Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Yohana: Pergilah Ben!


__ADS_3

"Ben, pergilah sekarang juga. Jangan mencariku lagi karena aku nggak akan pulang ke Depok lagi. Aku berterima kasih sekali kamu sudah mencariku ke sini, tapi aku enggak bisa kembali. Maafkan aku Ben karena Sudan mengkhianati janji yang kita buat." Kata Yohana, saat mobil carteran berjalan meninggalkan rumah orang tua angkatnya. Tapi aku tak peduli, bahkan menekankan pada Yohana bahwa aku tak akan pergi jika tak bersama dengannya. "Ben, jangan sampai ada masalah baru. Aku sudah teramat lelah. Apa kamu nggak kasihan denganku, Ben?" Tanya Yohana lagi.


"Han, karena aku tahu kebahagiaan kamu hanya denganku, makanya aku nggak akan meninggalkan kamu sebelum kamu ikut denganku. Sampai kapanpun aku akan tetap di sini!" Aku menegaskan. "Lagipula aku penasaran, pria seperti apa yang telah berani-beraninya merebut kamu dariku?"


"Dia pria yang baik, Ben."


"Baik saja tidak cukup!"


"Dia ...."


"Apa kamu mencintainya?" Aku menatap tajam, tapi Yohana tak berani menjawab sehingga membuatku makin yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. "Kamu tak akan bisa mencintai orang lain seperti kamu mencintai aku. Begitu juga dengan aku. Aku nggak bisa berpaling dari kamu, Han!" Kataku. "Sudahi semua ini, Han. Mengakulah kalau kamu pun sama seperti aku, hanya ingin menikah denganku. Apapun yang kamu sembunyikan saat ini, cepat atau lambat aku pasti akan tahu semuanya nantinya. Jadi sekarang, aku akan mengikuti permainan yang kamu buat dengan sabar. Berhari-hari aku mencari kamu, Han. Hanya untuk merasakan hari ini, aku tak akan menyia-nyiakannya!"


"Ben sudahlah! Aku tak mau. Berhenti. Aku ingin kembali ke rumah orang tua amgkatku!" Kata Yohana, ia terlihat kesal, tapi aku tak peduli. Mobil terus melaju menuju penginapan.


Sampai di penginapan, Yohana langsung kabur. Ia bahkan tak mau mendengarkan kata-kataku. Tapi aku tetap tak akan pergi meski apapun yang terjadi kecuali bersama Yohana!

__ADS_1


***


Sudah tiga hari aku disini. Sebenarnya aku sudah tak tahan ingin segera kembali, tapi Yohana masih saja bersikeras bahwa iabtetap tak mau ikut. Ia masih berusaha meyakinkan aku bahwa di sini dan menikah dengan anak orang tua angkatnya adalah pilihan hidupnya, tapi aku tak peduli. Semakin ia bersikeras maka akupun sama sepertinya, tak akan mau mengalah. Yohana lagi-lagi kesal, ia kembali pergi sambil marah-marah.


Reni dan Riko menawarkan bantuan tetapi aku merasa belum membutuhkan, makanya ku abaikan. Sementara Ami sudah mulai mengeluh sebab Abah sudah terlalu sering mengamuk. Ia bahkan menelepon sambil menangis karena sekarang mbak Lila terpaksa pergi bersama Alif sebab sikap Abah sudah benar-benar membahayakan Alif. Mengamuk sambil melempari siapapun dengan barang pecah belah.


[Pulanglah baju, aku benar-benar sudah gak sanggup. Aku takut menghadapi Abah juga tetangga yang terus mendesak agar Abah dimasukkan ke rumah sakit jiwa saja. Bahkan ada yang mengancam melaporkan ke kantor polisi!] Kata Ami sambil menangis.


Aku tak tahu harus mengatakan apa. Sedih dan ingin segera kembali, sebab kasihan pada Ami. Namun tak ingin meninggalkan tempat ini sebelum Yohana ikut.


