupun Yohana amat sangat baik menjaga Alif, namun sebenarnya tetap saja kasih sayang seorang ibu itu tak bisa digantikan.
"Han, sebenarnya ada yang ingin aku tunjukkan padamu." Kataku pada Yohwna sambil memberi isyarat pada Ami agar mempersiapkan kejutannya. Tak berapa lama Ami keluar membawa nampan besar berisi keripik sanjai dengan merek nama Yohana. Melihatnya, mata Yohana langsung berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu tahu Ben, aku semalam bermimpi jualan sanjai dan sekarang kamu mewujudkan mimpi itu. Terimakasih banyak Ben." Reflek ia memelukku, tapi kemudian tersadar lalu secepatnya hendak melepaskan. Tapi tak ku biarkan karena kami sudah halal. Sikapku itu membuat pipi Yohana merona. Sementara Ami dan mbak Lila hanya tersenyum.
"Mulai sekarang ini akan jadi usaha kita, Han. Ami dan mbak Lila akan membantu. Mereka akan menjadi bagian dari sanjai Yohana juga. Iya, kan?" Aku melirik mereka berdua yang langsung mengangguk. Ku ceritakan secara singkat tentang penjualan sanjai yang sudah cukup besar ini. Dua kali sepekan kami harus setoran di tiga tempat oleh-oleh yang ada di Jakarta dan Depok. Penghasilan dari itu sudah bisa mengcover semua kebutuhan kami, juga mulai menabung untuk sekolah Alif nantinya. rencananya kalau kami bisa tembus lebih banyak lagi toko oleh-oleh besar maka kami akan membuka toko sendiri dan tentunya punya tempat produksi yang memadai. "Kamu yang akan menjadi penanggung jawab keuangannya ya Han." Pintaku padanya. Yohana hanya mengangguk setuju.
***
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Yohana, saat mobil mulai melaju, hanya ada kami berdua.
"Menurut kamu, kemana pengantin baru yang baru menikah seharusnya pergi?" Tanyaku pada Yohana. Aku melirik saat wajahnya tersipu malu. Ahhh Han, setiap hari aku hanya ingin melihat kamu tersenyum bahagia, kamu jangan pernah bersedih ya. Sudah cukup penderitaan kamu selama ini, kamu harus tetap bahagia.
***
__ADS_1
Hotel Outon adalah hotel yang dipilihkan oleh Riko dan Reni untuk kami bulan madu selama tiga hari kedepan. Sebenarnya mereka menawarkan untuk liburan ke Bali selama sepekan tapi aku menolak sebab masih banyak urusan yang harus aku selesaikan, ditambah kondisi Abah masih belum jelas. Makanya aku memutuskan untuk liburan di Jakarta saja dan aku rasa Yohana juga tak akan keberatan. Jadi aku bisa berlibur dan sewaktu-waktu jika dibutuhkan aku bisa meluncur kapanpun juga.