Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Reni Datang


__ADS_3

"Sudah cukup Ben, ini terlalu banyak." Yohana menolak ketika aku mengajaknya untuk berbelanja lagi. Ia bahkan meminta agar kami pulang saja. "Sungguh aku sangat senang mendapatkan semua ini, anak-anak juga. Tapi apa yang kamu berikan untuk kami bertiga sudah terlalu banyak. Ben, aku tahu, kamu sudah mengeluarkan banyak uang dan butuh waktu bagi kamu untuk mendapatkannya lagi. Jadi sudah cukup segini saja. Aku sangat berterima kasih." ucap Yohana.


Karena ia tak mau lagi diajak belanja atau jalan, akhirnya kami pulang. Sepanjang jalan aku mengingatkan anak-anak agar menurut pada Yohana. Aku juga berjanji akan mengusahakan agar tahun ajaran baru nanti mereka bisa bersekolah.


Saat ini, sekolah SD sampai SMA itu masih bisa gratis. Apalagi kalau tidak mampu. Hanya harus menyiapkan surat-surat. Yohana baru menyadari itu, makanya ia berjanji akan berusaha mengurusi semuanya kebutuhan Upik dan Puti agar tak semakin terlambat.


Kini Kami sampai di lapangan tempat bertemu. Yohana memang minta diturunkan di sini, aku tak banyak tanya. Yang ada di pikiranku, ia tak ingin suaminya tahu tentang acara jalan-jalan kami ini. Lagipula aku tak peduli itu. Laki-laki itu harusnya bersyukur aku dan Yohana mengajak kedua putrinya. Ini pertama kalinya dalam hidup kedua anak itu jalan-jalan dan belanja pakaian baru. Menyedihkan sekali bukan?


"Terima kasih banyak ya, Ben. Semoga rezeki kamu tambah banyak." Kata Yohana, sebelum kami berpisah.


Aku melambaikan tangan, mengantarkan kepergian mereka bertiga. Setelah Yohana dan kedua anak sambungnya hilang dari pandangan barulah mobil sewaan itu ku antarkan pada pemiliknya. Kini aku hendak kembali ke mes untuk istirahat agar besok saat bekerja badan sudah fresh lagi setelah lelah berjalan-jalan.


Baru setengah perjalanan, Hp milikku berbunyi. Telepon dari Ami. Takut ada kabar penting makanya telepon langsung ku angkat.


[Bang, mbak Reni sudah sampai belum di sana?] tanya Ami.


[Reni? Maksudnya bagaimana? Reni kan di Jakarta?] kataku.


[Enggak bang, mbak Reni sudah berangkat ke sana, penerbangan tadi pagi.]

__ADS_1


[Hah, bagaimana bisa? Mau apa Reni ke sini? Dia kan lagi hamil? Dia ke sini dengan siapa?]


Ami menceritakan padaku tentang kedatangan Reni tadi pagi ke rumah. Ia meminta alamat lengkap tempat aku tinggal dan bekerja saat ini. Katanya ia mau menyusul ke Sumatra. Awalnya bunda mengira Reni hanya iseng-iseng saja mengingat tidak ada hal yang penting untuknya dan pernikahan kami hanyalah sebatas formalitas saja. Tapi ternyata Reni benar-benar berangkat. Barusan ayah dan ibunya datang mencari ke rumah, mengatakan kalau Reni menghilang dari rumah. Saat dikonfirmasi lagi lewat telepon bunda karena telepon kedua orang tuanya diabaikan, ternyata benar, ia sudah di pesawat akan terbang ke Sumatra.


[Tapi kan dia sedang hamil.] kataku. [Lagipula untuk apa ia ke sini? Apa ia ada masalah dengan kedua orang tuanya? Atau dengan siapa saja?] aku mencoba mencari tahu, kenapa tiba-tiba Reni begini. Biasanya ia memilih keluar dari rumah kalau sedang berdebat dengan ayahnya, tapi dari Ami diketahui kalau ayahnya tidak punya masalah apa-apa. Bahkan hubungan mereka baik-baik saja, malahan Reni baru saja selesai menghias kamar bayi bersama. Lalu kenapa ia tiba-tiba mendatangi aku ke Sumatra? [Apa jangan-jangan ada masalah lain yang oent?] kataku.