[Abang benar-benar nggak peduli padaku. Abang hanya memikirkan kak Yohana saja. Abang nggak tahu bagaimana takutnya aku. Selama Abang pergi aku sampai nggak bisa memejamkan mata. Takut kalau tiba-tiba Abah mengamuk atau bahkan membunuhku!] Kata Ami sambil mengisi, sedangkan aku langsung istighfar. [Terserahlah, tunggu saja kak Yohana sampai kiamat. Aku tak peduli lagi. Kalau ada apa-apa denganku Abang jangan menyesal. Kalau orang-orang menangkap Abah dan memasukkan ke rumah sakit jiwa, Abang juga jangan salahkan aku. Aku sudah melakukan yang terbaik semampuku, tapi aku hanya anak perempuan!] Kata Ami, lalu ia menutup teleponnya. Saat ku hubungi kembali, Ami tak mengangkat, ia bahkan memblokir nomorku. Ya Allah ....


Aku bisa memahami kemarahan Ami. Ia memang awalnya setuju kalau aku mencari Yohana, tapi dalam kondisi sepertinya, yang tiap saat ketakutan namun tak punya teman siapa-siapa memang membuat kita jadi panik. Apapun yang dikatakannya biasanya tak benar-benar dalam hati. Meski begitu aku terus berpikir bagaimana caranya untuk membantu Ami.


Aku memilih Genta dan Puji untuk menemani Ami. Genta tak masalah. Ia bahkan siap menginap di rumahku, ia akan berjaga bersama mas Yanuar di ruang tamu kalau-kalau Abah kembali mengamuk. Mendapati bantuan dari mereka benar-benar membuatku berterima kasih.

__ADS_1


Tapi tak lama Genta kembali menelepon, ia mengusulkan agar Abah dimasukkan saja ke rumah sakit jiwa karena memang kondisi abah sangat mengkhawatirkan. Rupanya di dalam kamar Abah juga sudah melukai dirinya hingga berdarah-darah. Ia berhalusinasi sedang menghadapi setan dalam tubuhnya.


[Apa tak bisa dibawa ke rumah sakit umum saja?] Tanyaku. Aku tak ingin melihat Abah di rumah sakit jiwa, entah kenapa aku tak ikhlas jika orang tuaku pada akhirnya menjadi orang gila. Namun kata Genta yang meyakini terbaik untuk Abah, sebab Abah juga butuh penanganan dari profesional. [Baiklah kalau begitu. Tolong bantu bawa Abah ke RSJ. Setelah dari sini aku akan segera menengok Abah.] Kataku.


Malam itu juga Abah dibawa ke RSJ. Ami juga sudah membuka blokiran nomorku. Ia bahkan sudah kembali berkomunikasi dengan baik. Malam ini Ami tidur di rumah Reni, ia akan disana sampai aku kembali.


***


Aku harus bergerak cepat, membawa Yohana pergi dari sini sebab kondisi di Depok sudah cukup kacau. Sebenarnya aku bisa saja memaksanya dengan menculik Yohana. Toh aku sangat yakin ia tak akan tega melaporkan aku ke kantor polisi, namun aku tak bisa menggunakan cara bar-bar tersebut sebab ia sudah dilamar orang. Harus ada alasan kuat untuk membatalkan lamaran tersebut.


Sedang memikirkan jalan keluar, tiba-tiba dari arah pelabuhan, aku melihat seseorang yang tak asing. Bandaro, Abang tiri Yohana. Ia ada disini? Aku mengernyitkan kening, berpikir cepat. Ada apa ini? Bukankah laki-laki itu mengaku tak tahu kemana Yohana pergi? Berarti ia membohongiku! Aku benar-benar geram, kalau saja tak ingat pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan, mungkin aku sudah menerkamnya dan memukuli lelaki itu sampai mati lalu ku ceburkan ke laut.


Sambil mengendap-endap, aku mengikutinya. Ia berjalan dengan penuh semangat, tampak riang sambil bersiul -siul. sesekali kakinya menendang kerikil di jalanan.


"Aku akan kaya ... hidupku akan bahagia ... aku akan punya banyak uang!" Abang tirinya Yohana bersenandung.

__ADS_1


__ADS_2