
Aku telah siap menuju ruang akad, stelan jas hitam sudah melekat di badan. Kata Ami, ketampananku bertambah tiga kali lipat. Apalagi kalau nanti benar-benar bisa menikah dengan Yohana. Mendengar celotehnya itu aku hanya bisa tersenyum tipis, sementara bunda menunduk.
"Sudah, ayo kita ke luar." kataku, setelah yakin semuanya siap karena kalau terlalu lama takutnya kami akan larut dalam bayangan Yohana. Ia sudah menjadi istri orang, aku harap ia bahagia. Nanti, akan ada waktunya aku mencarinya, untuk meyakinkan bahwa ia bahagia.
Kami berempat; aku, bunda, Ami dan Alif yang digendong adikku berjalan keluar dari kamar tamu yang disiapkan oleh keluarga Reni.
Di sana sudah menunggu beberapa orang kerabat dekat keluarga Reni, ada juga Riko. Saat melihatku, ia langsung menghambur dalam pelukan. Menangis sejadi-jadinya sehingga membuat kami bingung.
"Hei, kenapa Ko. Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyaku.
"Aku terharu. Kamu benar-benar teman yang baik, Ben. Kamu jauh lebih luar biasa ketimbang apa yang aku bayangkan. Kamu rela melakukan ini semua demi Reni. Sementara aku nggak bisa lakukan apapun untuknya." Riko menundukkan kepalanya.
"Hei, siapa bilang kamu enggak ngelakuin apa-apa? Kamu itu udah teman yang paling baik. Sejak awal sampai sekarang kamu nggak pernah ninggalin Reni, bahkan siaga di sampingnya. Apa yang aku lakukan nggak ada apa-apanya sama kamu Ko. Pokoknya, kedepannya kita berdua akan selalu melindungi Reni!" kataku
"Yap Ben, kita berdua akan menjaga Reni dan anaknya pastinya!" tambah Riko.
Ia membimbingku menuju meja tempat diucap ijab kabul. Sebenarnya Riko sangat ingin menikahi Reni karena ia mencintainya, namun karena kondisi Reni, keluarga besar Riko menentang keinginannya tersebut dan Riko tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
Baru saja akad selesai, saat hendak menikmati hidangan yang disajikan untuk tamu yang datang, tiba-tiba Hp ku berdering. Beberapa panggilan dari Abah. Aku sengaja memilih mengabaikan karena berbicara dengannya hanya akan merusak mood ku saja. Makanya aku kembali lanjut menuju meja makan besar berisi berbagai jenis panganan, baik makanan besar ataupun kecil.
"Ben, Abah nelfon, sepertinya Abah sudah membaca surat dari pengadilan." kata Bunda yang datang berbisik di sampingku sebab tak mau ada yang mendengar.
__ADS_1
"Biarkan saja Bun, biar Abah colling down dulu. Nanti kalau acaranya sudah selesai, kita pulang sama-sama untuk menjelaskan semuanya sekaligus pamit secara resmi pada Abah." kataku, lalu beranjak menuju kursi, berbaur bersama keluarga Reni.
Meski keluarga besar Reni notabene adalah dokter semuanya, namun mereka punya selera humor yang tinggi. Tak ada yang kaku, bahkan sangat friendly, tak jauh beda dengan Reni.
"Terimakasih ya Ben, kamu sudah membantuku keluar dari masalah ini. Kamu menyelamatkan aku dan calon anakku." kata Reni.
"Kamu bicara apa sih Ren, seperti sama orang lain saja. Sekarang ini aku suami kamu lho." kataku, mencandai Reni, ia ikut tertawa.
Melihat Reni dalam balutan kebaya putih dengan kerudung senada dihiasi Swarovski membuatku teringat akan Yohana , dahulu, ketika ia menjadi pengantin bang Sigit, ia pun begitu. Sangat cantik sekali. Tapi karena aku kesal padanya saat itu makanya enggan memandangnya lama-lama.
