Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Hinaan Reni


__ADS_3

"Ben, maukah kamu memberinya nama." tanya Reni padaku.


"Hmm, beneran aku yang memberi nama? Apa tidak tunggu orang tua kamu dulu? Siapa mereka sudah menyiapkan nama untuk Boo." kataku.


"Tidak, kamu saja yang memberi nama."


"Baiklah." aku berpikir sejenak. Bagaimana kalau Bre Eiwa?" tanyaku. Mataku berkaca-kaca sambil menimang Bre, anak ini benar-benar berkat. Anak tak berdosa. Yang harus dijaga dengan baik agar kelak ia menjadi cahaya mata untuk ibunya.


"Terimakasih banyak ya Ben, sudah memberi nama Bre untuk Boo dan sudah mau menjadi ayahnya juga." kata Reni lagi. Ia juga merasakan keharuan yang sama denganku.


Setelah ini, ku harap Bre bisa menjadi sumber kebahagiaan untuk Reni dan ibunya benar-bemar mencintai anaknya dengan sepenuh jiwanya.


Aku masih asik menimang Bre ketika pintu kamar tempat Reni dirawat di ketuk. Kami mengira perawat, ternyata Yohana, ia datang membawakan dua bungkusan besar.


"Maaf kalau saya mengganggu," Yohana nampak sungkan. "Mbak Reni, selamat ya atas kelahiran putra pertamanya, semoga ...." belum selesai Yohana bicara, Reni sudah memotong.


"Ya." kata Reni.


"Ini, saya bawakan sedikit hadiah ...." Yohana hendak menyodorkan bungkusan yang ia bawa, tapi Reni mengalihkan pembicaraan.


"Ben, itu baju Bre dapat dari mana? Kan aku belum beli " kata Reni.

__ADS_1


"Itu dari Yohana," kataku


"Iya, ini saya bawakan tambahannya untuk ganti. Saya bawa Pampers dan ...." lagi-lagi Yohana tak bisa menyelesaikan perkataannya karena Reni memotong lagi.


"Apa? Jadi ini bukan kamu yang beliin Ben? Tunggu dulu," Reni memberi isyarat agar aku membawa Bre mendekat. "Ini bukan baju baru ya? Ini baju bekas? Baju biasa yang nggak bermerek? Iya?" Reni tiba-tiba histeris.


"Kenapa sih Ren?" aku menatapnya bingung. Kenapa ia jadi sehisteris ini, padahal Yohana sudah membantu. Di tempat seperti ini bagaimana mau mendapat baju baru, apalagi bermerek malam hari?


"Ben, kenapa kamu ngebiarin dia ngasih baju seperti itu untuk Bre? Apa maksudnya? Apa kalian mengira aku nggak mampu membelikan Bre pakaian sehingga kalian menganggap anakku serendah itu? Ben, aku nggak terima diperlakukan seperti itu. Dan untuk kamu ... mbak Yohana, jangan memberi pakaian atau apapun untuk anak saya sebab saya tak mau menerima barang bekas atau murahan seperti apa yang anda bawakan. Sekarang juga, ambil kembali semua barang-barang yang anda bawa. Jangan berani-berani memberikan itu semua untuk anak saya. Enggak level!" teriak Reni


"Astagfirullah, Ren, kamu kenapa sih, kenapa harus bicara seperti itu. Asal kamu tahu, Yohana nggak bermaksud buruk sama sekali. Dia hanya ingin membantu. Paham nggak?" kataku, tak kalah tegas. "Kalau kamu nggak mau menerima barang-barang pemberiannya ya nggak apa-apa. Akan kami bawa pergi, tapi enggak perlu juga kamu menghina seperti itu. Kamu yang datang ke sini dengan tangan kosong, Yohana hanya ingin membantu. Semalam tak ada toko yang buka, lalu mau cari dimana. Dari pada anakmu nggak pakai baju, makanya dia menggunakan yang ada. Yohana mengetuk semua pintu rumah tetangganya untuk mendapatkan ini semua tapi begitu tanggapan kamu. Harusnya berterima kasih." aku benar-benar kesal. "Han, sekarang bantu aku untuk melepaskan baju bayi ini, biarkan saja, terserah ibunya. Biarkan ia memakaikan pakaian bermerek yang mahal-mahal untuk anaknya yang entah dari mana didapatkan!" aku memberi isyarat agar Yohana membantu melepas bajunya Bre. Tentu saja aku tak sungguh -sungguh, hanya ingin menggertak Reni saja.