[Entahlah, Abang cari tahu saja sendiri. Aku cuma bantu ngabarin karena begitu perintah bunda. Abang harus dikabarkan supaya bisa siap-siap mengingat kamar mes Abang kan cuma satu ruangan. Memang mbak Reni mau ditaruh dimana?]


Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Kenapa Reni harus datang tiba-tiba? Padahal aku tak punya persiapan. Meski sudah menikah secara negara, tapi aku dan Reni tetap tak mungkin membaur. Aku jadi bingung sendiri.


Tak berapa lama om Bili menghubungi aku, meminta bantuan agar aku mencari tahu keberadaan Reni. Anak itu benar-benar membuat bingung orang tuanya


[Iya om, akan saya coba mencari tahu keberadaannya.] kataku


[Baik, terimakasih banyak ya Ben. Maafkan kalau kami banyak merepotkan. Oh ya, sebentar lagi akan om kirim sedikit dana, kamu pasti butuh sebab Reni akan membebani kamu.] belum sempat aku menolak, om Bili sudah menutup panggilan. Tak berapa lama di layar Hpku muncul notifikasi dari mobile banking notifikasi transferan sebesar sepuluh juta masuk.


Aku tak tahu harus mengatakan apa, yang jelas sekarang aku melaju pulang ke mes. Minta bantuan pak Zainal agar dicarikan kontrakan yang layak untuk Reni sebab tak mungkin kami tinggal bersama, sementara di sini tak ada hotel karena diperkampungan.


"Waduh, kalau speknya sebagus itu kayaknya bakal susah nyarinya mas. Turun sedikit bagaimana?" tawar pak Zainal.

__ADS_1


"Ya, enggak apa-apa deh pak. Yang penting bisa buat tempat tinggal sementara. Enggak lama kok, paling beberapa hari." Kataku.


Pak Zainal mengangguk-angguk. Awalnya ia menawarkan di mes saja, tapi aku menolak. Mau menjelaskan status kami juga malas. Terlalu panjang lebar dan khawatirnya malah menyinggung musibah yang pernah dialami Reni. Makanya ku putuskan untuk diam saja.


Tiga jam kemudian Reni muncul di hadapanku dengan raut wajah lelah. Ia diantar oleh satpam perusahaan sebab tadi Reni langsung ke perusahaan. Ia kesulitan mencari meski, makanya ke sana agar lebih mudah. Rupanya ia mencarter taksi dari bandara. Aku diam saja, tak banyak bicara karena jujur kesal, untuk apa muncul tiba-tiba? Tadi juga aku tak menghubungi dirinya karena sengaja. Aku sangat yakin ia akan segera menghubungi aku dan benar, dalam beberapa jam ia malah muncul di hadapanku.


"Kamu enggak nanya kenapa aku disini?" Tanyanya.


Aku menggeleng.


"Ben, kamu marah ya? Kamu pasti tidak suka melihat kedatanganku. Padahal aku sangat merindukan kamu."


Aku tetap memilih masa bodo.


"Ben,"


"Eh, ini istrinya mas Beni ya?" tiba-tiba pak Zainal muncul. Ia beramah tamah dengan Reni. Aku diam, srk peduli. Mas, maaf, tempatnya belum ketemu. Tapi pasti akan saya Carikan. Sekarang di sini saja dahulu bagaimana? Toh karyawan lain juga ada yang begitu." Kata pak Zainal.


Aku tak menjawab, berlalu menuju kamar. Pak Zainal mengikuti sambil membawa koper Reni sekaligus diikuti oleh pemilik kopernya. Pak Zainal pamit pergi setelah mengangkat satu koper Reni. Ia pergi sambil senyum-senyum sebab mendapatkan lembaran ratusan ribu.

__ADS_1


"Lihat kan, kamarku sangat kecil. Kamu mau nginap dimana? Disini juga susah mencari penginapan." Kataku, agak kesal. Keputusan Reni yang sembrono ini menurutku sangat menyusahkan. Ia tahu status kami, tak boleh untuk bersama-sama, apalagi saat ini ia sedang hamil.


__ADS_2