***
Acara syukuran telah selesai, seluruh tamu sudah pulang, tinggal keluargaku dan keluarga inti Reni yang kini berada di ruang tamu rumah mewah mereka.
Mendengar ia menyebut anak Reni dengan calon cucunya membuatku lega sebab akhirnya orang tua Reni bisa menerima anak yang dikandung Reni.
"Ini," om Bili menyerahkan sesuatu. Sebuah kunci mobil lengkap dengan surat-suratnya. "Ini memang tak seberapa dengan apa yang nak Ben lakukan, tapi kami harap bisa menjadi hadiah sekaligus ucapan terimakasih."
"Tak perlu om, saya melakukannya dengan senang hati. Saya harap kedepannya segala hal yang kita takuti tak pernah terjadi dan Reni bisa melanjutkan kembali kehidupannya." kataku.
"Ben, terima saja. Kamu butuh itu untuk pengganti motor kamu yang sudah tua." kata Reni.
__ADS_1
"Tak perlu Ren, motor itu, meski sudah tua tapi masih bagus. Aku membelinya dengan kerja keras, akan ku pakai sampai aku mampu membeli yang baru sebagai penggantinya." kataku.
"Om benar-benar salut sama kamu Ben. Beruntung sekali laki-laki yang jadi suami kamu nantinya." kata om Bili, membuatku terkekeh. Siapalah aku, hanya mahasiswa semester akhir yang tak lulus-lulus. Belum ada yang bisa dibanggakan dariku.
***
"Akhirnya kalian pulang juga!" teriak Abah dari dalam rumah saat melihat aku, bunda, Ami dan Alif masuk ke halaman rumah. Kami sengaja memilih naik taksi dan turun di depan gang untuk mempersiapkan mental sekaligus tak mau mempertontonkan bagaimana Abah di hadapan supir taksi yang meski tak mengenal keluarga kami tapi tetap saja akan menyisakan rasa malu untuk kami. "Darimana saja kalian hah? Femi, berani sekali kamu menggugat cerai aku dan sekarang kamu keluar rumah tanpa seizin aku. Perempuan tak punya adab!"
Abah hendak melayangkan tamparan di pipi bunda, tapi dengan sigap aku langsung menangkap tangan Abah yang sudah keriput namun tenaganya tetap kuat.
"Anak kurang ajar. Lepaskan aku!" kata Abah, sambil mengibaskan tangannya. Tapi aku masih menahan.
"Abah jangan lagi sekali-kali berusaha menampar atau kasar pada Bunda sebab mulai sekarang Ben tak akan mengizinkan Abah menyakiti bunda." kataku.
"Durhaka kamu, Ben. Masuk neraka kamu. Abah nggak akan memaafkan kamu supaya kamu kekal di neraka!" kata Abah.
"Astagfirullah, Abah jangan sembarangan. Ben itu anak kamu. Orang tua seperti apa yang begitu tega bicara seperti itu pada anaknya. Harusnya, kalau anaknya salah dinasehati, bukannya di sumpahi. Abah sungguh tega!" kata Bunda. "Sejak kemarin saya masih berpikir untuk berdamai saja, mencoba tetap bersabar menghadapi sikap kamu yang tak kunjung berubah. Kamu tetap egois dan jadi diktator. Ditambah apa yang kamu lakukan pada Ben barusan sudah sangat keterlaluan. Aku tak akan mau lagi mempertahankan rumah tangga ini, lebih baik hidup bersama anak-anak saja." kata Bunda. "Ayo Ben, Ami ... Bereskan barang-barang kalian lalu kita pergi dari sini." kata Bunda.
Aku dan Ami menurut. Kami masuk ke kamar masing-masing untuk mengambil koper yang memang sudah kami persiapkan. Lalu keluar kembali. Abah masih berdiri mematung di tempat semula.
"Kami pergi, bah." kataku. Pamit pada Abah meski Abah diam mematung.
__ADS_1
Baru saja kami sampai di depan pintu rumah, tiba-tiba terdengar suara tangisan Abah. Tangisan yang makin lama makin kencang, seperti anak kecil yang kehilangn mainannya.