"Ben, kasihan adik bayinya. Nanti kalau bajunya dilepas malah kedinginan." kata Yohana.


"Sudah Ben," Yohana mencoba menenangkan. "Maaf mbak Reni kalau saya lancang. Saya benar-benar nggak bermaksud merendahkan mbak Reni, tapi karena keterbatasan saya " kata Yohana lagi. "Kalau mbak Reni keberatan dengan pakaian ini, nanti akan saya bawa lagi kalau adik bayi sudah mendapatkan pakaian gantinya."


Untuk sejenak kami sama-sama hening. Aku yang sudah terlanjur terpancing emosi akhirnya memutuskan keluar kamar sambil membawa Bre untuk berjemur pagi. Sementara Yohana akan membantu Reni untuk mandi. Reni memang sudah memesankan agar ada yang membantunya bebersih dan satu-satunya yang bisa membantu hanyalah Yohana.


***


Tangis Bre akhirnya pecah juga. Aku sudah berusaha untuk menenangkan tapi ia tidak mau. Kata bidan dan perawat yang lalu-lalang Bre kemungkinan haus, makanya aku membawanya kembali ke kamar agar mendapatkan ASI.

__ADS_1


Yohana lagi-lagi membantu Reni untuk memberikan asi pada Bre sebab Reni belum punya pengalaman. Ia yang kebingungan akhirnya bisa juga melaksanakan tugasnya sebagai ibu berkat bantuan Yohana.


Saat seperti itu aku benar-benar menyesali sikap Reni. Ia sudah sangat berhutang budi kepada Yohana. Apalagi Yohana tidak mau dibayar. Ia melakukannya dengan sukarela. Aku sangat takjub dengan sikap Yohana tersebut. Meski dihina seperti apapun hatinya tetap baik.


"Ben, aku harus kembali ke mes dulu Untuk menyelesaikan pekerjaannku. Nanti jam sepuluhan aku akan kembali ke sini lagi, barangkali ada yang bisa aku bantu." kata Yohana.


"Han," aku sengaja menahannya.


"Ya?"


"Maafkan Reni ya. Jangan diambil hati perkataannya. Aku nggak mau hati kamu terluka."


Yohana tersenyum.


"Kamu sudah banyak membantu, bahkan mencucikan pakaiannya. Maafkan Reni ya. Harusnya ia berterima kasih padamu."


"Ben, aku paham kok. Mbak Reni itu orang baik. Ia baru saja lahiran, ia pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Wajar kalau ibu baru apalagi baru lahiran tersinggung kalau anaknya mendapatkan bukan yang terbaik. Enggak apa-apa kok. Aku nggak marah. Justru ini pelajaran untukku agar tidak lancang. Sekarang aku pergi dulu ya Ben, takut terlambat, nanti malah potong gaji." katanya, sambil melambaikan tangan.


***


Aku masih di sini menunggui Reni. Selama tiga hari kedepan aku memang mendapat libur karena yang perusahaan tahu istriku baru melahirkan.

__ADS_1


Kami tak banyak bicara sebab aku masih kesal pada Reni yang tak bisa menghargai Yohana. Bahkan tadi aku sempat mendengarnya menghardik Yohana. Kalau saja bukan karena bujukan Yohana, sudah ku suruh ia untuk tidak datang lagi ke sini agar Reni tahu rasa. Tak akan ada yang membantunya kecuali Yohana. Tapi Yohana mengingatkan aku tentang Bre. Bagaimanapun Bre saat ini butuh ibu yang bahagia agar bisa merawat dan memberinya asi. Jadi orang -orang di sekitar Reni harus banyak mengalah demi kebaikan bayinya. Mengingat itu makanya aku pun bersabar. Berusaha tetap ada agar Reni tak kena baby blues yang berdampak pada Bre juga nantinya.


__ADS_2